Senin, 02 Mei 2016

Sabar dalam Hadits sufi

Disusun oleh: Iin Sugiarti (2032113012) Prodi: Akhlak dan tasawuf Dosen pengampu: Arif Chasanul Muna, M.A MEMPERKOKOH DIRI DENGAN SABAR ترجمه حديث Diriwayatkan dari Abi Umayyah As-sya’bani, Berkata:”aku mendatangi Abu tsa’labah Alkhusyaini, maka aku berkata padanya: Bagaimana cara memahami/ mengerjakan ayat ini? Abu Tsa’labah menjawab: ayat perayat yang mana?” Aku berkata: firman Allah SWT:”wahai orang yang beriman, jagalah diri kalian, jangan sampai ada seseorang yang menyesatkan ketika kalian sudah mendapat petunjuk” Abu tsa’labah berkata:”demi Allah, pertanyaan anda sangat bijaksana, saya pernah bertanya pada Rosulullah SAW tentang hal itu, dan beliau Bersabda:”perintahkanlah pada kebaikan, dan laranglah hal-hal kemungkaran, sehingga ketika kamu melihat keburukan yang diikuti, hawa nafsu yang dianut, dunia yang berpengaruh/diikuti, dan keujuban dari setiap orang yang beropini dengan akalnya, maka jagalah dirimu dan tinggalkan/ hindari orang-orang awam. Maka sesungguhnya akan datang beberapa masa diantara kalian semua, dimana sabar diibaratkan seperti menggenggam bara yang panas, untuk orang yang beramal pada saat itu ibarat mendapat balasan 50 orang yang beramal serupa pada masa kalian. Abdullah bin Mubarak berkata, seorang perawi lain Utbah menambahkan, ada yang bertanya:”wahai Rosulullah, 50 dari golongan kami atau dari golongan mereka?” Rosulullah SAW bersabda:”balasan 50 dari kalian” (HR. Tirmidzi) عن ابي اميه الشعبانى : اتيت اباثعلبه الخشني, فقلت له:قال تصنع بهذه الاية ؟كيف : اية اية؟قال قلت: قوله تعالى: يايهاالذين امنوا عليكم انفسكم لايضركم من ضل اذاهتديتم, قال: اماوالله لقد سالت عنها خبيرا, سالت عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم, فقال: بل ائتمروا بالمعروف, وتناهواعن المنكر, حتى اذا رايت شخا مطاعا, وهوى متبعا, ودنيا معثرة, واعجاب كل ذى راي برايه فعليك بخاصة نفسك ودع العوام, فان من ورائكم اياما الصبر فيهنَ مثل القبض على الجمر, للعامل فيهن مثل اجر خمسين رجلا يعملون مثل عملكم, قال: عبدالله ابن المبارك: وزادنى غير عتبة, قيل: يارسول الله, اجر خمسين منَا او منهم؟ : بل اجر خمسين منكم (رواه الترميذى)قال Biografi Sahabat Abu tsa’labah Al-Khusaniy nama aslinya Abdullah bin Akhamir, dia banyak merawiyatkan dari ka’ab al-akhbar, mu’adz bin jabal dan abi tsa’labah Al-Khusaniy. Tentang biografi beliau secara lengkap dalam beberapa kitab penulis belum berhasil menemukan secara rinci. Dalam beberapa literatur banyak dikisahkan tentang guru-gurunya saja. 1.3.1 Maksud Sabar Sabar merupakan bentuk pengendalian diri`atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” Sabar secara istilah, terdapat beberapa pengertian yang diantaranya adalah: Abu Zakaria Al-Anshori memgemukakan bahwa sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang di senangi maupun yang di benci. Menurut Qosim Junaidi sabar adalah mengalihkan perhatian dari urusan dunia kepada urusan akhirat. 1.3.2 Hirarki sabar: Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat pengendalian nafsu dalam diri manusia, yaitu terbagi menjadi tiga tingkatan: a) Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi. b) Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karenya kesabaranya lemah maka ia kalah. c) Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nasu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut. 1.3.3 Macam-macam Sabar 1) Sabar terhadap maksiat Yaitu menahan diri untuk menghindari perbuatan jahat, dan dari perbuatan hawa nasu, dan menghindarkan diri dari semua pebuatan yang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus kedalam jurang kehinaan. 2) Sabar dalam menghadapi ibadah Sabar dalam menghadapi ibadah, dasarnya ialah prinsip-prinsip islam yang sudah lazim, pelaksanaanya perlu latihan yang tekun dan terus menerus, seperti latihan shalat, ini merupakan kewajiban yang memerlukan kesabaran. 3) Sabar dalam menahan diri dari kemunduran Yaitu menhan diri dari surut kebelakang dan tetap berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang telah di yakininya, misalnya pada saat membela kebenaran, melindungi kemaslahatan, mempertahankan harta dari perampok, menjaga nama baik. 1.3.4 Sabar yang dianalogikan dalam Hadits sesungguhnya ada beberapa masa yang akan datang diantara kalian semua ada kesabaran yang disamakan seperti menggenggam batu bara/mowo.“Bagi orang yang beramal pada zaman itu seperti halnya ganjaran 50 orang yang beramal seperti amalnya kalian”. Sabar itu adakalanya berkenaan dengan ibadah, atau menahan diri dari keinginan nafsu syahwat. Sikap bersabar dalam segala keadaan memerlukan kontrol diri, agar tidak melampaui batas dalam hal-hal yang diperbolehkan dari batasan pertengahan sampai kepada sikap berlebih-lebihan. Sabar dalam masalah ibadah menuntut pengetahuan bahwa hanya dengan menahan diri selama beberapa hari, dia akan beroleh kebahagiaan yang abadi sebagai imbalannya. Dan hal ini memerlukan kesabarannnya pula agar tidak membuka rahasia kesabarannya dan merusaknya dengan riya’. Sabar yang paling besar menuntut sikap menahan diri dari berbagai nafsu syahwat, dan hal-hal yang menjerumus kearahnya, sebagaimana keterangannya telah disebutkan. Dan ha-hal yang menuntut sikap sabar antara lain adalah apabila ada yang menyakitinya baik melalui ucapan atau perbuatan. Dan sabar adakalanya berkenaan dengan sikap itu sendiri dan ketahanannya, dan adakalanya berkenaan dengan reaksinya, para keduanya terdapat kessempurnaan iman. Bagian lalin dari sabar adalah bila bertahan dalam menghadapi hal yang tak diinginkan tanpa ada pilihan, seperti datangnya musibah berupa sakit, lenyapnya pandangan mata, cacatnnya anggota tubuh dan kematian orang-orang yang disayangi. Sabar yang demikianlah seperti menggenggam bara (mowo) yang panas seperti yang digambarkan dalam hadits. Namun, balasan yang Allah janjikan sseperti ibadahnya para sahabat di zaman rosullullah. 1.3.5 Manfaat Sabar a) Sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu contohnya adalah dalam beribadah dapat di-implementasikan dengan bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah, dengan menghadirkan hati untuk tidak bersikap ‘ujub, riya atau pun cari popularitas lainnya. Karena keikhlasan dalam beribadah merupakan syarat mutlak untuk diterimanya semua amalan yang kita lakukan, dan kelak pahalanya seseorang yang mampu dan selalu bersabar di dalam menjaga ketaatannya adalah setara dengan 600 derajat di hadapan Allah SWT. b) Sabar di saat sedang dalam menghadapi musibah. Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan yang lebih baik. Seseorang dapat dikatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Seseorang yang selalu bersabar di saat tengah di timpa musibah, akan mendapatkan sebanyak 300 derajat kemulyaan dari Allah SWT. Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.” Wanita tersebut menjawab: Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku. Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah rasulullah SAW. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada rasulullah SAW,(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai rasulullah SAW. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama.” (HR. Bukhari Muslim). Dari Suhaib ra, bahwa rasulullah SAW bersabda: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ, إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ, وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صََبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ Artinya: “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya, dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin: yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim) Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam al-Khowas bahwa sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada, ketidak sabaran untuk berusaha, untuk berjuang dan lain sebagainya. Karena, seseorang bisa di katakan sabar apabila dalam kehidupannya dia tidak selalu merasa menyesal, dalam hidupnya dia selalu memandang ke arah kemajuan(positive thinking), karena seseorang yang di limpahkan keimanan akan selalu meyakini janji Allah untuk selalu bersabar, sebagaimana janji-Nya dalam akhir surat Az-Zumar ayat 10: …………….إِنَّمَا يُوَفَّى الصّبِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حَسَابٍ Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar: 10). 1.3.6 Sabar Yang keliru Sabar itu ada batasnya Ini pemahaman keliru yang sangat fatal. Dengan pemahaman seperti ini akan menyebabksan hati menjadi rapuh , tidak tegar menerima ujian atau musibah dari Allah, yang akhirnya mengakibatkan batin menjadi merana. Banyak orang yang lepas kontrol dengan dalih “sabar itu ada batasnya”. Sesungguhnya sabar itu perintah Allah, dengan demikian tidak akan ada batasnya. Ini sama saja halnya dengan shalat. Hanya bedanya, bila shalat dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu ( ada azannya) maka sabar itu harus dilakukan pada saat awal tertimpa musibah. Sedangkan musibah itu selama kita hidup tidak akan pernah berhenti. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. Al-Kahfi (18):7 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan:”kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi ?. Al-Ankabuut (29):2 Bahkan dalam hadits ditegaskan bahwa musibah itu merupakan indikator kecintaan Allah pada manusia (“ Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia tenggelamkan hamba tersebut kedalam cobaan. Barangsiapa yang tidak pernah mengalami musibah, maka ia jauh dari kasih sayang Allah”). Bukankah dengan musibah itu berarti Allah memberikan peluang kepada manusia untuk memperoleh pahala yang sangat dibutuhkan dalam “kehidupan abadi” nanti ?. Sabar itu tidak hanya dilakukan pada waktu tertimpa kesusahan saja, tetapi harus juga dilakukan pada waktu diberikan kesenangan. Karena ujian Allah itu tidak hanya terdapat dalam kesusahan saja, tetapi terdapat juga dalam kesenangan ( Al-Anbiya:35, Al-A’raaf:168). Kebanyakan orang justru lalai menjalankan sabar bila diberi kesenangan. Renungkanlah firman Allah berikut: … dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah. Luqman(31):17 Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya. Ar-Ra’d(13):22 Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Al-Baqarah(2):153. 1.4.7 Kisah Tokoh yang sabar Pada suatu hari, Sayyidi Ibrahim bin Adham sedang berjalan-jalan di pasar. Kemudian, beliau bertembung dengan seorang tentera. Mungkin diakibatkan oleh salah faham, atau mungkin diakibatkan oleh sikap tentera itu yang mahu menunjuk-nunjuk kuasanya, tentera tersebut telah memukul kepala Ibrahim bin Adham beberapa kali. Pada saat itu, tentera tersebut tidak mengetahui bahwa yang dipukulnya itu adalah Ibrahim bin Adham. Sayyidi Ibrahim bin Adham langsung tidak membalas pukulan tersebut bahkan beliau hanya bersabar dengan perbuatan tentera tersebut. Setelah kejadian tersebut berlaku dan Sayyidi Ibrahim bin Adham pun berlalu, maka sampailah pengetahuan kepada tentara tadi bahawa yang dipukulnya tadi adalah Ibrahim bin Adham. Tentera tersebut dengan segera mendapatkan Ibrahim bin Adham serta terus meminta maaf dengan bersungguh-sungguh kepada beliau. Ibrahim bin Adham lantas menyatakan kepada tentera itu, "Semenjak daripada pukulan pertama engkau kepadaku, aku telah berdoa agar Allah mengampunkan dosa engkau." Tentera itu heranan dengan doa Sayyidi Ibrahim bin Adham tersebut, karena perbuatan buruknya pada Ibrahim bin Adham dibalas dengan memaafkan dari Ibrahim bin Adham. Tentera itu kemudian bertanya kepada Ibrahim bin Adham, "Kenapa memaafkanku wahai tuan?" Lantas dijawab oleh Sayyidi Ibrahim bin Adham, "kenapa tidak. Akibat pukulanmmu padaku, aku menjadi sabar atas perbuatanmu, dan aku akan di masukkan kedalam Surga-Nya. Maka sudah seharusnyalah aku berterima kasih kepada engkau. Maka dari itu aku membalas dengan mendoakanmu semoga Allah mengampunikesalahanmu." Sejak saat itu, tentera itu mengabdi pada Sayyidi Ibrahim bin Adham dan menjadi santri beliau. Begitulah contoh akhlak dan sikap seorang wali Allah, seorang yang mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Seharusnya kita sebagai orang Islam berusaha untuk meniru akhlak mulia yang dicontohkan oleh para 'ulama dan auliya', yang pada hakikatnya adalah merupakan limpahan daripada cahaya Rasulullah sallallahu 'alayhi wasallam. PENUTUP SIMPULAN Seperti dalam hadits rosul bahwa sanya sabar itu di ibaratkan seperti menggenggam bara yang panas, bukan berarti sabar itu sangat sulit dilakukan. Jika sikap sabar sudah terpatri dalam diri kita, maka sabar akan melekat dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. sabar merupakan salah satu sifat dan karakter orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena pada dasarnya kita memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya. Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama-sama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya, Amin. DAFTAR PUSTAKA Ibnu Qayyim Al-Zauwjiyyah, Al-Fawa’id. Supiana dan karman, 2003, materi pendidikan islam, (bandung : rosda). Saputra Thiyib sah dan wahyudin, 2004, aqidah akhlak, (semarang: toha putra) Departemen Agama RI, 2004, Al-Qur’an digital dan terjemahan, K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, Prof Dr. H.M.D. Dahlan. Penerbit: CV Diponegoro, Bandung. Tasmara Toto, 2001, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence), (Jakarta: Gema Insani Press). By: IIn SUGIARTI AT 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar