Minggu, 08 Mei 2016
Filsafat Timur
Nama : Iin Sugiarti
Nim : 2032113012
Prodi : Akhlak dan Tasawuf
Soal
1. Perbedaan Filsafat dan Agama dalam Kehidupan
2. Tradisi / Pemikiran Filsafat India
3. Ciri Khas Pemikiran Filsafat India dan Cina
4. Pengaruh Pemikiran Filsafat Timur (Cina, India, Tiongkok, dan Jepang) dalam Sejarah dan Perkembangan Pemikiran Filsafat Jawa
Jawab
1. Perbedaan Filsafat dan Agama dalam Kehidupan
Istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang saat ini. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan pengalaman. Filsafat membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.
Agama dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Orang-orang yang mengetahui secara mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian dua mainstream disiplin ini.
Adapun definisi mengenai filsafat sangatlah luas dan bervariasi. Secara etomologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris, yaitu “philosophy”, sedangkan dalam bahasa Yunani “philein” dan “shofein”. Ada pula yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu “falsafah” yang artinya hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya berasal dari bahasa Yunani. “philos” artinya cinta, sedangkan “shopia” artinya kebijaksanaan atau pengetahuan. Oleh karena itu, filsafat dapat diartikan dengan cinta kebijaksanaan yang dalam bahasa Arab disitilahkan denganal-Hikmah. Para ahli filsafat disebut dengan filosof, yakni orang yang mencintai atau mencari kebijaksaan atau kebenaran. Filosof bukan orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yang sedang belajar mencari kebenaran atau kebijaksanaan.
Filsafat adalah pencarian kebenaran melalui alur berpikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berpikir sistematis tentu tidaklah meloncat-loncat melainkan mengikuti aturan main yang benar (logika). Penggunaan kata filsafat pertama sekali adalah Pytagoras sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masa itu yang menamakan dirinya orang bijaksana, orang arif atau orang yang ahli ilmu pengetahuan. Dalam membantah pendapat orang-orang tersebut Pytagoras mengatakan pengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh manusia.
Dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah slogan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Slogan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum ia jadi tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: filsafah adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
filsafat pun mempunyai dua objek kajian, yakni objek material dan objek formal. Objek material yaitu objek atau lapangan yang dilihat secara keseluruhannya (manusia, hewan, alam, dan sebagainya). Sedangkan objek formal yaitu objek jika dipandang dari suatu sudut tertentu saja atau hakekat terdalam.
Objek Material
Isi filsafat ditentukan oleh obyek apa yang dipikirkan. Obyek mengenai penyelidikan terhadap segala yang ada dan mungkin ada disebut obyek material filsafat.
Menurut para filsuf, objek material dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
a) Tipikal atau sungguh ada dalam kenyataan (misal: meja yang tampak nyata, sekarang ada).
b) Ada dalam kemungkinan (misal: ayam dari telur, keuntungan dari investasi).
c) Dalam pikiran atau konsep (misal: angka).
Sebenarnya obyek material filsafat mempunyai banyak kesamaan dengan obyek material sains, namun obyek material filsafat lebih luas karena obyek ini menyelidiki hal-hal yang bersifat abstrak dan ini tidak dapat diteliti oleh obyek material sains yang bersifat empiris. Obyek material filsafat mencakup tiga masalah pokok yaitu, Tuhan, alam semesta dan manusia. “Keluasan” ini hanya dibatasi oleh cakrawala pemikiran terhadap permasalahan yang tampak.
2. Objek Formal
Adalah penyelidikan yang mendalam mengenai hakikat terdalam substansi, esensi dan intisari. Arti mendalam di sini ialah ingin tahu tentang obyek yang tidak empiris. Penelitian filsafat terletak pada daerah tidak dapat diriset, tetapi dapat dipikirkan secara logis. Jadi, sains menyelidiki dengan riset, filsafat meneliti dengan memikirkannya.
Dari kedua obyek di atas, filsafat dapat diartikan sebagai hasil pemikiran manusia untuk memahami dan mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari pemahaman ini. Filsafat mengkaji segala sesuatu yang ada. Sedangkan tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenarnya yang disusun secara sistematis mulai dari mengumpulkan pengetahuan, mengajukan kritik, menilai pengetahuan tersebut, menemukan hakikat kebenarannya, menerbitkan dan mengaturnya.
Obyek-obyek ini juga berkaitan dengan fakta-fakta yang ada. Dan cara untuk membicarkan fakta-fakta tersebut yaitu :
a) Mengajukan kritik terhadap makna suatu fakta.
b) Menarik kesimpulan umum dari fakta tersebut.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa filsafat adalah jenis berpikir yang memiliki ciri-ciri bersifat sistemati, kritis, radikal, refleksif dan intgral. Dengan kata lain berfikir filsafat berbeda dengan ilmu pengetahuan karena pendekatnnya bersifat integral, yakni tidak mengkaji suatu problem dari satu sisi saja namun secara menyeluruh. Filsafat juga kritis dalam mengkaji obyeknya, dalam arti ia tidak pernah berhenti pada penampakan, asumsi, dogmatisme, melainkan terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan demi mencapai hakekat.
Sedangkan Agama merupakan salah satu aspek yang paling penting dari aspek-aspek budaya yang dipelajari oleh para antropolog dan para ilmuwan sosial lainnya. Sangat penting bukan saja yang dijumpai pada setiap masyarakat, tetapi juga karena penting saling pengaruh-mempeharuhi antara lembaga budaya satu dengan lembaga budaya lainnya. Di dalam agama itu dijumpai ungkapan materi budaya dalam tabiat manusia serta dalam sistem nilai, moral dan etika.
Kata term “agama” meskipun keberadaanya dimasyarakat sudah begitu populer, namun secara ontologis ia masih sulit untuk dirumuskan pengertiannya. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa agama sebagai sebuah term yang relatif mudah diucapkan tetapi sangat sulit didefinisikan secara tepat.
Sementara dalam kepuastakaan Arab ada ungkapan yang berbeda dalam memberikan pengertian din (agama). agama ialah suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendak sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan kelak di akherat.
Dalam perspektif ilmu, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang ingin dibedakan dengan jelas di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman (inteleksi) dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama, yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Ini sangat jelas tampak dari kata dan Al-Farabi tentang filsafat dan agama. Istilah yang digunakannya untuk menyatakan perbedaan agama dari filsafat adalah millah; bukan din. Ini menunjukkan kehendak Al-Farabi membedakan filsafat secara kontras tidak dengan tradisi wahyu dalam totalitasnya, melainkan dengan dimensi eksoterik tradisi wahyu. Karena itu, dia lebih suka menggunakan istilah millah dari din. Millah lebih tepat karena dia mengacu pada komunitas religius di bawah sanksi ilahi dengan seperangkat kepercayaan dan undang-undang atau perintah-perintah hukum moral yang didasarkan pada wahyu. Dimensi eksternal dari tradisi wahyu harus diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik komunitas religius ini
Dalam Tahshîl al-sa’âfidah AI-Farabi secara terang-terangan menyatakan pandangannya perbedaan filsafat dan agama dari segi sifatnya serta hubungan antara keduanya: Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan intelektualnya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat. Tetapi jika gagasan -gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan pada mereka karena metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang mengambil mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.
Al-Farabi menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu, kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Farabi, perbedaan filsafat dan agama yaitu filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama menampilkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.
2. Tradisi / Pemikiran Filsafat India
Filsafat India memiliki dua wilayah, yakni wilayah Hindu dan wilayah Buddha. Dalam kepastian yang lain bahwa memang tidak bisa dipungkiri perbedaan sifat-sifat Filsafat India dari filsafat Yunani adalah faktor yang juga ikut dalam memberikan pemahaman berbeda terhadap siklus sebuah filsafat. Sehingga tidak aneh, apabila timbul beberapa asumasi dari kalangan tertentu yang tidak sepaham dengan aliran filsafat India. Apakah sifat-sifat khusus yang membedakan itu? ada beberapa hal yang bisa kita tarik benang merah yang membuat pengamatan orang berbeda terhadap filsafat Yunani dan filsafat India, diantaranya;
• Suasana dan bakat orang India yang berlainan dengan bakat Yunani misalnya dalam hal bahasa.
• Seluruh pengetahuan dan fislafat dalam India diabadikan kepada usaha pembebasan atau penebusan, sedangkan Yunani benar-benar mencari sebuah kebenaran yang hakiki.
• Berpangkal dari buku-buku kuno, Weda yang otoritasnya tidak dapat diganggu gugat, hanya bisa ditafsirkan dan diterangkan lebih lanjut. Sedangkan Yunani tidak terikat oleh aturan itu.
• Perumusan-perumusan umumny dirasa kurang tajam, tidak tegas, membeda-bedakan antara misalnya; sifat-sifat diri, konkrit-abstarak, hidup tak hidup, kesatuan persamaan, dan sebab-alasan. Dari sini mengakibat filsafat India mendapati sifat samar yang mempersulit pemecahan besar. Karena pengaruh ma-besar dari tulisan-tulisan kuno itu, maka sistem-sistem filsafat sering sukar dibedakan corak-coraknya yang khusus, sering sukar juga untuk mengikuti jalan pikiran dan mencapai sintesis.
• Dalam sistem ditemukan sejumlah pengertian yang tidak timbul dari padangan filsafat, melainkan merupakan warisan dai zaman kuno dan yang memegang peranan penting dalam semua sistem-sistem itu itu (kecuaili dalam carvaka), misalnya dengan dan kelahiran kembali, mukti, samsara, Atman dan Brahmana. Demikian pula dengan prinsip-prinsip etika (mengusai diri, hormat terhadap hidup dan sebagainya).
Dalam kenyataan yang sangat dekat dengan kita bisa dikatakan bahwa filsafat India memberikan konstribusi besar dalam bidang spritual, etika, agama, moral, kesenian, bahasa, dan ilmu-ilmu pengetahun besar lainnya. Karena itu, filsafat India sejak zaman kuno sudah mengedepankan nilai-nilai nilai-nilai asketisme dan spritualisme daripada materialisme dan peradaban. Dari sini pula, mengapa peradaban India tidak terlalu bisa diteliti secara akurat karena kekurangan bahan literasi yang hendak dituju.
3. Ciri Khas Pemikiran Filsafat India dan Cina
Filsafat India telah memberikan konstribusi besar dalam bidang spritual, etika, agama, moral, kesenian, bahasa, dan ilmu-ilmu pengetahun besar lainnya. Karena itu, filsafat India sejak zaman kuno sudah mengedepankan nilai-nilai nilai-nilai asketisme dan spritualisme daripada materialisme dan peradaban.
Sedangkan menurut Rabindranath Tagore (1861-1941), filsafat india fokus pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni individu dan kosmos. Harmoni ini harus disadari supaya dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan sebagai penjara. Orang india bukan belajar menguasai dunia, tetapi untuk bersatu menjalin hubungan yang baik dengan dunia atau alam. Filsafat India berpusat pada tulisan kuno yang yaitu Weda, antara lain :
1. Samphita (Reg-Weda, Sama-Weda, yayur-Weda, Atharva-Weda)
2. Brahmana (1000-700 sebelum masehi) mengangkat tentang kurban-kurba dan upacara-upacara.
3. Aranyaka (buku-buku hutan belukar, ajaran rahasia)
4. Upanishad (periode ke 1. 700- 600 sebelum masehi)
Tulisan di atas berisi pemahaman-pemahaman dan sistem-sistem kehidupan India pada saat itu, seperti unsur-unsur ajaran animisme dan dinamisme, monotheisme (dalam prayapati-supreme of all beings atau visnakama = all creator). Khususnya pengertian “Brahmana” yang mutlak kekal. Sedangkan ”Atman” merupakanjiwa dan kesatuan mereka (Tattyasi; Brahmana=Atman).
Begitu juga tentang pengertian jiwa, dunia, perpindahan jiwa dan teori-teori pengetahuan (apa yang benar, tenag sebab-akibat, keindaraan dan akal). Tidak lepas pada hal yang terkait dengan Mukti, Karma, Samsara, dan Yoga. Sehingga pada akhirnya kita mendapati dua aliran, dimana dibedakan menurut sikap terhadapkeberadaan Weda yakni;
1. Astika (ortodoks) mengakui Weda sebagai otoritas tertinggi dan mempercayai adanya Tuhan. Dikenal juga dengan Sad Daruana(Nyaya, Yoga, Saykhya, Vaiueuika, dan Mimaysa, Wedanta, dan Mimaysa Wedanta).
2. Nastika (heterodoks) tidak mengakui adanya Tuhan dan juga tidak mengakui Weda sebagai otoritas tertinggi. Carvaka (materialis), Buddha dan Jaina. Walaupun Buddha dan Jaina tidak mempercayai adanya Tuhan, mereka percaya dengan adanya spiritual dan keabadian. Buddha dan Jaina muncul sebagai protes terhadap ajaran yang dikembangkan di dalam agama Brahmaoa yang menekankan pada kehidupan ritual.
Sedangkan ciri khas filsafat Cina yaitu mengutamakan pemikiran praktis berkenaan masalah dan kehidupan sehari-hari. Karena dahulu di Cina terdapat masalah politik dan pemerintahan merupakan masalah sehari-hari yang tidak dapat dihindarkan. Para ahli sejarah, mengemukakan beberapa ciri yang muncul akibat kecenderungan tersebut, adalah :
a. Dalam pemikiran kebanyakan orang Cina antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian spekulatif kurang mendapat tempat tempat dalam tradisi filsafat Cina, sebab filsafat justru lahir karena adanya berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan yang aktual.
b. Secara umum filsafat Cina bertolak dari semacam ‘humanisme’. Manusia dan perilakunya dalam masyarakat dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan menjadi perhatian utama sebagian besar filosof Cina.
c. Dalam pemikiran filosof Cina etika dan priritualitas (masalah keruhanian) menyatu secara padu. Etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya. Di lain hal konsep keruhanian dungkapkan melalui perkembangan jiwa seorang yang menjunjung tinggi etika.
d. Secara umum filsafat Cina dapat diartikan sebagai ‘Seni hidup bermasyarakat secara bijak dan cerdas’. Kesetaraan, persamaan dan kesederajatan manusia mendapat perhatian besar.
e. Filsafat Cina mengajarkan sikap optimis dan demokratis
f. Agama dipandang tidak terlalu penting dibandingkan kebijakan berfilsafat. Mereka menganjurkan masyarakat mengurangi permborosan dalam penyelenggaraan upacara keagamaan atau penghormatan pada leluhur.
g. Penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam filsafat hukum dan politik.
h. Para filosof Cina berhasil membangun etos masyarakat Cina seperti mencintai belajar dan mendorong orang gemar melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu sebelum memecahkan dan melakukan sesuatu.
4.Pengaruh Pemikiran Filsafat Timur (Cina, India, Tiongkok, dan Jepang) dalam Sejarah dan Perkembangan Pemikiran Filsafat Jawa
Filsafat timur merupakan tradisi filsafat yang berkembang terutama di Asia. Khususnya di India, Tiongkok dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Peradapan Yunani, Romawi dan Persia jelas menyumbangkan pengetahuan yang sangat berharga bagi seluruh dunia terutama filsafat. Masyarakat dunia harus mulai sadar bahwa bukan hanya filsafat Yunani dan Romawi yang mendunia, tetapi filsafat India, Cina juga tidak kalah dengan filsafat barat. Filsafat India mengusung keyakinan akan kesatuan fundamental antara manusia dengan alam. Sadangkan filsafat Cina merupakan salah satu filsafat tertua dan dipercaya menjadi dalah satu dasar dari tiga filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah filsafat dunia. Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Cina, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan.
Keberadaan filsat Timur sangat mempengaruhi terhadap sejarah dan perkembangan filsafat Jawa. Sebab Indonesia merupakan negara majemuk dan tentunya banyak suku di Indonesia yang falsafahnya masing-masing menjadi budaya Jawa. Dalam berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen (peribahasa) untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, “Wong Jowo sing ora njawani”.
Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan dan mengajarkan hidup kita agar senantiasa “Eling lan Waspodo”. Begitu juga falsafah “Urip Iku Urup” (Hidup itu Nyala) yang berarti hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat.
Jawa dan kejawen merupakan bagian tak terpisahkan satu sama lain. Kejawen bisa menjadi penutup atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, pada masa Hindu dan Budha. Filsafat Jawa adalah cinta kesempurnaan (the love of perfection) dengan memakai analogi philosophis Yunani. Sedangkan dalam bahasa jawa dikenal dengan bahasa ngudi kasampurnan, yaitu berusaha mencari kesempurnaan.
Sedangkan philosophia Yunani bila dibaca dengan bahasa Jawa menjadi ngudi kawicaksanan. Filsafat Jawa sangat berkaitan dengan Tuhan dan manusia, yaitu wujud mutlak dan wujud ilahi (relative) yang selalu melatar-belakangi pengalaman ekstase kesatuan abdi dan Tuhan. Hal tersebut dilakukan demi usaha mencari keterangan pengertian dan untuk mendalami makna dari seluruh yang ada.
Hal tersebut yang membedakan dengan pemahaman filsafat barat, karena dalam filsafat Jawa yang ditekankan adalah dari mana dan ke mana semua wujud ini atau dengan istilah sangkan paran:
1. Sangkan paraning dumadi (awal-akhir alam semesta)
2. Sangkan paraning manungsa (awal-akhir manusia)
3. Dumadining manungsa (penciptaan manusia)
Maka dapat disimpulkan bahwa filsafat Jawa bermuara pada sangkan paraning dumadi dan manungsa, yaitu awal berarti berasal dari Tuhan dan akhir berarti kembali kepada Tuhan.
Filsafat jawa terbentuk karena perkembangan kebudayaan jawa asli (animisme-dinamisme sebagai akibat dari pengaruh agama Hindu dan Budha dan Islam. Orang-orang Hindu dan Budha dari India yang membawa agama tersebut serta orang-orang muslim yang datang ke tanah Jawa juga menyebarkan agama Islam serta alam pikiran Islam (filsafat Islam). Akhirnya kebudayaan Jawa asli, filsafat Hindu-Budha, filsafat serta agama Islam melebur menjadi suatu alam pikir Jawa (filsafat Jawa).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar