Minggu, 20 Desember 2015
munculnya aliran kebatinan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Munculnya Aliran Kebatinan
Pada saat terjadi perang kemerdekaan berbagai propaganda dan semangat-semangat nasionalisme begitu digencarkan, hal itu dilakukan sebagai usaha mempertahankan kemerdekaan yang baru terbentuk. Orang-orang bersatu dengan segala cara supaya bisa memenangkan perang dengan kolonial Belanda. Berbagai laskar-laskar rakyat dibentuk untuk membantu angkatan bersenjata. Hal itu menumbuh suburkan perguruan atau paguyuban aliran kejawen dalam rangka ikut andil dalam perang kemerdekan. Ratusan kaum laki-laki dan para pemuda berduyun-duyun mencari kesaktian atau kekebalan tubuh untuk mencari keselamatan.
Dari hal tersebut diperkirakan segala bentuk-bentuk mistik yang telah terkubur selama ratusan tahun atau hanya orang-orang tertentu yang mengetahui hal itu, menjadi terbuka lebar bagi kalangan umum. Pada masa itu orang begitu disibukkan dengan istilah kemerdekaan, untuk itu untuk mendukung kemerdekaan tersebut banyak masyarakat yang ikut berjuang secara fisik yaitu berperang melawan musuh. Semangat itu membuat mereka harus ikut andil entah bagai manapun caranya termasuk dengan berbagai kegiatan mistik.
Tumbuhnya berbagai aliran kepercayaan itu juga sebagai dampak dari masa krisis dan masa transisi masyarakat. Masa krisis disebabkan karena berbagai permasalahan dan resesi ekonomi yang mendera. Krisis yang terjadi ini merupakan sebuah bencana luar biasa bagi masyarakat kita, karena berbagai bahan makanan yang sulit ditemui, tidak ada minyak tanah dan bahkan pakaian pun sulit didapat. Keadaan tersebut sungguh sangat menyengsarakan rakyat Indonesia.
Sedangkan masa transisi disebabkan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun (1940-1945) sudah terjadi perpindahan kekuasaan dari jaman Belanda ke jaman Jepang, kemudian menjadi jaman Indonesia merdeka. Ketidakpastian sistem kekuasaan membuat sebuah kebingungan tersendiri bagi rakyat. Terlebih kebijakan sistem pemerintahan yang diterapkan sangat berbeda, sehingga mengombang-ambingkan psikis rakyat
Kebingungan secara fisik dan psikologis itu membuat setiap orang harus terus survive dengan berbagai cara bersama keluarganya. Faktor itulah yang mendukung dan menimbulkan berbagai gerakan kebatinan atau menurut Bakker, SJ. masuk dalam kategori gerakan Gnostik yaitu sebuah gerakan sosio-agama yang sekali kali timbul dalam zaman kegoncangan besar.
Gerakan tersebut terjadi bila dalam sistem masyarakatnya terjadi perubahan sosial secara cepat atau bila nilai nilai moral dan keagamaan mendadak menjadi pudar sehingga nilai nilai yang di pegang menjadi lenyap, bila tekanan lahir mengasingkan manusia dari identitasnya maka muncul pula dengan yang disebut harkat gnostik. Harkat itu mendorong manusia untuk memikirkan kembali tempatnya dalam arus jaman, selain itu manusia semakin di dorong kedalam refleksi dan permenungan kedalam segala pemecahan masalah-masalah yang sedang memporak-porandakan sistem mereka. Gerakan ini bisa dimasukkan sebagai bagian dari mistik (jalan hidup spiritual) yang dekat dengan nuansa mistis.
Menurut Sartono Kartodirjo, maju mundurnya gerakan mistik selaras dengan keadaan sosial dan banyak contoh mengenai gerakan-gerakan mistik Khiliastik (yang sangat menantikan Ratu Adil. dan sejenisnya) yang dipimpin oleh guru-guru mistik yang kharismatis sebagai protes terhadap penindasan. Sama halnya dengan pendapat Niels Mulder, yang menganggap bahwa perkembangan ramai dari berbagai aliran mistik yang harus dimengerti sebagai usaha mengungkapkan diri dan mencari makna ditengah-tengah suatu jaman yang kacau. Bahkan hal itu terkadang sebagai suatu bentuk organisasi modern untuk mengidupkan kembali warisan kebudayaan Jawa.
Sementara solusi yang ditawarkan oleh kelompok agamawan tidak serta merta mampu menyejukkan jiwa masyarakat yang sedang kekeringan batin, doktrin ajaran yang biasa menjadi sangat menjemukan dan memuakkan bagi sebagian besar bagi masyarakat yang sedang menderita. Apalagi ajaran-ajaran agama yang terlalu bersifat doktriner teologis yang ketat.
Dimasa seperti itu orang butuh sesuatu yang mampu menjawab berbagai tantangan hidup dan perubahan jaman. Maka tak heran kalau ditengah kejenuhan hidup tumbuhlah berbagai aliran-aliran agama lokal yang menjanjikan sebuah pencerahan dan sebuah kepastian. Dari latar belakang keresahan seperti itulah yang mendorong segala jenis gerakan-gerakan kebatinan, semangat kebatinan ini menjadi harapan besar untuk datangnya jaman baru yang adil, aman, makmur, sentosa dll. Contoh yang paling nyata seperti halnya diwujudkan dengan kerinduan menantikan datangnya Ratu Adil Herucakra atau Satriya Piningit atau Imam Mahdi yakni sosok yang bisa melepaskan mereka dari ketertindasan dan kesejahteraan baru.
Saat itu banyak pilihan atau alternatif pilihan yaitu berupa paguyuban atau komunitas, dimana orang bisa mencari dan mendapatkan sebuah keselamatan, kedamaian dan kecukupan, yaitu seperti aliran kepercayaan Sapto Dharmo, Pangestu, Adam Makrifat, Kawruh Bejo, Budha Jawi, Pran-Suh, Waris Mataram dan lain sebagainya. Dalam data Departemen Agama tahun 1953 melaporkan adanya 360-an “agama baru” di Indonesia.
2.2 PAGUYUBAN MISTIK KEJAWEN
Beberapa paguyuban atau organisasi mistik yang sampai sekarang masih cukup eksis antara lain: Sapta Darma berdiri tahun 1956 berpusat di yogyakarta, Pangestu berdiri tahun 1949 berppusat di Jakarta, Sumarah berdiri tahun 1942 berpusat di Jakarta, Perwathin berdiri tahun 1963 berpusat di Jakarta, Panunggalan berdiri tahun 1963 berpusat di Solo. Berbagai paguyuban ini telah menjadi perhatian Jong, khususnya Pangestu di Solo. Paguyuban ini diketuai oleh R. Soenarto Mertowardoyo, yang berhasil membukukan “wahyu” yang diterimanya dalam buku “Sasangka Djati”. Disamping itu juga ada beberapa paguyuban mistik yang telah menjadi perhatian Gertz, yakni Budi Setia, Kawruh Kasunyatan, Ilmu Sejati, Kawruh Begja yang masih berpusat di mojokuto.
Dari berbagai paguyuban atau aliran tersebut, ada yang tergolong aliran kecil dan aliran besar. Di antara paguyuban mistik kejawen yang tergolong aliran besar adalah Hardapusara berdiri tahun 1895 di Purworejo oleh Ki Kusumawicitra. Ia awalnya menerima wangsit, yang sekarang ajaran-ajarannya termaktub dalam Kawruh Kasunyatan Gaib. Ajaran ini dimasukkan dalam dua buah buku berjudul Kawula Gusti dan Wigati. Sedangkan Susila Budi Darma (SUBUD) didirikan tahun 1925, tidak mau disebut gerakan kebatinan namun bernama “pusat latihan penjiwaan”. Paguyuban ini menghasilkan buku ajaran berjudul Susila Budi Dharma. Paguyuban Sapta Darma berdiri tahun 1955 oleh guru agama bernama Hardjosaputro, dan menghasilkan buku tuntunan berjudul Kiatb Pewarah Sapta Darma. Dari berbagai buku mmistik kejawen tersebut, yang paling banyak tersebar luas adalah buku Sasangka Djati. Bahkan buku ini juga sempat menjadi acuan beberapa penulis budaya jawa.
Pada umumnya, aliran atau paguyuban mistik kejawen ataupun kebatinan tersebut, dalam aktivitasnya ingin berusaha mencari hakikat alam semesta, inntisari kehidupan dan hakikat Tuhan. Ada empat macam penggolongan upaya “pencarian” yang dilkukan oleh aliran mistik kejawen, diantaranya yaitu:
1. Yang berpokok pada okultis, yaitu mengutamakan daya-daya gaib yang melayani keperluan manusia.
2. Yang berpokok pada mistik, yang berusaha menyatukan jiwa manusia dengan Tuhan semasa masih hidup di dunia.
3. Aliran theosofis, yanng berniat menembus sangkan paraning dumadi
4. Aliran yang bergerak pada etis, yaitu berhasrat pada budi luhur.
Dari keempat aliran ini koentjoroningrat menambahkan satu gerakan lagi yang disebut gerakan ratu adil. Dari kelima model “pencarian” tersebut, tampaknya model ke-1 sampai ke-5 yang kurang begitu banyak diserap oleh gerakan mistik kejawen modern. Sedangkan model yang lain, baik masing-masing model atau bersama-sama, masih sering mewarnai kehidupan mistik kejawen. Yakni sebagai langkah untuk mencari (njumbuhake) pestha (usaha) dengan pesthi (taqdir) Tuhan.
Singkatnya, paguyuban mistik kejawen memiliki cara-cara pendekatan diri kepada Tuhan, yang satu sama lain sedikit berbeda. Namun demikian, esensinya meliputi dua hal yaitu proses sangkan paraning dumadi dan memayu hayuning bawana. Konsep sangkan paraning dumadi akan membicarakan berbagai hal antara lain ajaran tentang Tuhan, asal mula jagad raya, asal mula manusia sebagai jagad kecil, kelepasan dan kesempuurnaan dan sebagainya. Sedangkan memayu hayuning bawana berkaitan dengan usaha manusia menjaga, melestarikan dan mengembangkan dunia sebagai bekal menuju Tuhan.
Dalam menjalankan ritual, masin-masing paguyuban juga memiliki referensi yang satu sama lain memiliki kesamaan maupun perbedaan. Meskipun demikian, umumnya mereka menggunakan sumber-sumber ajaran para sufi, wali, pujangga terdahulu. Ajaran spiritual tersebut diyakini sebagai pedoman hidup agar kelak mendapatkan kesempurnaan. Misalkan saja, ada diantara paguyuban mistik yang menggunakan sebagian ajaran falsafah Darmagandul, Gatoloco, Suluk Residriya, Suluk Syekh Tekawardi, Serat Hidayat Jati dan sebagainya.
Dengan sumber-sumber tersebut, pada akhirnya aktivitas paguyuban mistik kejawen akan menarik apabila dilihat dari sudut pandang berbagai disiplin ilmu. Bagi mereka yang berkecimpung pada bidang antropologi budaya, mereka dapat menekuni ritual mistik kejawen sebagai salah satu kekayaan budaya. Bagi yang berkecimpung pada bidang agama, dapat mempelajari aneka ajaran dan akulturasi ajaran agama dengan budaya spiritual. Begitu pula para pemerhati sastra, juga dapat menekankan pada aspek-aspek sumber-sumber referensi ajaran istik kejawen. Dengan demikian, ritual paguyuban mistik kejawen menjadi sebuah aktivitas budaya yang kompleks dan penuh makna.
2.3 GERAKAN SPIRITUAL KEBATINAN
1. Ngelmu sejati
Kelompok aliran ini populer dijawa barat, di wilayah syeikh muhyidin dan ayahnya yang dikenal wali kesepuluh. Para pengikut lebih senang memberi nama aliran mereka dengan nama”ngelmu kering” untuk membedakan dengan mereka yang membasahi muka dan tangan dalam berwudlu lima kali sehari.
Ajarannya bersumber dari manuskrip klasik yang memuat ajaran-ajaran leluhur jawa. Mulai muncul setelah ditemukan manuskrip kuno yang terdiri dari 12 jilid dari peninggalan kesultanan banten yang diprotes, sehingga tidak dicetak ulang lagi. Namun, para pengikutnya masih tetap mengaku sebagai umat islam, karena merasa ajaran-ajaran mereka tidak keluar dari islam.
Menurut prof. Kamil kartapraja, kemungkinan kelompok-kelompok ini bersumber sebagian dari pendapat Al-Hallaj. Barangkali pendatang arab yang membawanya ke wilayah ini. Awalnya, agak sulit menetukan awal tumbuhnya aliran ini, namun, mulai populer dan tersiar luas pada masa kemerdekaan, meski pertumbuhannya sejak masa kolonial belanda.
Ajaran-ajarannya berdasarkan lima rukun:
1. Syahadat sejati, yaitu menjelang wafatnya, Rosulullah membisikan ketelinga kanan Ali dan mengajarkan syahadat sejati yang kemudian diwariskan secara turun temurun oleh para syaikh, yang berbunyi: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allahm dan Muhammad SAW adalah rasulullah, Muhammad Saw adalah cahayaku, Rosulullah adalah Sirr-ku, ya Muhammad SAW adalah Aku.”
2. Shalat sejati, yaitu shalat merupakan hubungan sejati seorang hamba dengan tuhan yang tersipul dalam lima fardlu masing-masing di mata, telingan, hidung, mulut dan alat kelamin. Jika manusia dapat menjaga kelima alat ini, maka akan selamat hidupnya baik didunia sampai mati, dan akan menuju syurganya Allah SWT. Namun, jika tidak dapat menjagannya, maka akan tersesat dan tidak tahu kemana akan kembalinya dan boleh jadi bersama hewan-hewan atau bersama para jin. Dan sesungguhnya, anggota badan manusia tahu pada saat mati apakah akan kembali ketempat semula. Shalat sejati selalu dimulai dengan Shalat da’im, yakni dengan selalu mengucap kalimat Hu setiap kali bernafas, sehingga demikian selalu dalam hubungan tak putus dengan Allah SWT. Jelas dalam hal ini masih berasal dari pemikiran Muhyiddin Al-jawi.
3. Al-maratib al-sab’ah, manusia yang terdiri dari empat unsur: tanah, air, api dan udara membentuk tubuh sejak Azali sebelum menjadi ada dialam ini, berada di alam ahadiyah turun ke alam wahdah kemudian turun lagi ke alam wahdaniyah. Wujud dalam tiga tingkatan inilah yang disebut wujud sejati. Kemudian setelah itu turun ke alam arwah, tempat terlihatnya gejala kehidupan di dalam rahim ibu. Selanjutnya turun ke alam Mitsal dalam bentuk fleksibel, kemudian turun lagi kealam ajsam bentuknya sebagai manusia menjadi sempurna dengan tulang dan daging, walaupun belum sempurna betul kecuali setelah lewat sembilan bulan. Disini tetap terlihat pengaruh Muhyiddin Al-jawi.
4. Alam Trinitas, yaitu bahwa sebelum Allah Swt. Termanifestasi di alam telah menciptakan tiga istana yang dinamakan al-bait al-ma’mur, al-bait al-muharram, dan al-bait al-muqaddas.
5. Mi’raj, yaitu pendakian spiritual, yakni kembalinya manusia kepada keadan ruh seperti sediakala. Jika manusia tidak mengetahui akan kemana kembalinya, kemungkinan besar akan mengalami kesesatan hingga ruhnya dapat bergantung di pepohonan atau di gunung atau bersama hewan atau bersama jin. Agar tidak tersesat, manusia harus mengetahui sembilan pintu yang akan dilaluinya, yaitu:
• Pintu pertama, manusia menghadapi cahaya hitam, yaitu yang dilambangkan dengan nafsu ammarah yang selalu menggoda manusia untuk memenuhi tuntutan syahwat atau menurunkan derajatnya kedunia hewan.
• Pintu kedua, mannusia akan menghadapi cahaya merah, yaitu yang dipersonifikasikan nafsu lawwamah yang selalu menggoda manusia untuk berkawan dengan jin dan masuk kedalam dunianya.
• Pintu ketiga,manusia menghadapi cahaya hijau, yaitu yang diibaratkan jiwa syuffiyah yang selalu menggoda mannusia untuk mencapai kesenangan hidup. Jika manusia tidak mampu menahan kesenangan tersebut, dia akan terperosok masuk kedalam dunia binatang-binatang laut.
• Pintu keempat,manusia menghadapi cahaya kuning yang tercermin dalam jiwa muthma’innah. Manusia akan memperoleh ketenangan jiwadan kebahagiaan, jiwa ini selalu menggoda manusia untuk selalu menetap bersamanya, jika manusia tidak berhasil melewatinya, dia akan terperosok ke dalam golongan burung-burung.
• Pintu kelima, manusia melihat pintu ini sebagai beragam pepohonan dalam tujuh warna, masing-masing menggoda untup menentap bersamanya, jika manusia tidak dapat melewatinya. Dia akan tertinnggal bersama tumbuh-tumbuhan
• Pintu keenam, manusia melihat cahaya bersinar sebagaimana mereka mendengar alunan musik indah yang mengajaknya untuk tinggal bersama, jika ia tidak dapat melewatinya, dia akan tinggaal di alam malakut
• Pintu ketujuh, saat memasuki pintu ini, manusia melihat cahaya keemasan, tempat terdapatnya rumah indah mirip sarang laba-laba, di tempat ini, berkumpul para ruh, jika manusia berhenti disini, ia tidak akan sampai pada tempat tujuan
• Pintu kedelapan, sebuah gerbang besar yang di dalamnya terdapat cahaya yng menyorotkan sinar yang membuat mata manusia merasakan kenikmatan dan ketenangan tiada tara begitu memasukinya, suatu tempat yang khusus disedikan bagi orang-orang yang menghabiskan umurnya sebagai pekerja sosial. Tempat itu adalah surga, namun bukan surga yang sebenarnya atau tempat yang dituju dalam pendakian ini.
• Pintu kesembilan, yaitu pintu terakhir, jika manusia berhasil memasukinya, dia akan melihat cahaya diatas cahaya yang tiada terbatas. Disini terdapat surga yang sebanarnya, yaitu tempat azali dan untuk selama-lamanya yang tiada sesuatupun yang menyerupai.
Tertulis didalam manuskrip ini, bahwa jaran-ajaran tersebut diatas diperoleh dari syaikh Abd Al-Rahman (pada masa wali songo) yakni syarif hidayatullah yang berkenan memberikan kepadanya. Tercatat pula bahwa ajaran tersebut sesuai dengan ajaran syeikh siti jenar yang dihukum mati oleh wali songo karena dia mengucapkan “Aku Allah”. Meurut ensiklopedi Hindia Belanda, ajaran-ajaran tersebut bersumber dari tasaawuf sufi senior Al-Hallaj, yang dibawa oleh para sufi saat melakukan islamisasi di indonesia. Siti jenar mengambilnya dan kemudian mengajarkannya kepada orang-orang jawa yang kemudian panutan mereka.
Aliran ini berkembang atas jasa sujono, yang meleset dari jalan lurus , sehingga melakukan penyimpangan dalam memandang syariat islam, sebagai ajaran yang diimpor sehingga tidak sesuai dengan alirannya. Awalnya, islam masih merupakan pegangan dari aliran ini, namun setelah penyimpangan sujono, berorientasi sinkretis dan menganggap semua agama sebagai sumbernya, lalu menghimpun pengikut dari mana pun agamanya, sehingga ada yang Hindu, Budha, bahkan seorang Muslim. Bagi Sujono, terserah seseorang mau suka ke gereja, ke pura atau ke masjid, sesuai kepercayaan yang bersangkutan. Berdasarkan atas kecenderungan tersebut, dia akhirnya menghapuskan syahadat yang mengakui Muhammad sebagai nabi, meski masih mengakui Allah Maha Esa. Atas prakarsa perwira polri, berdiri satu cabang disurabaya, namun, setelah resmi didirikan, segera mengumumkan berdiri sendiri dan cenderung ateis, setelah diselidiki, ternyata yang bersangkutan adalah antek komunis.
Pada dasarnya, aliran ini masih diharapkan kembali kepangkuan islam. Yaitu dengan cara yang arif, pengajaran yang baik, dialog yang konstruktif serta dengan cara keteladanan. Para ulama dan kiai tentu dapat melakukan tugas ini dengan baik.
2. pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)
Pangestu adalah salah satu aliran kebatinan dijawa yang didirikan oleh sunarto dan berpusat dijawa tengah. Sang pendiri pada masa kecil pernah belajar islam dan kemudian belajar kejawen dan ilmu-ilmu kebatinan. Dia juga mengklain menerima ilham atau ilmu hakikat yang sejati dari Allah Swt. Dan diperintahkan kepadanya untuk ditablighkan dan disiarkan dikalangan masyarakat. Ajaran-ajarannya secara ringkas sebagai berikut:
• Allah Swt adalah dzat yang abadi, tiada permulaan dan tiada berkesudahan, bukan lelaki dan bukan pula perempuan, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tiada sekutu bagi-Nya. Dia Maha suci lagi Maha tinggi, tiada sesuatu yang menyerupai. Allah Swt memiliki sifat-sifat yang terdiri dari tiga unsur berdasarkan matahari bersama sinar dan panasnya: sukma kawerkas, sukma sjati, Ruh Kudus.
• Dijelaskan bahwa yang dimaksud ruh hakiki ialah yang dikenal dengan Al-Masih didalam kristen dan Nur Muhammad didalam islam. Menciptakan alam dari empat unsur: Api, air, tanah dan udara. Allah menciptakan manusia dari cahaya-Nya dan membekali dengan empat jiwa: lawwamah, amarah, syuffiyah dan muthma’innah. Manusia memiliki tiga daya yang berasal dari tuhan: daya cipta dan kreatif, daya fikir dan imajinasi, daya ikhtiar.
• Diwajibkan kepada para pengikut ini, shalat fardlu pada waktu subuh dan malam. Subuh sebanyak empat rakaat dan malam sebanyak tiga rakaat. Tata cara pelaksanaan seperti dalam islam, namun berbeda dalam bilangan rakaatm bacaan dan doa.
• Aliran ini juga menganut paham reinkarnasi, tetapi tidak dalam proses bentuk jelek menjadi lebih baik, justru bisa jadi “loncatan’ dari yang jelek menjadi terbaik melalui reinkarnasi ruh nabi atau wali yang telah mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, seseorang yang mengalami hal demikian akan terbuka tabir gaib baginya, sehingga dapat memiliki kekuatan supranatural. Untuk itu mereka mengkultuskan kuburan wali dan melakukan acara-acara ritual di sekitarnya.
3. Sapto Darmo
Sapto darmo merupakan salah satu aliran kejawen yang cukup besar, sapto darmo adalah yang termudah dari kelima gerakan kebatinan terbesar di jawa. Nama Sapto Darmo berasal dari bahasa jawa, Sapta artinya tujuh dan Darmo artinya kewajiban suci. Ssekarang aliran kebatinan ini banyak berkembang di daerah yogyakarta dan jawa tengah, bahkan sampai keluar jawa. Aliran ini memiliki pasukan dakwah yang dinamakan Korps Penyebar Sapto Darmo, yang dalam dakwahnya sering dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Pawenang) yang bergelar juru bicara Tuntunan Agung.
Ajaran-ajaran Sapto Darmo:
• Penganut Sapto Darmo menyakini bahwa manusia hanya memiliki tujuh kewajiban (tujuh wewarah) yaitu: setia dan tawakkal kepada pancasila Allah (Mahaagung, Maharahim, Mahaadil, Mahakuasa, dan Mahakekal). Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara. Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa. Menolong siapa saja tanpa pamrih, dilakukan atas dasar cinta kasih. Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri sendiri. Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti. Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, akan tetapi berubah-ubah (angkara manggilingan)
• Panca Sifat Manusia, menurut sapto darmo manusia harus memiliki lima sifat dasar yaitu: berbudi luhur terhadap sesama umat lain. Belas kasih (welas asih) terhadap sesama umat yang lain. Berperan dan bertindak adil.sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah. Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari nur yang mahakuas, yang bersifat abadi.
• Konsep tentang alam, dalam pandangan Sapto Darma meliputi: alam wajar, yaitu alam dunia sekarang ini. Alam abadi, yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi islam, maknanya mendekati alam akhirat. Alam halus, yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam kasuwargan, roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup didunia banyak dosa.
• Konsep peribadatan. Konsep ibadah dalam Sapto Darma tercermin pada ajaran mereka tentang sujud dasar. Sujud dasar ini terdiri dari tiga kali sujud menghadap ketimur. Sikap duduk dilakukan dengan kepala ditundukan sampai ketanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging keubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian tuun kembali. Amalan ini seperti dilakukan sebanyak tiga klai dalam sehari semalam. Pengikut Sapto darma diwajibkan melakukan sujjud dasar setidaknya satu kali, sedangkan selebihnya dinilai sebagai keutamaan.
• Menyatu dengan Tuhan.sebagai hasil dari amalan sujud dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan tuhan dan menerima wahyu tentang hal-hal gaib. Mereka juga menyakini bahwa orang yang sudah menyatu dengan tuhan nisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati berbagai penyakit.
• Hening. Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua pikiran seraya mengucapkan “Allah Hyang maha Agung, Allah Hyang MahaRahim, Allah Hyang Maha Adil” orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antaralain: dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh, dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal, dapat mendetesi suatu perbuatan jadi dikerjakan atau tidak, dapat memberi atau menerima telegram rasa, dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya, dan dapat menerima wahyu atau berita gaib.
• Racut, inti dari ajaran dan praktik racut adalah memisahkan rasa, pikiran atau roh dari jasad tubuhnya untuk menghadap allah, kemudian kembali ketubuh asalnya setelah tujuan yang diinginkan sudah tercapai.
• Simbol-simbol, ada empat simbol pokok yang digunakan dalam aliran Sapto Darmo yaitu: gambar segi empat (yang menggambarkan manusia seutuhnya) warna dasar hijau muda pada gambar segi empat yang melambangkan sinar cahaya Allah. Empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, yaitu hitam melambangkan nafsu lawwamah, merah melambangkan nafsu amarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah dan putih melambangkan nafsu muthmainnah. Viegnette semar (gambar arsir semar) melambangkan budi luhur, genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, sedangkan kain kampuh berlipat lima (wiron lima) melambangkan taat pada pancasila.
5. Hardapusara
Hardapusara adalah aliran kejawen tertua diantara kelima aliran kejawen terbesar di tanah jawa jarannya semula disebut kawruh kasunyatan gaib. Mula-mula para pengikutnya adalah para priyayi dari purworejo dan beberapa kotalain di daerah Bagelan.
2.4 Antara Kebatinan dan Klenik.
Klenik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal. Dalam kehidupan bermasyarakat, klenik erat kaitannya dengan praktek perdukunan, sehingga sering disebut dukun klenik. Dalam kegiatannya dukun ini melakukan pengobatan dengan bantuan guna-guna atau kekuatan gaib lainnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar