Rabu, 01 Oktober 2014

emanasi

I. Biografi Al-Farabi Nama lengkapnya, Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Turkhan ibn Auzlagh. Dikalanngan orang-orang latin Abad Tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr (abu Naser). Ia lahir di di Wasij, distrik Farab (sekarang dikenal dengan kota Atrar), Turkistan, pada 257H (870M). ayahnya seorang jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya berkebangsaan Turki. Pada waktu mudanya Al-Farabi pernah belajar Bahasa dan sastra Arab di Baghdad kepada Abu Bakar As-saraj, dan logika serta filsafat kepada Abu Bisyr Mattitus ibn Yunus, seorang Kristen Nestorian yang banyak menerjemahkan filsafat Yunani, dan juga belajar kepada Yuhana ibn Hallam. Kemudian ia pindah ke Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil, dan berguru kepada Yuhana ibn jihad. Tidak beberapa lama, ia kembali ke Baghdad untuk memperdalam Filsafat. Ia menetap dikota ini selama 20 tahun. Di Baghdad ini, ia menulis dan membuat ulasan terhadap buku-buku filsafat Yunani dn mengajarkanya kepada murid-muridnya. Diantara muridnya yang terkenal adalah Yahya ibn Adi, filsuf Kristen. Pada Tahun 330 H (945 M) ia pindah ke Damaskus, dan berkenalan dengan Sa’if Ad-Daulah Al-Hamdani, sulta dinasti Hamdan di Aleppo. Sultan memberinya kedudukan diistana sebagai seorang ulama dengan tunjangan yang besar sekali, tetapi Al-Farabi lebih memilih hidup sederhana (zuhud dan tidak tertarik dengan kemewahan dan kekayaan). Ia hanya emerlukan 4 dirham sehari, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal yng enggwmbirakan Al-Farabi ditempat ini adalah bertemu dengan para sastrawan, penyair, ahli bahasa, ahli Fiqh, dan kaum cendekiawan lainnya. Konon, kegemarannya mebaca dan menulis sering dilakukannya dibawah sinar lampu penjaga malam. Adapun sisa tunjangannya dibagi-bagikan kepada fakir-miskin dan amal social di Aleppo dan Damaskus. Kurang leih Al-Farabi hidup di dua kota itu secara berpindah-pindah. Akan tetapi, hubungan penguasa kedua kota ini semakin memburuksehingga Sa’if Ad-Daulah menyerbu kota Damaskusyang kemudian dikuasai. Dalam penyerbuan ini, Al-Farabi diikut sertakan. Pada bulan Desember 950 M, Al-Farabi meninggal di Damaskus dalam usia 80 tahun. Al-Farabi yang dikenal sebagai seorang filosof islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara sempurna. Itulah sebabnya, filsuf yang sudah dating sesudahnya, seperti ibn sina dan ibn Rusyd banyak mengmbil dan mengupas system filsafatnya. Pandangannya mengenai filsafat, terbukti dengan usahanya untuk mengakhiri kontradiksi anntara pemikiran plato dengan aristoteles lewat risalahnya AL-Jamu’ baina Ra’yay al-hakimain Aflathun wa Arishtu. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ibnu sina telah membaca 40 kali buku metafisika karangan Aristotles, bahkan hamper seluruh buku itu dihafalnya, tetapi belum difahaminya. Barulah ibn sina memahami Gharadh Aristhu fi kitab ma ba’da Ath-Thabi’ah yang menjelaskan tujuan dan maksud metafisika Aristoteles. Pengetahuannya yang mendaam mengenai filsafat Yunani, terutama plato dan Aristoteles. Ia dijuluki Al-Mu’allim Ats-Tsani (guru kedua) sedangkan Al-Mu’allim Al-Awwal adalah Aristoteles. II. Karya-karyanya Banyak karangan yang ditinggalkan oleh Al-Farabi, tetapi karyanya tersebut tidak banyak dikenal seperti karangan-karangan ibn Sina. Boleh jadi, karena karya-karyanya hanya serupa risalah (karangan pendek), dan sedikit sekali yang berupa buku besar yang mendalam pembicaraanya, kebanyakakan karangannya telah hilang dan yang masih ada kurang lebih 30 buah yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian besar karya Al-Farabi dipusatkan pada studi tentang logika. Tetapi hal ini hanya terbatas pada penulisan kerangka Organom, dalam versi yang dikenal oleh para sejarah Arab pada saat itu. Al-Farabi menyatakan bahwa: ‘seni logika umumnya memberikan aturan-aturan yang bila diikuti dapat memberikan pemikiran yang besar dan mengarahkan manusia secara langsung kepada kebenaran dan menjauhkan dari kesalahan-kesalahan’. Menurrutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagaimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmu mantra dengan syair. Ia menekankan praktek dan penggunaan aspek logika, dengan menunjukkan bahwa pemahaman dapat diuji lewat aturan-aturannya, sebagaimana dimensi, volume, dan massa ditentukan oleh ukuran. Karya Al-Farabi al-Ibanah 'an Ghardh Aristhu fi Kitab Ma Ba'da al-Thabi'ah (Penjelasan Maksud Pemikiran Aristoteles tentang Metafisika) membantu filsuf sesudahnya memahami pemikiran filsafat Yunani---Konon Ibnu Sina (filsuf besar sesudah Al-Farabi) membaca 40 kali buku metafisika Aristoteles, bahkan menghapalnya, tapi diakui belum juga mengerti baru setelah membaca kitab karya Al -Farabi yang khusus menjelaskan maksud dari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku mulai paham pemikiran metafisik Aristoteles. Al-Farabi juga menghasilkan karya terkenal Ara` Ahl al-Madinah al-Fadhilah (Model Kota Idaman) tentang negara ideal bagi Muslim; mampu menyediakan kebutuhan warganya, membantu warga menjalankan ajaran agama dengan baik, pemimpin ideal bagi negara Muslim adalah raja yang memiliki pengetahuan tentang filsafat dengan kata lain, seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan tinggi, menguasai sains, filsafat, dan ilmu agama. Selain dikenal sebagai seorang filsuf, Al-Farabi juga dikenal sebagai pakar musik. Dialah penemu not musik. Temuan ini ia tulis dalam kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik) membahas ilmu dasar musik rujukan perkembangan musik klasik Barat. Dalam karya fenomenal itu, Al-Farabi menulis bahwa musik dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman. Musik mampu mempengaruhi moral, mengendalikan emosi, mengembangkan spiritualitas, dan menyembuhkan penyakit seperti gangguan psikosomatik karena itu musik bisa menjadi alat terapi sebab, musik sesuatu yang muncul dari tabiat manusia dalam menangkap suara indah yang ada di sekelilingnya. Al-Farabi juga piawai memainkan sejumlah alat musik. Ketika memainkan alat musik, ia mampu membuat pendengarnya tertawa, bersedih, bahkan tertidur. Kemampuan ini pernah ia tunjukkan di depan penguasa Syria, Safy ad-Daulah, saat diundang ke istana menyaksikan pertunjukkan musik yang dimainkan oleh para musisi istana. Di mata Al-Farabi, para musisi istana melakukan kesalahan sehingga alunan musik kurang terdengar indah. Al-Farabi lalu meminta izin kepada amir (penguasa) Syria untuk memainkan alat musik. Saat Al-Farabi memainkannya, para hadirin tiba-tiba tertawa. Lalu Al-Farabi segera mengubah komposisi musiknya sehingga membuat hadirin menangis. Ia kemudian mengubah komposisinya lagi sehingga membuat hadirin tertidur. Al-Farabi meninggalkan banyak karya tulis, yang secara garis besar bisa dikelompokkan dalam bebrapa tema, seperti logika, fisika, metafisika, politik, astrologi, music, dan beberapa tulisan yang berisi tentang sanggahan pandangan filosof tertentu. Karya-karya Al-Farabi diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Risalah Shudira Biha al Kitab (Risalah yang dengannya Kitab Berawal 2. Risalah fi Jawab Masa’il Su’ila ‘Anha (Risalah tentang Jawaban atas Pertanyaan yang Diajukan tentang-Nya) 3. Syarh Kitab al Sama’ al Tabi’I li Aristutalis (Komentar atas Fisika Aristoteles) 4. Syarh Kitab al Sama’ wa al ‘Alam li Aristutalis (Bahasan atas Kitab Aristoteles tentang Langit dan Alam Raya). 5. Al-Jami’u Baina Ra’yai Hakimain Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (Pertemuan/Penggabungan Pendapat antara Plato dan Aristoteles). 6. Tahsilu as Sa’adah (Mencari Kebahagiaan). 7. Fushus al Hikam (Permata Kebijaksanaan) 8. Fususu al Taram (Hakikat Kebenaran) 9. Kitab fi al Wahid wa al Wahdah (Kitab tentang Yang Satu dan Yang maha Esa) 10. As Syiyasyah (Ilmu Politik) 11. Kitab al Millat al Fadlilah (Kitab tentang Komunitas Utama) 12. Ihsho’u Al Ulum (Kumpulan Berbagai Ilmu) 13. Arroo’u Ahl al-Madinah Al-Fadilah (Pemikiran-Pemikiran Utama Pemerintahan) Dalam buku terakhir ini Al-Farabi membicarakan macam-macam ilmu (bagian-bagiannya, yaitu ilmu-ilmu bahasa [ilm al-lisan] ilu mantik, ilmu Matematika [at-ta-alim] ilmu fisika [al-ilm ath-thbi’i] ilmu ketuhanan [al-ilm al-ilahi] ilmu perkotaan [politik:al-ilm al-madani] ilmu fiqh [ilm al-fiqh] dan ilmu kalam. Tampaknya ilmu-ilmu tersebut telah dikemukakan oleh orang-orang sebelumnya. Hnaya saja, Al-Farabi menambahkan dua cabang ilmu lagi, yaitu ilmu fiqh dan ilmu kalam. Sebagian ilmu-ilmu keislaman yang mendapat perhatian penuh pada masanya. III. Al-Mu’allim Ats-Tsani Al-Farabi adalah seorang filosof tulen yang lebih banyak membahas tentang filsafat Aristoteles, jika Aristoteles digelari dengan sebutan “Guru pertama” (al-Muallim al-Awwal) karena dia merumuskan dan mengumpulkan kajian-kajian pertama dalam ilmu logika dan permasalahannya, maka al-Farabi digelar dengan sebutan “Guru kedua” (al-Mu’allim at-Tsani) karena dialah yang mengarang, mengumpulkan dan menyempurnakan karangan-karangan Aristoteles sehingga lebih jelas dan teratur. Al-Farabi memilki peranan penting dalam dunia Islam, dia menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan filosof-filosof Islam lainnya yang datang sesudahnya. Disamping itu dia juga telah dapat menciptakan satu sistem filsafat yang lengkap. Dia lebih baik dari al-Kindi dalam memberi penjelasan, menerjemahkan dan menyusun kembali kitab-kitab filsafat Yunani, bahkan al-Farabi mengisi kelemahan al-Kindi dalam ilmu logika. Filsafat al-Farabi merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran Syi’ah Imamiah. Dalam soal mantiq dan filsafat misalnya, Farabi mengikuti Aristoteles, dalam soal politik dan etika dia memilih pendapat Plato, sedang dalam persoalan metafisika Farabi cenderung kepada Plotinus. a. Filsafat Kenabian Filsafat kenabian Al-Farabi erat keitannya antara Nabi dan filosof dalm kesanggupannya mengadakan komunikasi dengan akal fa’al(Jibril). Mofiv yang menyebabkan lahirnya filsafat Al-Farabi ini desebabkan adangya pengikkaran terhadap eksitensi kenabian oleh Ahmad ibn Ishaq Al-Ruwandi dan Abu Bakar Al-Razi. Ibn Al-Rawandi dalam bukunya Az-Zamarudah menjelaskan pengingkaran kenabian pad umumnya dan Nabi Muhammad pd Khususnya, dia mengatakan bahwa Nabi tidak diperlukan manusia, karena tuhan telah memberikan akal pada manusia agar dapat membedakan baik dan buruk dan petunjuk akal semata sudah mencukupi. Al-Razi juga tidak kalah bahayanya, karena ia menulis dua buku, yaitu “mukhariq ul anbiya’ au hijal Al-mutanabbiin” dan “naqli adDyan au fi an Nubuwwah”. Dalam suasana yang demikian, Al-Farabi merasa terpanggil unutk menawab tantangan tersebut, apalagi segenerasi dengan Ibn Al-Ruwandi dan Al-Razi. Karena kenabian adalah asas sentral agama, Al-Farabi