Minggu, 05 Oktober 2014

A. Pengertian Etika normatif Etika normatif merupakan bagian terpenting dari etika dan bidang dimana berlangsungnya diskusi-diskusi yang paling menarik tentang masalah-mmasalah moral. Disini hali bersangkutan tidak bertindak sebagai penonton netral, seperti halnya dalam etika deskriptif, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan nilai-nilai tentang perilaku manusia. Ia tidak lagi melukiskan adat mengayau yang terdapat pada kebudayaan-kebudayaan dimasa lampau, tapi ia melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian-penilaian tentang perilaku manusia. Ia tidak lagi meukiskan adat mengayau yang pernah terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan masa lampau, tapi ia menolak adat itu, karena bertentangan dengan martabat manusia. Ia tidak lagi membatasi diri dengan memandang funngsi prostitusi dalam suatu masyarakat, tetapi menolak prostitusi sebagai suatu lembaga yang bertentangan dengan martabat wanita, biarpun dalam praktek belumtentu dapat diberanyas sampai tuntas.penilaian itu dibentuk atas dasar norma-norma.”martabat manusia harus dihormati” dapat dianggap sebagai contoh tentang norma semacam itu. Tentu saja etika deskriptif dapat juga berbicara tentang norma-norma, misalnya bila ia membahas tabu-tabu yag terdapat dalam suatu masyarakat primitif. Tapi kalau begitu etikadeskriptif hanya meukiskan norma-norma itu. Ia tidak memeriksa apakah norma-norma itusendiri bnar atau tidak. Etika normatif meninggalkan sikap netral itu dengan mendasarkan pendirianya atas norma. Dan tentang norma-norma yang diterima dalam suatu masyarakat atau diterima oleh seorang filusuf lain ia berani bertanya apakah norma-norma itu benar atau tidak. Hal yang sama bisa dirumuskan juga dengan mengatakan bahwa etika normatif itu tidak deskriptif, melainkan preskriptif( memerintahkan) tidak melukiskan melainkan menentukan benar tidaknnya tingkahlaku atau anggapan moral. Untuk itu ia menggadakan argumentasi-argumentasi, jadi ia mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu tingkah laku harus disebut baik atau buruk, dan mengapa suatu anggapan moral dapat dianggap benar atau salah. Pada akhirnya argumen-arguen itu akan bertumpu pada norma-norma atau prinsip-prinsip etis yang dianggap tidak dapat ditawar-tawar. Secara singkat dapat dikatakan, etika normatif bertujuan merumuskan prinsip-prinsp etis yang dapat dipertanggung jawabkan dengan cara rasional dan dapat digunakan dalam praktek. Etika normatif dapat dibagi lebih lanjut dalam etika umum dan etika khusus. 1) Etika umum memandang tema-tema umum seperti : apa itu norma etis? Jika ada bbanyak norma etis, bagaimana hubunganya satu sama lain? Kenapa norma moral mengikat kita? Apa itu nilai dan apa itu kekhususan nilai moral? Bagaimana hubunganya antara tanggung jawab manusia dan kebebasanya? Dapat dipastikan bahwa manusia sungguh-sungguh bebas? Apakah yang dimaksud dengan hak dan kewajiban dan bagaimana perkaitanya satu sama lain? Syarat-syart mana harus dipenuhi agar manusia dapat dianggap sungguh-sungguh baik dari sudut moral? Tema-tema seperti itulah yang menjadi objek penyelidikan etika umum. 2) Etika khusus, berusaha menerapkan prinsip-prinsip etika yang umum atas wilayah perilaku manusia yang khusus. Dengan menggunakan suatu istilah yang lazim dalam koteks logika, dapat dikatakan juga bahwa dalam etika khusus itu premis normatif dikaitkan dengan premis faktual untuk sampai pada suatu kesimpulan etis yang bersifat normatif juga. Etika khusus mempunyai tradisi panjang dalam sejarah filsafat moral. Kini tradisi inni kerap kali dilanjutkan dengan memakai suatu nama yakni etik terapan (applied ethics) dalam buku ini akan dibicarakan lagi tentang ciri-ciri khas etika terapan dalam pemikiran moral dewasa ini. B. Pemechan Etika Normatif 1) Kewajiban Sebagai Norma Di barat, imanuel kant (1724-1804) memilih kewajiban sebagai norma perbuatan yang baik. Sebagai guru besar dalam geografi di Universitas Konigsberg, kota tempat ia dilahirkan dan tempat yang tidak pernah di tinggalkannya selama hidupnya. Ia telah menyumbangkan teori “nabule” sebagai asal-usul bumi ini, kemudian ia pndah kelapangan filsafat, dan menghasilkan karya kritik Der Rein en Vernunft (analisa tentang akal budi yang mmurni, 1781) kritik der Praktischen vernunft (analisa tentang akal-budi yang praktis,1788) serta kritik der Urteilskarft (analisa tentang daya pertimbangan,1790) semu karyanya itu merupakan sumbangan yang sangat bernilai di dalam filsafat. • Etika Emmanuel kant Kant sangat terkesan oleh keadaan yang serba teratur, di dalam alam ini, segala sesuatu di dalam alam ini seolah-olah berbuat sesuai dengan peraturan. Dua hal yang selalu menimbulkan keheranan dan rasa terharu di dalam jiwanya adalah langit di atas yang penuh dengan bintang dan hokum moral di dalam dirinya sendiri. Hokum alam adalah hokum akal tercermin di dalam hokum moral, yang timbul di dalam batin manusia. Kemamuan manusia diatur oleh akalnya, maka hokum morallah yang mengatur orang di dalam dirinya sendiri. Jadi moral manusialah yang membawa manusia ke dalam hubungan teratur di dalam jagad ini. Moral manusia bagi kant bararti rasa kewajibannya, hokum alam timbul didalam batin manusia sebagai rasa kewajiban atau juga disebut sebagai kata hati. Kewajiban manusia ialah patuh pada hokum moral di dalam batinnya. Hokum moral yang menhendaki supaya kewajiban seseorang harus berada diatas keinginan dan dorongan alamnya, dirumuskan dengan ungkapan: “Du sollst..” ( kamu harus..). Bagi kant, perbuatan yang baik ialah yang dilakukan dengan kemauan atau niat yang baik. Misalnya: seseorang yang hendak membantu temannya dari keadaan yang lebih buruk ke keadaan yang lebih baik. Jadi niat yang menjadi syarat bagi kehidupan moral. Supaya niat itu baik, maka seseorang harus berbuat dengan rasa wajib. Hokum moral berwujud di dalam bentuk kategorische imperative. Ini merupakan “suara” dari kewajiban yang memerintah supaya berbut secara langsung. Hokum ini berkaitan pada pengalaman. Duniia gejala mengenai pengetahuan biasa ditentukan syarat oleh pengalaman dan sifatnya relative. Tetapi dunia moral merupakan kenyataan mutlak dan oleh sebab itu tidak bersyarat. Alau kemauan dikkuasai oleh akal, ia pun mutlak tidak bersyarat, artinya tidak memungkinkan, adanya pengcualian. Inilah yang dinamakan katgorische Imperative, yaitu hokum moral. Ada berbagai rumusan Kategorische Imperative ini. • Rumusan pertama: perbuatan hokum moral itu menjadi dasar penetuan umum dari kemauan anda. Berbentuk perintah dasar: anda harus berbuat apa yang telah ditetapkan oleh hokum, tidak peduli akibat yang munkin timbul daripadanya. • Rumusan kedua: objek-ojek alam mempunyai nilai sebagai alat, hanya manusia yang mempunyai nilai berbeda secara instrinsik yang menjadi dasar bagi penghargaan diri manusia. • Rumusan ketiga: hokum moral baru mendapat artinya, bila ada 3 postula, yaitu: kemerdekaan, keabadian jiwa dan Tuhan. 2) kesenangan sebagai norma 1. Aliran hedonism Didalam filsafat yunani kuno tokoh pertama yang dikenal mengajarkan lairan hedonism (hedone=kesenangan) ialah Democritus [400 SM-370SM]. Democritus memandang kesenangan sebagai tujun pokokdi dalam kehidupan ini. Yang dimaksudnya bukanlah kesenangan fisik, tetapi kesenangan sebagai perangsang bagi intelek manusia. Pengikut Socrates yang bernama Aristippus [kurang lebih 395 SM] mengajarkan bahwa kesenanganlah yang merupakan satu-satunya nilai yang ingin dicari manusia. Yang dimaksudnya dengan kesenangan ialah rasa senang yang dapat langsung melalui panca indra. Orang yang bijaksana selalu mengusahakan kesenangan sebanyak-banyaknya. Kesenangan baginya merupakan pengalaman yang lunak, sebab kekerasan dipandangnya menimbulkan rasa sakit. Epicurus [341-270SM] adalah seorang tokoh dari zaman Helenisme yang telah memperdalam aliran hedonism. Kesenagan masih tetap menjadi norma perbuatan yang baik. Tetapi kesenangan di sini tidak meliputi kesenangan badaniah. Sebab kesenangan jenis ini akhirnya akan menimbulkan rasa sakit. Banyak makan enak misalnya mennyebabkan sakit perut atau menyebabkan mencret atau rasa tidak nyaman didalam tubuh. Senang bagi epicurus berarti tidak adanya rasa sakit dalam badan dan tidak aada kesulitan jiwa, jadi bukanlah makan minum yang enak-enak, dan bukan pula kesenangan seks, tetapi mencari alasan dengan teliti dan menghilangkan kepercayaan yang menimbulkan kerisauan di alam jiwa, seperti terhadap soal mati. Mengejar nilai, seperti uang, kehormatan, kekuasaan juga akhirnya tidak akan member kepuasan. Sebab uang yang bertambah banyak bukannya akan membawa kesenangan, tetapi akan menimbulkan kesulitan yang lebih banyak lagi. Begitu pula dengan kekuasaan dan penghormatan. Puncak kesenangan bagi epicurus ialah ketenangan jiwa. Jiwa dapat meninjau kembali peristiwa yang menyenangkan di masa lampau dan juga mungkin masa yang akan dating. Jiwa pun dapat mengatasi keterbatasan tubuh manusia. Biarpun badan sakit, namun jiwa mungkin dapat mengatasinya dengan memusatkan fikiran pada hal lain. Sebaliknya, jiwa dapat mengalami rasa sakit yang kebih berat daripada badan, seperti yang kelihatan pada orang sakit jiwa. Oleh sebab itulah harus diusahakan supaya jiwa jangan terganggu, sehingga kita mendapatkan ketenangan. Pada aliran diyunani kuno hasil yang hendak dicapai oleh perbuatan yang baik ialah kesenangan untuk orang-sseorang, tetapi di inggris, adalh untuk orang seanyak-banyaknya.:”The gretest good for the greatest number”. Inilah prinsip dasar Jeremy bentham dan john stuart Mill. Yang menngembangkan aliran hedonism yang modern, dengan nama baru: Uttilitiarisme (Utility-berguna) Aliaran hedpnisme dari yunani kuno timbul kembali dalam abad ke-17 di inggris dengan dalil kesenanganlah yang dipandang sebagai hasil yang dinilai baik untuk setiap perbuatan. Tetapi di inggris timbul segi yang baru di dalam aliran hedonism ini. 2. Aliran Utilitiarisme • Jeremy bentham (1748-1832) Bentham hidup dalam revolusi Amerika serikat, revolusi perancis, masa peperangan napoleon, dan pada tingkat-tingkat pertama revolusi industry. Oleh karena kemusnahan dan kekacauan yang juga timbul di inggris, ia ingin membawa perubahan social dalam bidang politik, hokum, dan etik. Ke dalam tiga bidang ini dimasukkannyalah prinsip “utility”, yang bagianya adalah: “.. that property in any object, where it tends to produce benefit, advantage, pleasure, good or happiness (all this in the present case comes to the same thing) or (what comes again to the same thing) to prevent the happening of mischief, pain, evil, or unhappiness to the party whose interest is considered: if that party be the community is, if a particular individual, the happiness of that individual” Di dalam karya etiknya An introduction to the principles of morals and legislation, 1870. Ia menjadikan rasa senang dan rasa sakit ssebagai pangkal tinjauanya sesuai dengan aliran hedonism: “anature has mankind placed under the governance of two sovereign matters, pain and pleasure. It is for them alone to point out what we ought to dp, as well as to determine what we shall do. On the other chain of chauses and effects, are fastened to their throne, they govern us in all we do, in all we say, in all we think”. Sikap etis yang wajar ialah menghitung-hitung dengan cermat rasa senang dan jumlah rasa sakit sbagai hasil suatu perbuatan untuk kemudian mengurangi jumlah rasa sakit daripada jjumlah rasa senang. Perhitungan jumlah rasa senang dan jumlah rasa sakit (hedonistic calculus) dapat dilakukan, sebab bentham melihat tujuh unsure atau dimensi dari nilai rasa sakit atau rasa senang. Yaitu:  Intensity, kuat lemahnya perasaan sakittau senang  Duration, lama atau pendeknyawaktu berlakunya rasa senang.  Certainty, kepastian akan timbulnya perasaan itu.  Propinquinty, dekat/jauhnya dalam waktu terjadinya perasaan itu.  Fecundity, kemungkinan perasaan itu diikuti oleh perasaan yang sama  Purity, kemurnian, tidak bercampurnya dengan perasaan yang berlawanan.  Extent, julah orang yang terkena perasaan itu. Enam unsure pertama mengenai perbuatan yang menimbulkan rasa senang dan rasa sakit dari orang seorang. Unsure ketujuh etika individulistik menjadi etik social. Dengan hedonic calculus Bentham memberikan dasar matematis kepada bidang etik, sebab ketujuh dimensi dapat diukur. Oleh karena itu dapat member arah bagi perbuatan manusia. • John Stuart Mill. Bagi John Stuard Millpenghidupan social adalah sesuatu yang wajar bagi manusia. Antara perhatian seseorang dan perhatian masyarakat tidak ada perbedaan yang jelas. Perasaan social merupakan tenaga yang kuat, yang semakin meningkat kalau orang bertambah maju. Kalau orang bekerja sama di dalam masyarakat sebagaimana mestinya, perhatianya pun akan menjadi sama, sebab mereka sadar bahwa perhatian orang lain menurut hakikatnya berada dalam keadaan yang selaras dengan perhatian orang seorang. Tujuan Mill ialah hendak meningkatkan rasa kebahagiaan masyarakat, supaya dapat mencapai jumlah rasa senang yang sebanyak-banyaknya , bukanlah untuk menarik kebahagiaan orang seorang. 3) perwujudan diri sebagai Norma Semenjak zaman yunani kuno sampai sekarang aliran perwujudan diri sendiri dikenal di dalam aliran etik dan juga dalam dunia pendidikan. Yang baik menurut aliran ini ialah “pengisian sesuatu”. Sesuatu yang hendak diisi itu bukanlah alam, tetapi diri manusia sendiri, perwujudan diri sendiri berarti perkembangan secara harmonis segala kesanggupan manusia yang normal. Aliran etik yang berpangkal pada etik Aristoteles ini dinamakan aliran “Eudamonia” berarti dipimpin secara langsung oleh “daemon” (jin) yang baik. Istilah ini umumnya diterjemahkan dengan kebahagiaan. Tetapi bagi Aristoteles mencapai “eudaimonia” artinya lebih banyak daripada mencapai keasaan batin dan perasaan yang bersifat sementara, yang dikenal dengan perkataan bahagia, tetapi berhasilnya seseorang mencapai kehidupan yang baik, selanjutnya “eudaimonia” yang dicapai itu merupakan peristiwa yang menghendaki waktu yang lama untuk menjadi stabil. Di dalam proses itu telah tersimpul penngertian perkembangan fungsi jiwa yang lengkap, yang menjadikan manusia itu makhluk yang berbudi dan anggota masyarakat. Jadi, meskipun Aristoteles menyebutnya soal kebahagiaan, ia tidak dimasukkan kedalam aliran hedonism. Baginya mencapai kebahagiaan sebagai perasaan yang tetap bukanlah pembenaran suatu perbuatan. Orang yang hendak mencapai keadaan “eudaimonia” ialah orang yang telah mengatur kehidupannya dengan baik, bukan orang yang memburu kesenangan atau kebahagiaan. 4) kekuasaan sebagai norma. Sejak yunani kuno, alam telah mendapat perhatian dari filsafat. Hakikat alam hendak dicari oleh “filosof alam” yang secara kronologis dimulai oleh thales sampai Democritus. Di dalam abad ke-17, ilmu tentang alam berkembang pesat sekali, tetapi baru dalam pertengahan abad ke-19 alam menjadi pangkal tolak bagi semua bidang filsafat sesudah darwi menerbitkan karyanya yang terkenal tentang evolusi Orign of Species [185] dan descent of man [1872]. Sebab sebelum itu manusia selalu dipandang berlainan, mlahan kadang-kadang berlawanan dengan alam. Binatang tidak menngenal hak, hanya mengenal kekuasaan dan kekerasan, jadi binatang di pandang sebagai tidak mempunyai moral. Tetapi Darwin mnjadikan manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri. Evolusi di dalam kehidupan ini mulai dari makhluk yang paling sederhana sampai kepada yang tertinggi. Hal ini disebabkan oleh karena perjuangan hidup (struggler for life). Di dalam perjuangan hidup itu ada sebagian yang terus hidup, tetapi adapula yang musnah karena perjuanga. Hannya yang paling kuat yang dapat bertahan di dalam kehidupan. Hal inilah yang dirumuskannya sebagai survival of the fittest. Dengan dalil tersebut Darwin dapat menerangkan perkembangan seluruh hidup di dalam alam. Hanya anatara manusia dan beruk besar, seperti orang hutan, rantai penyambung dari perkembangan evolui telah putus. Yang hilang ini harus dicari. Timbul pertanyaan apa sebab putus hubungan itu disini. Lebih sulit lagi kalau soal ini dibawa kedalam bidang etik. Dengan kedudukannya yang baru di dalam ala mini, sebagai bagian dari alam itu sendiri, tidak seperti menurut pandangan dahulu, bertentangan dengan alam, maka pandangan etik yang dahulu pun harus pula di ubah. Perubahan inilah yang dibawa ke dalam bidang etik olh Herbert spencer [1820-1903]. Ia menafsirkan kehidupan sebagai persesuaian yang terus menerus anatara hubungan luar dan hubungan dalam. Perbuatan yang baikbaginya adalah perbuatan memelihara dan menyesuaikan kehidupan, orang seorang ataupun sekelompok orang. Aliran evolusi dengan dalilnya “struggle for existence” diteruskan oleh nitzsche ke dalam etiknya yang keras sifatnya,sebab menurut ajarannya ini yang paling kuat yang akan menang, atau yang akan berhasil dan kekuasaan dipertahankannya sebagai sesuatu yang benar. Kalau Fichte menimbulkan perasaan pada manusia bahwa mereka adalah anggota uatu Negara nasional, maka filosof hegel [1770-1831] memperluas gagasan itu dengan menjadikan segala yang ada, termasuk manusia, sebagai perkembangan dari yang mutlak menurut tingkat these, antithese, dan sinthese. Peristiwa sejarah pun berlaku menurut tingkat perkembangan yang dialektis ini sampai puncak perkembangannya dicapai dalam bentuk Negara. Negara bagi Hegel menjadi sumber-sumber perundang-undangan dan kemerdekaan. Kalau orang mengabdi kepada Negara, maka orang itu ikut menjadi bagian dari ide yang objektif. Yang juga hidup di dalam dirinya sendiri, karena manusia ditinjau dari segi batinnya hanya sebagian dari Negara. Selain menjadi sumber hokum, nagara pun menjadi sumber moral. Orang-orang ynag berbuat sesuai dengan peraturan Negara sudah dianggapnya berbuat secara etis. Apa yang diperintahkan oleh Negara adalah baik bagi hegel. Pemujaan terhadap Negara ini diperkuat lagi oleh M.S.Chamberlain di dalam bukunya Die grundladge des neunzehnten jahrhundert [dasar-dasar abad ke sembilan belas]. Ia menyatakan semua orang besar di dunia mempunyai darah jerman, termasuk tentunya Napoleon Bonaparte orang Corsica:buku tahun 1899, yang telah memberikan kompleks harga diri yang tinggi kepada orang jerman, merupakan reaksi terhadap buku ynag sejenis tentang teori bangsa-bangsa, yang ditulis Comte de gobineau essay sur I’inegality des races humaines [esai tentang ketidaksamaan antara bangsa-bangsa manusia,1855]. Ia menyatakan bahwa bangsa roman prancis, italia, sepanyol, merupakan bangsa yang lebih tinggi/unggul dari bangsa yang lain. Dengan teori keunggulan bangsa sendiri ini, yng mengakibatkan rakyat benyak mendapat harga diri tinggi ynag palsu, manusia semakin erat terikat kepada bangsanya, sehingga kemerdekaan etis dan tanggung jawab individual pun hilang. Hal-hal inilah yang hendak ditentang oleh nitzsche. 5) adat sebagai Norma Di dalam penghidupan sehari-hari, kadang-kadang tidak jelas bagi kita norma yang akan kita pakai. Oleh karena tidak jelas itu, kita kadang-kadang memakai salah satu norma dan nilai perbuatan orang lain dengan norma yang lain pula. Bukan hanya dalam pemakaian norma ini ada perbedaan, tetapi juga kita ketahui adanya perbedaan norma dan nilai dalam satu kebudayaan sendiri, ada perbuatan yang dinilai baik oleh masyarakat, tetapii buruk oleh anggota masyarakat lainnya. Dengan sendirinya timbul pertanyaan , apakah ada sesuatu yang dapat dijadikan norma bagi perbuatan manusia.? Menjadi pangkal tolak bagi jalan fikiran dari aliran relativisme, yang menetapkan norma-norma perbuatan yang baik menurut adat kebiasaan. Relaatif artinya nisbi. Lawan dari mutlaq, yang dibayangkan oleh keberlainan ikan di dalam berbagai lubuk itu. Sol ini terutama diselidiki oleh sarjana sosiologi yang mengkhususkan diri didalam soal kebudayaan dan sarjana antropologi. Pendapat mereka di dasarkan atas hasil penelitian mereka di dalam atau tentang berbagai jenis kebudayaan. Oleh sebab itu, pendapat mereka di dalam aliran relativisme ini selengkapnya diberi nama relativisme dalam kebudayaan. Menurut pendapat mereka, norma yang mutlaq tidak ada, semua norma bersifat nisbi, relative di dalam waktu dan tempat. Tetapi didalam keberbagai ragaman dan keberlainan kebudayaan itu ada pula sarjana Antropologi, seperti A.B. Krober dan C. Kluckhohn yang mencari kesamaan antara segi-segi beberapa kebudayaan yang sebenarnya adalah sama. Inti tiap kebudayaan adalah manusia, sedangkan manusia itu menghadapi dan memecahkan soal-soal pokok yang sama pula, di manapun manusia itu berada, semua harus makan, minum, memellihara dirinya dari bahaya dan memelihara keturunan. Kalau dibanding-bandingkan hal-hal yang bersamaan dan hal-hal yang berlainan, maka menurut para ahli, akan lebih banyak ditemui banyak persamaan daripada perbedaan. Di dalam bentuk cara hidup yang umum sekali ditemui adalah gotong royong. Disini harus ada cara-cara berbuat yang sama, bahasa yang sama, dan menimbulkan nilai-nilai yang sama diterima oleh anggota masyarakat yang mempunyai satu kebudayaan, nilai yang sama inilah yang memungkinkan dilaksanakan pekerjaan besar didalam bentuk gotong royong. Selanjutnya di dalam semua kebudayaan bukan saja ada pola kebudayaan yang universal sifatnya, tetapi ada nilai-nilai yang dimanapun juga berlaku. Dimanapun juga berdusta, mencuri, menghendaki kekerasan, tidak dapat diterima orang. Menikah beradik kakak dimanapun juga tidak dapat diterima orang. Menghormati orang tua , masuk nilai yang universal. Nilai dan pola kebudayaan yang universal merupakan kebudayaan yang langgeng, yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Karena kehidupan manusia adalah kehidupan yang bermoral, adanya norma dan nilai-nilai yang universal menunjukan pada sesuatu yang paling bernilai pada manusia. Namun sifatnya yang universal ini tidak menjadikannya sesuatu yang mutlaq, karena perubahan dari satu situasi, mungkin juga akan mempengaruhi perubahan nilai dan norma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar