Senin, 04 April 2016

sejarah agama Buddha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam alur sejarah agama-agama di India zaman agama Budha dimulai sejak tahun 500 SM hingga tahun 300 M. Secara historis agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya yaitu agama hindu. Banyak yang belum tahu benar tentang agama Budha, terutama mereka yang bukan pemeluk agama Budha, ada yang berpendapat bahwa agama tersebut sesungguhnya bukan agama, karena tidak mengajarkan ketuhanan. Adapula yang berpendapat bahwa Budha Gautama sebenarnya hanya menyampaikan ajaran moral belaka. Sidharta, demikian nama sebenarnya, hanyalah mengajarkan kepada manusia agar menghindari kejahatan tertentu seperti: membunuh, mencuri, mendusta, berzina, mabuk madat dan sebagainya. Maka perlu diketahui apakah yang membedakan agama Budha dari agama-agama lain dan ajaran moral lain. tidak mudah untuk menerangkan hal ini, terutama bagi kami yang tidak mendidik dalam agama Budha, begitu juga tidak mudah untuk menerangkan konsep-konsep agama Budha kedalam bahasa lain, karena seringkali tidak ada kata-kata yang tepat untuk menjelaskan istilah-istilah dalam agama Budha. Maka dalam hal ini, penulis mencoba mensajikan penulisan makalah tentang Buddisme dari berbagai literatur yang penulis dapatkan sebagai bahan referensi makalah ini sebagai bahan sajian diskusi kajian tentang ajaran Agama Buddha. 1.2 Rumusan Masalah 1. latar belakang asal-usul munculnya agama Buddha 2. pokok-pokok ajaran agama Buddha 3. konsep Tuhan dalam Agama Budha BAB II PEMBAHASAN 2.1 Asal Usul Agama Budha Agama Buddha adalah agama yang dipeluk oleh sebagian besar penduduk Asia. Terdapat lebih dari lima ratus juta penganut agama Buddha di dunia ini yang jumlahnya mencakup seperempat penduduk dunia. Banyak penganut agama Buddha yang tidak menyadari ajaran-ajaran agung guru mereka. Bila seseorang ingin mengikuti ajaran Buddha dengan benar dan ingin disebut sebagai umat Buddha yang baik, maka ia harus mempelajari kehidupan dan ajaran-ajaran Sang Buddha . Asal usul agama Budha diketahui berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan para ilmuwan dengan memanfaatkan berbagai objek pengamatan seperti peninggalan sejarah, cerita-cerita kuno, dan apa yang tertulis dalam berbagai kitab masa lampau. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa agama Budha terlahir di abad ke-6 SM di Nepal. Orang yang menjadi pencetusnya adalah seorang ksatria bernama Siddharta Gautama. Agama ini muncul dari perpaduan berbagai kebudayaan seperti kebudayaan helinistik (Yunani), kebudayaan Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Agama ini juga muncul karena adanya reaksi terhadap hadirnya agama Hindu yang muncul lebih awal. Dari Nepal, agama Budha menyebar dengan cepat mengalahkan penyebaran agama Hindu ke berbagai daerah di India, hingga ke seluruh benua Asia. Hingga kini, agama Budha sudah menjadi agama mayoritas di beberapa negara seperti Thailand, Kamboja, Singapura, Myanmar, dan Taiwan. Perkembangan Agama Budha Agama Budha mencapai masa kejayaan di zaman pemerintahan Raja Ashoka (273-232 SM) yang menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara. Pada zaman raja Ashoka banyak dibangun bangunan-bangunan yang sangat berharga bagi Agama Budha seperti stupa dan tugu-tugu yang terkenal dengan sebutan Tiang-Tiang Ashoka. Dalam perjalanannya yakni setelah 100 tahun meninggalnya Sang Budha, agama Budha terpecah menjadi 2 aliran. Perpecahan tersebut terjadi karena adanya penafsiran yang berbeda dari masing-masing kubu. Ke dua aliran tersebut adalah aliran Budha Hinayana dan aliran Budha Mahayana . Aliran budha Hinayana mempunyai sifat-sifat tertutup, dalam artian aliran yang berpendapat bahwa setiap orang hanya dapat mengejar pembebasan dari samsara untuk dirinya sendiri. Sedangkan aliran budha Mahayana mempunyai sifat-sifat terbuka, dalam arti setiap umat manusia berhak menjadi seorang Budha sehingga pengaruhnya dapat membebaskan dirinya dan orang lain dari samsara (kesengsaraan). Sekilas Tentang Agama Budha Ke semua aliran agama Budha, baik Hinayana maupun Mahayana berpegang pada kitab Tripitaka sebagai kitab suci. Dalam kitab ini tercatat ajaran dan sabda dari sang Budha yang kemudian dijadikan pedoman hidup bagi penganut agama Budha. Kitab Tripitaka sendiri terbagi menjad 3 buku yaitu Sutta-Pitaka yang berisi khotbah dari sang Budha, Vinaya-Pitaka yang berisi peraturan dan tata tertib bagi para biksu, dan Abhidhamma-Pitaka yang berisi ajaran hukum metafisik dan psikologik. Agama Budha yang berada di Indonesia telah melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang sejak pertama kali tercatat dalam sejarah Indonesia. Kerajaan Kalingga, di Jepara, Jawa Tengah, merupakan kerajaan Budhis tertua di Indonesia. Perkembangannya mengalami kejayaan pada masa kerajaaan Sriwijaya di Palembang, sumatra. Kira-kira pada abad ke-7 Masehi, dengan perguruan tinggi Buddhis yang terkenal pada masa itu, dan banyaknya para pelajar luar negri yang menimba ilmu Agama Budha di perguruan tinggi tersebut. Di Jawa, perkembangan agama Buddha mencapai masa keemasannya pada masa kerajaan Mataram Kuno di kedu, Jawa tengah, pada abad ke-8 sampai ke-9 Masehi, yang diperintah oleh raja-raja wangsa Sailendra, candi-candi Budhis dibangun pada masa ini. Kerajaan Maajapahit merupakan kelanjutan agama Buddha di Indonesia abad ke-13 sampai dengan abad ke-15. Umat Buddha Indonesia saat ini memiliki beberapa organisasi keagamaan. Organisasi keagamaan ini berkumpul dalam satu wadah federatif Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi). Agama Budha mengenal 4 hari raya keagamaan dalam satu tahun. Keempatnya antara lain Hari Raya Waisak, Kathina, Asadha, Magha Puja. Kendati memiliki 4 hari besar keagamaan, di Indonesia mungkin kita hanya akrab dengan hari raya Waisyak saja. Hari raya Waisyak sebagai satu-satunya hari besar keagamaan agama Budha yang menjadi hari libur nasional ini adalah hari yang digunakan sebagai peringatan 3 peristiwa penting dalam kepercayaan umat Budha. Ketiga peristiwa penting tersebut antara lain peringatan kelahiran Sang Budha, hari penerangan sempurna bagi Sang Budha, dan hari wafatnya Sang Budha. 2.2 Pokok Ajaran Agama Budha Ajaran pokok yang disampaikan oleh Buddha Gautama kepada murid-muridnya berupa empat kebenaran mulia, yang disebut catur Satyani, yang terdiri dari: a. Dukha (Penderitaan) Maksudnya yaitu bahwa hidup di dunia adalah penderitaan. Semua makhluk adalah sasaran dari Dukkha.kesenangan yang dialami oleh makhluk hanya berlangsung dalam waktu singkat, yang kemudian diikuti oleh penderitaan. Oleh karena itu kesenangan sebenarnya adalah pangkal penderitaan. b. Samudaya (Sebab Penderitaan) Yang menyebabkan penderitan adalah keinginan untuk hidup (The will to live) yang disebut Tanha. Keinginan untuk hidup yang menyebabkan timbulnya keinginan-keinginan lain, yaitu trisna atau kleca, seperti ingin makan enak, kekayaan, kekuasaan, dsb. Dan dengan adanya keinginan untuk hidup menyebabkan seseorang harus samsara. c. Nirodha (pemadaman) Maksudnya bahwa cara pemadaman atau menghilangkan penderitaan itu dengan jalan yang menghaapus tanha. d. Margha (jalan untuk menghilangkan tanha) Bila tanha telah hilang, maka seseorang akan mencapai Nirwana (alam kesempurnaan), dimana ia akan merasakan nikmat yang abadi. Untuk menghilangkan tanha, manusia harus mencapai delapan jalan yang mulia, yang disebut Astra Arya Margha, yaitu: a. Kepercayaan yang benar (Memahami dan menerima Empat Kebenaran Mulia.) b. Niat dan pikiran yang benar (Mengembangkan pikiran yang dermawan, cinta kasih dan belas kasih) c. Perkataan yang benar (Menghindari kebohongan, fitnah, ucapan kasar dan gossip. Untuk mengupayakan ucapan yang jujur, mendamaikan, yang baik dan bermanfaat). d. Perbuatan yang benar (Menghindari pembunuhan, pencurian dan perzinahan. Untuk mengupayakan cinta kasih, kejujuran dan kesetiaan. e. Mata pencaharian yang benar (Menghindari pekerjaan yang meliputi pembunuhan (manusia dan hewan), menjual daging hewan, perdagangan manusia, senjata, racun dan minuman yang memabukkan. Pekerjaan yang tidak etis, tidak bermoral dan tidak sesuai dengan hukum seharusnya juga dihindari). f. Usaha yang benar (Menerapkan disiplin mental dalam mencegah timbulnya pikiran jahat, dan untuk menghilangkan pikiran jahat yang telah timbul. Dalam mengembangkan pikiran baik, dan untuk mempertahankan pikiran baik yang telah timbul). g. Kesadaran yang benar (Memperhatikan tubuh, posisi tubuh dan sensasi. Memperhatikan pikiran dan bentuk-bentuk pemikiran, emosi dan perasaan). h. Samadhi yang benar. (Mempraktekkan meditasi untuk melatih pikiran yang manunggal dan terarah dalam mengembangkan dan memperoleh kebijaksanaan). Selama hidupnya, Buddha Ghautama tidak mengerjakan cara-cara menyembah kepada Tuhan, maupun konsepsi k-Tuhan-an (Theologi), walaupun dalam wejangannya kadang menyebut Tuhan. Ia lebih menekankan pada ajaran hidup suci, sehingga banyak para ahli yang menyebutkan ajaran Budha merupakan ajaran Moral belaka. Dalam syahadat (ucapan kesaksian) agama Buddha yang disebut Triratna, berbunyi:” Aku nerlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dharma, Aku berlindung kepada Sangha”. Tiga Karateristik Kehidupan (tiga Corak kehidupan) Buddha juga menemukan bahwa semua kehidupan memiliki tiga karateristik. Anicca Segala sesuatu tidak kekal, dan segala sesuatu berada dalam proses perubahan menjadi sesuatu yang lainnya. Misalnya, kita semua berada dalam proses penuaan. Bahkan bintang dan galaxi juga dalam proses perubahan. Dukkha Karena segala sesuatu tidak kekal, kehidupan merupakan sasaran dari penderitaan. Selalu saja ada hasrat terhadap yang menyenangkan, dan juga penolakan terhadap yang tidak menyenangkan, yang dihasilkan dari sifat alami kehidupan yang terus berubah. Anatta Tidak ada diri yang kekal atau yang tidak berubah. ‘Diri’ yang keberadaannya kita percayai, tak lain hanya terdiri dari berbagai unsur mental dan jasmani, yang berada dalam keadaan yang terus berubah oleh proses Sebab dan Akibat. Kelahiran Kembali Karena tidak adanya diri yang kekal/tidak berubah, ajaran Buddha menolak keberadaan jiwa/roh yang kekal/tidak berubah yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya . Menurut ajaran Buddha, batin atau kesadaran bergerak dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Dalam paradoks yang nampak ini, orang yang berusia 70 tahun tidaklah berbeda ataupun serupa dengan orang semasa dia berusia 20 tahun. Perbedaan dan persamaan ini secara mental dan jasmani. Begitu juga, batin atau kesadaran yang bergerak dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya tidaklah berbeda ataupun serupa dengan yang ada di kehidupan sebelumnya. Misalnya, jika nyala api dari satu lilin digunakan untuk menyalakan lilin yang lain, nyala api dari lilin kedua tidaklah serupa ataupun berbeda dari nyala api lilin pertama. Walaupun nyala api dari lilin kedua berasal dari lilin pertama. Kamma dibawa serta oleh kesadaran menuju kehidupan yang berikutnya. Konsep ini akan susah untuk dipahami pertama kalinya. Namun, dengan pengetahuan dan pemahaman, dan praktek meditasi pandangan terang, realisasi dan pengetahuan akhir akan timbul di dalam diri seorang praktisi. 2.3 Konsep Tuhan Dalam Agama Budha Perlu di tekankan bahwa di dalam ajaran Buddha yang sesungguhnya (aslinya) sang Buddha Sidharta Gautama bukanlah tuhan melainkan hanyalah seorang guru, juru pandu bagi manusia. Konsep ketuhanan dalam agama buddha berbeda dengan konsep dalam agama samawi dimana alam semesta diciptakan oleh tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan tuhan yang kekal. Tetapi konsep didalam agama Buddha bahwasannya asal muasal dan penciptaan alam semesta bukan berasal dari tuhan, melainkan karena hukum sebab dan akibat yang telah disamarkan oleh waktu, dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya, tidak ada dewa-dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran serta realitas sebenar-benarnya. Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka, maka bukan hanya konsep ketuhanan yang berbeda dengan konsep ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan keselamatan atau kebebasan. Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis (yakni, pada umumnya tidak mengajarkan keberadaan tuhan sang pencipta atau bergantung kepada tuhan sang pencipta demi dalam usaha mencapai pencerahan, sang Buddha Gautama adalah pembingbing atau guru yang menunjukkan jalan menuju nirwana ) serta selama hidupnya Buddha Gautama tidak pernah mengajarkan cara-cara menyembah kepada tuhan maupun konsepsi ketuhanan meskipun dalam wejangannya kadang-kadang menyebut tuhan, ia lebih banyak menekankan pada ajaran hidup suci, sehingga banyak para ahli sejarah agama dan sarjana teologi islam mengatakan agama Buddha sebagai ajaran moral belaka.jika diperhatikan dalam perkataan atau khotbah-khotbah Buddha Gautama dan soal jawabnya dengan kelima temannya di Benares, ia tidak percaya kepada tuhan-tuhan yang banyak, dewa-dewa, dan berhala-berhala yang dipuja dan disembah sepertihalnya dalam agama hindu, bahkan penyembahan demikian dicela dalam ajaran Buddha dan oleh sang Buddha Gautama itu sendiri. Akan tetapi ketuhanan brahma, tetap di akui oleh buddha sidharta Gautama, ia tetap mengakui Brahma sebagai tuhannya. Dalam salah satu ucapannya Buddha Gautama pernah mengatakan: “biarkan Tuhan menjadikan segala sesuatu, dan manusia hendaklah memelihara kesucian ciptaan Tuhan, kesucian yang sempurna itulah dia Tuhan. Kesucian demikian harus terdapat pada tiap-tiap manusia” dan didalam kitab tipitaka ia juga mengatakan:“ketahuilah para bikkhu bahwa ada sesuatu yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak. Duhai para bikkhu, apabila tidak ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bikkhu, karena ada yang tidak dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak tercipta, yang mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Ungkapan di atas adalah pernyataan dari sang Buddha yang terdapat dalam sutta pitaka, udana VIII : 3, yang merupakan konsep ketuhanan yang maha esa dalam agama Buddha. Ketuhanan yang maha esa dalam bahasa pali adalah Atthi Ajatan Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya : “suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelma, tidak diciptakan dan yang mutlak”. Dalam hal ini, ketuhanan yang maha esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya yang mutlak, yang tidak berkondisi(asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi. Dengan membaca konsep ketuhanan yang maha esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Oleh karena ajarannya yg tentang ketuhanan yang tidak begitu banyak diuraikan dan di jelaskan , maka sepeninggalan Buddha, patung Buddha sendiri telah menjadi sembahan yang utama bahkan juga sisa peninggalannya seperti abu mayatnya, potongan kukunya, rambutnya yang tersimpan dalam stupapun telah dipuja dan disembah. Padahal Buddha Gautama mencela penyembahan kepada patung dan berhala tetapi penganut Buddha sendiri sepeninggalannya telah menempatkan patung-patungnya didalam candi, kuil dan stupa untuk disembah. Dalam hal ini kita dapat menyimpulkan bahwa Buddha Gautama sendiri tetap menuhankan brahma semata, ia tidak menyakini ketuhanan yang lain, hanya Buddha Sidharta Gautama tidak menjelaskan dan menerangkan tentang dasar-dasar bagaimana cara beriman dan menyembah kepada tuhan dalam agamanya. BAB III PENUTUP Simpulan Agama Budha diketahui berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan para ilmuwan dengan memanfaatkan berbagai objek pengamatan seperti peninggalan sejarah, cerita-cerita kuno, dan apa yang tertulis dalam berbagai kitab masa lampau. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa agama Budha terlahir di abad ke-6 SM di Nepal. Orang yang menjadi pencetusnya adalah seorang ksatria bernama Siddharta Gautama. Agama Budha yang berada di Indonesia telah melalui perjalanan sejarah yang cukup panjang sejak pertama kali tercatat dalam sejarah Indonesia. Kerajaan Kalingga, di Jepara, Jawa Tengah, merupakan kerajaan Budhis tertua di Indonesia. Perkembangannya mengalami kejayaan pada masa kerajaaan Sriwijaya di Palembang, sumatra. Dalam Ajaran Budha dikenal dengan catur Satyani, yang terdiri dari Dukha, samudaya, Nirodha dan Margha. Dimana dalam keempat ajaran tersebut memiliki korelasi satu sama lain. Untuk mencapai tanha, maka diperlukan delapan supleen yang disebut Astra Arya Margha. Dalam hal ke-Tuhanan, Buddhis (sidharta Gautama) tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. Namun justru pada perkembangannya patung Buddhis oleh masyarakat Buddhisme sekarang dianggap sebagai Tuhan.

1 komentar:

  1. http://taipanqqculinary.blogspot.com/2018/02/lezatnya-spaghetti-pelangi-bekal-unik.html
    http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/02/akhir-pelarian-pencuci-uang-terbesar-di.html
    http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/02/imbas-longsor-kai-hentikan-operasi.html

    QQTAIPAN .ORG | QQTAIPAN .NET | TAIPANQQ .VEGAS
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 7 Permainan.
    • BandarQ
    • AduQ
    • Capsa
    • Domino99
    • Poker
    • Bandarpoker.
    • Sakong
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : D60E4A61
    • BB : 2B3D83BE
    Come & Join Us!

    BalasHapus