adalah filosof muslim pertama yang mengemukakan filsafat kenabian secara lengkap. Menurut Al-Farabi, manusia dapat berhunungan degan akal fa’al(jibril) dengan melalui dua cara yakni: penalaran (pemikiran)dan imajinasi (ilham). Cara penalaranhanya dapat dilakukan oleh para filosof yang dapat menembus alam materi dan cahaya ketuhanan, sedangkan cara ilham hanya dapat dilakukan oleh Nabi. Ilham kenabiana ada kalanya terjadi waktu tidur dan waktu bangun, dengan kata lain, dalam bentuk impian yang benar atas wahyu. Menurut Al-Farabi, bila kekuatan imajinasi seorang kuat ia dapat berhunungan dengan akal fa’al. apabila kekuatan imajinasinya telah mencapai taraf kesempurnaan, tidak ada halanyan baginya menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu melalui akal fa’al. Sampai disini terkesan bahwa kenabian telah menjadi suatu hal yang dapat diusahakan, akan tetapi tidak demikian hal ini disebabkan nabi adalah orang pilihan Allah. Seorang Nabi dianugrahi akal yang mempunyai daya tangkap yang luar biasa sehingga dapat berkomunikasi dengan akal fa’al. akal ini mempunyai kekuatan suci (hads). Sementara seorang filosof dapat berhubungan dengan akal faal melalui usaha sendiri melalui pemikiran atau akal perolehan (mustapad). Oleh karena itu, setiap nabi adalah filosof dan tidak setiap filosof itu nabi. Akan tetapi, filosof tidak bisa menjadi nabi, karena nabi adalah tetap manusia pilihan Allah. Al farabi menekankan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan dengan pengetahuan fisafat, sebab antara keudanya sama-sama dari suber yang sama, yakni akal fa’al. demikian pula tentang mukjizat sebagai bukti kenabian, menurut al-farabi, dapat terjadi dan tidak bertentangan dengan hukum alam karena suber hukum alam dan mukjizat sama-sama berasal dari akal fa’al. b. Filsafat Politk Al farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sultan saif Al-Daulah. Al-Farabi peling banyak disibukkan dengan masalah-masalah sosial. Meskipun dia tidak pernah memangku jabatan resmi dalam pemerintahan, pemikiran filsafatnya tidak bersifat khayalan semata. Al-Farabi menuangkan pemikiran filsafatnya tentang politik dalam berbagai karangannya, dan dua karangannya yang funda mental adalah al-siyasah al madinah (politik negeri) dan Aro’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Beberapa Pemikiran Tentang Negeri Utama). Melalui buku itu cukuplah jika Al-farabi ditempatkan dalam klasifikasi orang-orang yang berfikir secara sistematis tentang teori-teori politik. Menurut al-farabi manusia adaalah makhluk yang bersifat sosial yaitu mahluk yang hidupnya berkelompok dan bermasyarakat. Karena, kehidupannya selalu bergantung satusama lain sehinggal\ tidak meungkin untuk hidup individualistis. Kehidupan bermasyarakat ini dimaksudkan untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup, yakni kebahagiaan. Kemudian, alfarabi membagi masyarakat menjadi dua macam yaitu: a. Masyarakat Sempurna Yaitu masyarakat dalam kelompok besar seperti masyarakat kota. Bisa juga masyarakat yang terdiri dari beberapa bangsa yang bersatu dan bekerja sama dalam hubungan internasional. b. Masyarakat tidak Sempurna Yaitu kelompok masyarakat yang hidup dalam jumlah kecil, sperti masyarakat dalam satu keluarga, atau dalam satu desa. Dalam kitab Aro’ Ahl al-Madinah al-Fadilah (Beberapa Pemikiran Tentang Negeri Utama). Al-Farabi membagi negara atau pemerintahan menjadi lima: a. Negara Utama (al-Madinah al-Fadhilah) b. Negara Jahil (al-Madinah al-Jahilah) c. Negara Sesat (al-Madinah al-Dhalah) d. Negara Fasik (al-Madinah al-Fasiqoh) e. Negara Berubah (al-Madinah al-Mustabadilah) Akan tetapi pembahasan hanya terfokus pada masalah yang pertama yaitu Negara Utama. Masyarakat negara utama adalah masyarakat sempurna yang bagian-bagian pemerintahannya sudah lengkap dan pusat dari segalanya adalah kepala negara yaitu subagai pengatur danpenggerak dalam setiap bagian dalam pemerintahan. Oleh karena itu syarat yang diberikan al-Farabi untuk menjadi kepala negara isa dibilang cukup tinggi yaitu: bertubuh sehat, berani, kuat, cerdas, pecinta pengetahuan, serta keadilan dan memiliki akal mustafid yang dapat berkomunikasi dkengan aksi kesepuluh, pengatur bumi dan penyampai wahyu. Sehingga orang yang paling cocok untuk menjadi kepala negara yang sesuai syarat diatas adalah nabi atau rasul. Sehingga, apabila syarat untuk menjadi kepala negara yang diajukan alFarabi tidak dimiliki oleh seseorang tetapi dimiliki oleh beberapa orang, maka mereka secara bersama harus bersatu dalam memimpin dan mengatur negara sebagai kepala negara. Meskipun kepala negara adalah pusat dari pemerintahan tetapi diantara pelaksanaan pemerintahan antara negara dan warganya harus saling membantu dan bekerja samaserta rela berkorban untuk kepentingan bersama dan kepentingan negara. Dilihat dari sisi ini berarti al-Farabi menepiskan bentuk negara kapitalisme dan sosialisme komunis. Sebenarnya dalam penetapan kriteria sifat kepala negara al-Farabi terpengaruh oleh pemikiran plato. Tetapi ada perbedaan yang mendasar antara pemikiran keduanya dari sisi kejasmanian saja, sedangkan al-Farabi dalam pemikirannyamenekankan kejasmanian dan spiritualm dan dia juga menambahkanbahwa kepala pemerintahan harus bisa berhubungan dengan akal kesepuluh. Sehingga, bisa disebut bahwa Al-Farabi adalah plato dalam mantel Nabi Muhammad. c. Emanasi Emanasi ialah teori tentang keluarnya suatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari dzat yang wajib-ul-wujud (dzat yang mesti adanya: Tuhan). Teori Emanasi disebut juga dengan nama “teori tingkatan wujud”. Abu Nasir al-Farabi (870 – 950 M) yang juga dikenal sebagai "guru kedua" (muallim ats-tsani) setelah Aristoteles "guru pertama" (muallim al-awwal) mengintrodusir apa yang dikenal dengan teori emanasi sebagai basis kosmologi. Artinya bahwa alam semesta ini tercipta sebagai hasil proses emanasi yang tersusun dalam hierarki-hierarki. Mulai dari Tuhan yang tertinggi, bahkan melampaui batas apa pun sampai melewati wujud immaterial murni di bawahnya, hingga wujud paling rendah dari bagian material alam semesta. Menurut teori emanasi ini, wujud Tuhan sebagai suatu wujud intelegensi (akal) mutlak yang berpikir tentang dirinya, "sebelum" adanya wujud-wujud selain-Nya, secara otomatis menghasilkan (memancarkan). Dan akal pertama sebagai hasil pertama proses berpikirnya. Menurut hadits qudsi, Allah Swt, berfirman: Yang pertama kali aku ciptakan adalah Sang Akal (pertama). Pada gilirannya, Sang Akal sebagai akal untuk berpikir tentang Allah dan, sebagai hasilnya, terpancarlah Akal kedua. Proses ini berjalan terus hingga berturut-turut terciptalah Akal Ketiga, Akal Keempat, Akal Kelima, dan seterusnya hingga Akal Sepuluh. Akal Sepuluh ini adalah akal terakhir dan terendah dalam tingkatan wujud di alam imaterial. Inilah gambaran sederhana tentang terbentuknya intelegensi dari akal ke III hingga ke X: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan Pertanyaannya, mengapa proses emanasi berhenti pada akal kesepuluh? Hal ini terkait dengan perkembangan astronomi pada era filosof Muslim masa itu – yang diwarnai oleh pandangan Ptolemeus. Dalam astronomi Ptolemeus, planet-planet dipercayai berjumlah sepuluh. Dalam proses emanasi ini, di samping terciptanya akal-akal tersebut, tercipta juga jiwa dan wadak planet-planet. Untuk menjelaskan masalah ini, marilah kita kembali kepada berbagai tingkatan akal tersebut. Selain berpikir tentang Allah sebagai Sumber Penciptaannya, Akal Kedua juga berpikir tentang dirinya sendiri. Namun, dari proses ini terpancarlah (terciptalah) jiwa dan wadak planet tertinggi – yang pertama dalam tingkatan planet – yang disebut sebagai planet atau langit pertama. Selanjutnya, proses berpikir tentang diri sendiri ini dilakukan oleh Akal Ketiga hingga Akal Kesepuluh dengan hasil terciptanya, secara berturut-turut, jiwa dan wadak bintang-bintang tetap, Saturnus dan seterusnya, hingga terciptanya bulan sebagai planet kesembilan dan bumi sebagai planet kesepuluh. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa -berbeda dengan planet-planet lain- planet bumi tak lagi bersifat immaterial murni. Tetapi merupakan campuran antara yang immaterial dengan yang material. Dengan kata lain, semua wujud di bumi merupakan gabungan antara materi (matter) dan forma (form) – yang bersifat immaterial. Sebagai ilustrasi yang paling jelas adalah bahwa manusia yang merupakan gabungan antara badan atau wadak yang bersifat materi dengan akal atau ruh yang bersifat materi. Pada dasarnya, seluruh ciptaan – termasuk apa yang selama ini kita anggap benda mati – merupakan gabungan dari materi dan ruh seperti yang disinggung di atas. Di bumi ini tidak ada materi mutlak ataupun akal atau ruh mutlak. Untuk benda mati, forma itulah akal atau ruhnya. Aspek materi ciptaan atau wujud di bumi terbentuk di bawah pengaruh planet bulan. Sementara itu, forma diberikan oleh Akal Sepuluh. Ini sebabnya Akal Kesepuluh disebut sebagai Pemberi Forma (Dator Formarum) yang acapkali diidentikan dengan Malaikat Jibril. Menurut Al-Farabi Tuhan adalah pikiran yang berupa benda. Bagaimana hubungan dengan alam yang berupa dengan benda ini? Apakah alam keluar dari padanya dalam proses waktu? Atau apakah alam itu qadim,seperti Qadimnya Tuhan juga? Persoalan Emanasi telah dibahas olh aliran neoplatonisme yang menggunakan kata-kata simbolis [kiasan],seehingga tidak didapatkan hakikat yang sebanarnya. Akan tetapi Al-Farabi dapat menguraikannya secara ilmiyah, dan ia mengatakan bahwa segala sesuatu keluar dari Tuhan, karena Tuhan mengetahui dzat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yangsebaik-baiknya. Jadi ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud yang diketahui-Nya. Bagi Tuhan, cukup dengan mengetahui dzat-Nya yang menjadi sebab adanya aam, agar alam ini terwujud. Dengan demikian, keluarnya alam [makhluk] dari Tuhan terjadi tanpa gerak atau alat, karena emanasi adalah pekerjaan akal semata. Akan tetatpi, wujud alam [makhluk] tersebut tidak member kesempurnaan dari Tuhan, karena Tuhan tidak membutuhkanya. Alam tersebut tidak merupakan tujuan bagi Tuhan dan wujud-Nya pun bukanlah karena lainnya.  Wujud pertama yang keluar dari Tuhan disebut akal pertama, yang mengandung dua segi. Pertama segi hakekatnya sendiri (tabi’at wahiyya) yaitu wujud yang mumkin. Kedua dari segi lain, yaitu wujudnya yang nyata yang terjadi karena adanya Tuhan, sebagai dzat yang menjadikan. Jadi, meskipun akal pertama tersebut satu [tunggal],pada dirinya terdapat bagian-bagian, yaitu adanya dua segi tersebut yang menjadi objek pemikirannya. Dengan adanya segi-segi ini, dapatlah dibenarkan adannya bilangan pada alam sejak dari akal pertama. Dari pemikiran akal pertama, dalam kedudukannya sebagai wujud yang wajib [yang nyata] karena Tuhan, dan sebagai wujud yang mengetahui dirinya, maka keluarlah akal kedua. Dari pemikiran akal pertama, dalam kedudukannya sebagai wujud yang mumkin dan mengetahui dirinya, timbullah langit-pertama atau benda-benda langit terjauh [as-sama’ al-ula: al-falaq al-a’la] dengan jiwanya sama sekali [jiwa langit tersebut], jadi dari objek pengetahuan, yaitu dirinya dan wujudnya yang mumkin, keluarlah dua macam makhluk tersebut, yaitu bendanya benda langit dan jiwanya.  Dari akal kedua, timbullah akal ketiga dan langit kedua atau bintang-bintag tetap [al-kawakibats-tsabitah] besrta jiwanya, dengan cara yang sama seperti yang terjadi ada akal pertama  Dari akal ketiga keluarlah akal keempat dan planet saturnus beserta jiwanya  Dari akal keempat keluarlah akal kelima dan planet yupiter [Al-Musytara]beserta jiwanya  Dari akal kelima keluarlah akal keenam dan plannet mars [mariiah] beserta jiwanya  Dari akal keenam keluarlah akal ketujuh dan matahari [as-syams] beerikut jiwannya  Dari akal ketujuh keluarlah akal kedelapan dan planet venus [Az-zaharah] juga beserta jiwanya  Dari akal kedelapan keluarlah akal kesembilan dan planet mercurius [Utarid] beserta jiwanya pula  Dari akal kesembilan keluarlah akal kesepuluh dan bulan [Qamar].  Dari akal kesepulah sesuai dengan dua seginya, yaitu wajiba wujud karena Tuhan, maka keluarlah manusia beserta jiwanya, dan darisegi dirinya merupakan wujud yang mumkin, maka keluarlah unsur empat dengan peranntara benda-benda langit. Perlu dicatat bahwa emanasi itu terjadi tidak dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam teori emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda untuk menjadikan alam. d. Filsafat Metafisika Mengenai pembicaraan filsafat metafisika ini, seperti para filosof lainnya, yakni membahas tentang masalah ke-Tuhanan. Al-Farabi membagi ilmu Ketuhanan menjadi 3 (tiga) yaitu: pertama, membahas semua wujud dan hal-hal yang terjadi padanya sebagai wujud. Kedua, membahas prinsip-prinsip burhan dalam ilmu-ilmu teori juz’iyat (paticulars), yaitu ilmu yang berdiri sendiri karena penelitiannya tentang Wujud tertentu. Ketiga, membahas semua Wujud yang tidak berupa benda-benda ataupun berada dalam benda-benda itu? Kemudian terlebih dahulu dibahas apakah Wujud serupa itu ada atau tidak, kemudian dibuktikan dengan burhan bahwa Wujud serupa itu ada. Apakah Wujud serupa itu sedikit atau banyak? Apakah Wujud serupa itu berketerbatasan atau tidak? kemudian dibuktikan dengan burhan bahwa keterbatasan. Al-Farabi ketika menjelaskan Metafisika (ke-Tuhanan), menggunakan pemikiran Aristoteles dan Neoplatonisme. Ia berpendapat bahwa al-Maujud al-Awwal sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Dalam pemikiran adanya Tuhan, al-Farabi mengemukakan dalil Wajib al-Wujud dan Mumkin al-Wujud. Menurutnya, segala yang ada ini hanya memiliki dua kemungkinan dan tidak ada alternatif yang ketiga. Wajib al-Wujud adalah wujudnya tidak boleh tidak ada, ada dengan sendirinya, esensi dan wujudnya adalah sama dan satu. Ia adalah Wujud yang sempurna selamanya dan tidak didahului oleh tiada. Jika Wujud itu tidak ada, akan timbul kemustahilan karena Wujud lain untuk adanya bergantung kepadanya. Inilah yang disebut dengan Tuhan. Adapun mumkin al-Wujud tidak akan berubah menjadi Wujud Aktual tanpa adanya Wujud yang menguatkan, dan yang menguatkan itu bukan dirinya, tetapi Wajib al-Wujud. Walaupun demikian, mustahil terjadi daur dan tasalsul (processus in infinitum) karena rentetan sebab akibat itu akan berakhir pada Wajib al-Wujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar