Jumat, 11 Desember 2015
tanglukan abangan dan tarekat di indonesia
TANGLUKAN ABANGAN DAN TAREKAT DIINDONESIA
Studi Fenomenologi Tarekat pada Masyarakat jawa
Judul: Tanglukan, Abangan, dan Tarekat “kebangkitan agama dijawa”
Penulis:Ahmad Syafi’i mufid
Pengantar: Moeslim abdurrahman
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Bulan dan Tahun: juni 2006
Desain Cover: Adjie Soeroso
Sasaran Tokoh: masyarakat kajen
Oleh :
1. Lia nailurrohmah (2032112011)
2. Iin Sugiarti (2032113012)
A. Pendahuluan
Seiring dengan penyebaran Islam di Asia, modernitas turut menyertai dalam pengaruh kapitalisme. Paham-paham barat mulai ikut serta dalam kehidupan masyarakatnya. Akan tetapi hal tersebut tidak berarti masyarakat Asia telah menjadi pengikut paham kapitalis.
Munculnya Negara-negara industry seperti korea dan cina semakin membawa mereka kepada paham konsumerisme dan hidup hedon. Akan tetap hal tersebut tidak membuat mereka semakin sekuler, justru menjadi dorongan mereka memperoleh semangat dalam nilai-nilai konfusianismenya. Keadaan yang demikian membuat mereka meresa butuh keseimbangan antara materi dan ruhaniyahnya. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Di era globalisasi ini, masyarakat semakin dekat dengan gaya modern. Rumah, pakaian, tempat bermain, dan lain-lain. Akan tetapi mereka tetap tidak meninggalkan nilai agamanya. Orang-orang melakukan ziarah wali, tapi di perjalanan itu mereka melanjutkan ke wahana rekreasi.
Menjadi muslim bukan harus menjadi peran yang tunggal. Islam itu merasuk dalam sela-sela budaya. Di Jawa, Islam menyatu dalam tradisi local tanpa merusaknya. Islam bersinkretis dengan lokalitas dan berjalan berdampingan. Dengan demikian, orang Jawa masuk Islam bukan karena apa-apa, tapi karena mereka nyaman dan cocok. Mereka memilih masuk Islam dengan suka rela.
Penelitian ini tentang tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah di desa pesisir utara jawa tengah yaitu desa Kajen kecamatan Pati. Penelitian ini dilakukan karena para peneliti melupakan lini ini. penelitian Geert yang membagi Islam Jawa dalam tiga lini yakni abangan, santri, dan priyayi seolah tunai. Padahal dalam perkembangan Islam di Jawa, tarekat menjadi hal yang penting.
Agama merupakan sarana untuk menjalin hubungan supranatural dengan pencipta. Dalam agama terdapat upacara ritual keagamaan yang diikuti oleh manusia. Di dalamnya juga terdapat simbol-simbol yang membudaya dalam aturan-aturan social dan psikologi. Hal tersebut membentuk kondisi lingkungan hidup masyarakat. Begitulah pandangan orang Jawa. Mereka mengikuti tarekat dalam beragama demi memenuhi kebutuhan akan pandangan hidup. Di Jawa berkembang tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah. Tarekat ini dipilih karena mudah dan tidak memberatkan bagi orang Jawa yang masih abangan dan tangkulkan. Abangan adalah orang Jawa yang masih belum sepenuhnya taat terhadap syariat Islam. Sedangkan tangklukan adalah orang Jawa yang sudah menjalankan syariat. Bagi orang Jawa, tasawuf merupakan jalan untuk mencapai tujuan hidup. Seiring berkembangnya aliran tasawuf di Jawa, muncul kelompok yang menganggap aliran tersebut menyimpang, hingga abad ke-18 pengaruhnya menurun terbentur dengan gerakan 30SPKI.
Herskouits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Sementara itu Corel R. E dan Melvin E. (seorang ahli antropologi – budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan cara berlaku yang telah menjadi ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum-hukum, kepercayaan, agama, kegemaran makanan tertentu, musik, kebiasaan, pekerjaan, larangan-larangan dan sebagainya.
Kebudayaan adalah isi pikiran manusia yang melakukan penafsiran terhadap fenomena kehidupan dan menghasilkan tindakan-tindakan tertentu. Kebudayaan Jawa memiliki kompleksitas pengetahuan yang terangkum dalam filosofi kebudayaannya. Hal tersebut mucul dalam tindakan manusia, tujuan hidup, hakikat hidup, dan hokum-hukum sangkan paraning dumadi. Jawa mengenal pembagian jagad wilayah Jawa. Wilayah tersebut dibagi menurut jarak dari keraton. Kutanegara, mancanagari, negarigung, dan pesisiran. Akan tetapi masyarakat pesisir menolak pembagian tersebut. Menurut mereka pembagian didasarkan pada ketaatan menjalankan syariat. Santri untuk orang yang menjalankan syariat dengan baik. Kaum santri banyak berada di pesisir. Kedua abangan untuk orang yang tidak menjalankan syariat dengan baik. Kaum abangan banyak berada di pedalaman pulau Jawa.
Seiring dengan perkembangan kebudayaan, agama, modernitas, Jawa mengalami berbagai fenomena perubahan. Difusi, akulturasi, bahkan sinkretis menimbulkan budaya baru yang menuju modernitas. Berawal dari hal ini muncullah berbagai pemberontakan ideology yang berusaha merevitalisasi budaya lama. Usaha-usaha semacam itu dilakukan dengan melakukan reformasi, komunikasi, organisasi, adaptasi, transformasi, dan rutinitas. Mereka membuat program-program dan membungkusnya dalam gerakan-gerakan politis.
Hasil penelitian yang ditulis oleh Ahmad Syafi’i mufid ini sangat penting untuk diapresiasi. Ia dengan detail meneliti bagaimana pengaruh tasawuf dan tarekat pada masyarakat di desa kajen yang mana berada dikawasan pesisir.
B. Rumusan Masalah
Apakah penyebab menggeliatnya gerakan tarekat pada masyarakat kajen? Dan bagaimanakah hubungan tarekat dengan dunia sosial dalam konteks tanglukan abangan dan tarekat :kebangkitan agama dijawa yang berkaitan dengan pendekatan hubungan agama dan budaya jawa?
C. Kenapa penulis memilih tasawuf dijawa dalam penelitiannya
Menurut penulis disertasi, dalam buku tanglukan abangan dan tarekan:kebangkitan agama dijawa, karena banyaknya kajian tentang islam diindonesia yang dilakukan baik oleh sarjana-sarjana indonesia maupun sarjana-sarjana barat, dan bidang-bidang yang dijadikan pusat perhatiannya pun beraneka ragam, ada yang tertarik pada aspek ekonomi, politik, gerakan pemikiran dan lain sebaginya. Namun, masih sangat sedikit sekali yang menuliskan secara khusus tentang islam dalam kaitannya denngan tasawuf dan khususnya tarekat. Sekalipun ada, dalam buku-buku yang menguraikan tentang tasawuf dan tarekat masih sangat terbatas esensinya pada pengaruh dan peranan tarekat dalam proses islamisasi diindonesia dan dalam pergolakan menantang penjajah. Dan dalam desertasinya penulis juga mngatakan etnografi tentang tarekat baru dimulai dan yang telah diterbitkan masih sangat sedikit.
Sedangkan kenapa memilih jawa (kajen) dalam penelitiannya? Karena Kajen memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda denga daerah pesisir lainnya. Sebagai bekas desa perdikan, Kajen menjadi pusat pendidikan yang cukup ramai. Puluhan pesantren berdiri sejak akhir abad Sembilan belas. Kini berbagai madrasah aliyah juga dijadikan sebagai pusat pendidikan. Karena ramainya, Kajen disebut-sebut sebagai pusat Islam. Ada pula yang menyebut kantong Islam.
Kajen terletak delapan belas kilometer sebelah utara kota Pati. Ada beberapa mata air di desa ini. diantaranya adalah kolam pesarean dan sumur Mbah Syamsudin yang memiliki nilai magis. Keberadaan desa ini tidak dapat lepas dari peran dua orang yang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam. Kajen berasal dari kata Kaji ijen yang artinya haji satu-satunya yaitu Haji Ahmad Mutamakin. Kyai Mutamakin adalah cucu buyut dari Jaka Tingkir dan bernasab hingga ke nabi Muhammad. Beliau merupakan bangsawan keturunan Pajang dan Demak. Ketika beliau berlayar karena diusir belanda dari Tuban, kapalnya pecah dan terdampar di pantai utara Jawa tengah. Tempat itu diberi nama Cebolek, berasal dari kata jebul melek. Setelah tinggal di tempat itu Haji Mutamakin bertemu dengan Mbah Syamsudin penghuni asli dan keduanya membangun desa yang diberi nama Kajen . Di desa tersebut Haji Mutamakin dan Mbah Syamsudin mengajarkan Islam. Di desa tersebut terdapat masjid Kajen yang memiliki mimbar dan atap berukir simbol-simbol. Selain itu ditemukan pula primbon yang memuat ajaran H. Mutamakin. Dari primbon tersebut diketahui bahwa H. Mutamakin menganut tarekat Syatariyah. selain itu, dalam masyarakat kajen terdapat keunikan tersendiri, dimana para penngikut tarekat. tersebut dari berbagai kalangan, baik para petani maupun para pegawai.
Keunikan lain yang membuat bapak syafii mufid melakukan penelitian di daerah tersebut karena pengikut tarekat dimasyarakat tersebut tidak hanya dari kalangan santri saja, namun dari beberapa kalangan seperti tanglukan dan bahkan masyarakat abangan yang notabene kurang taat dalam menjalankan agama, bahkan biasanya mengganggu ritual keagamaan, namun, di desa kajen kecamatan pati jawa tengah ini, masyarakat kelas abangan pun ikut masuk kedalam tarekat
Berbeda dengan buku Tanglukan abangan dan tarekat diindonesia, dalam buku lain yang berjudul “TAREKAT SYADZILIYAH: dalam perspektif perilaku perubahan sosial” karya Dr.H. Saifudin Zuhri,M.Ag, peneliti berusaha meneliti Tarekat dari segi perubahan sosial, dalam penelitian yanng dilakukan oleh Ahmad syarifudin ini mencoba mengkorelasikan Hubungan ajaran tarekat dengan budaya lokal, seperti yang dapat dikutip dari karyanya dalam buku Tanglukan abangan dan tarekat diindonesia:ebangkitan Agama dijawa dalam hal 128 dimana kehidupan keagamaan (revitalisasi) juga terlihat pada kegiatan upacara individual, terutama pada masyarakat penganut tarekat, baik dari kalangan santri maupun tangklukan.
D. Bagaimana meneliti kebangkitan Agama dijawa dengan metode fenomenologi?
Fenomenologi berasal dari kata “phainein” yang berarti memperlihatkan dan “pheinemenon” yang berarti sesuatu yang muncul atau terlihat, sehingga dapat diartikan “back to the things themselves” atau kembali kepada benda itu sendiri. Menurut Hadiwijoyo, kata fenomena berarti “penampakan” seperti pilek, demam dan meriang yang menunjukkan fenomena gejala penyakit.
Istilah fenomenologi diperkenalkan oleh seorang filsuf dan matematikawan berkebangsaan Swiss-Jerman Johann Heinrich Lambert dalam bukunya “Neues Organon” yang diterbitkan pada 1764. Lambert mamaknai istilah Yunani tersebut dengan pengertian “The Setting forth or Articulation of What Shows Itself” (pengaturan atau artikulasi dari apa yang menunjukkan dirinya). Ia menggunakan istilah ini untuk mengislustrasikan alam khayalan pengalaman manusia dalam upaya mengembangkan teori pengetahuan yang membedakan kebenaran dari kesalahan. Immanuel Kant (1724-1804) dalam karya-karyanya juga dikenal menggunakan istilah-istilah tersebut untuk membedakan pengetahuan yang immanen (noumena) dan pengetahuan yang menggambarkan pengalaman manusia (fenomena). Namun dalam perkembangannya G.W.F. Hegel dan Edmund Husserls yang disebut-sebut sebagai peletak dasar-dasar fenomenologi.
Seperti yang kami kutip dalam buku sari sejarah filsafat, Pendekatan fenomenologi merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Pendekatan fenomenologi hampir serupa dengan pendekatan hermeneutics yang menggunakan pengalaman hidup sebagai alat untuk memahami secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana pengalaman itu terjadi.
Dalam konteks kebangkitan Agama dijawa, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan beberapa tahap, pertama dengan melakukan pengamatan dan wawancara sebagai sarana menghimpun data kualitatif, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan organisasi sosial keagamaan.
Prinsip
Berbicara tentang persoalan prinsip sebagai persoalan pertama, yang menjadi masalah adalah apa prinsip yang mendasari penelitian kualitatif. Prinsip adalah dasar, landasan atau fondasi yang mendasari setiap kegiatan penelitian. Membicarakan tentang prinsip dalam penelitian berarti berbicara tentang paradigma atau perspektif yang digunakan sebagai sandaran dalam penelitian. Paradigma atau perspektif secara sederhana acapkali diartikan sebagai sudut pandang atau cara pandang. Adapun menurut Thomas Kuhn paradigma didefinisikan sebagai suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan (suject matter) dari suatu cabang ilmu (dalam Alimandan, 1985: 4).
Terdapat beberapa paradigma atau perspektif yang mendasari penelitian kualitatif. Salah satu diantaranya adalah yang dinamakan paradigma fenomenologi. Ditilik dari sejarah perkembangannya paradigma fenomenologi sesungguhnya merupakan jawaban atas kelemahan dari paradigma positivisme yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan ilmiah.
Salah satu gagasan terpenting dari paradigma fenomenologi yang menjadi landasan pemikiran dalam penelitian kualitatiif adalah gagasan tentang bagaimana seharusnya peneliti didalam memandang realitas sosial, fakta sosial atau fenomena sosial yang menjadi masalah didalam penelitian. Menurut paradigma fenomenologi bahwa realitas itu tidak semata-mata bersifat tunggal, objektif, terukur ( measurable ), dan dapat ditangkap oleh pancaindera sebagaimana pandangan dari paradigma positivisme. Namun berbeda dengan itu bahwa menurut paradigma fenomenologi realitas itu bersifat ganda atau dualisme dan subyektif interpretatif atau hasil penafsiran subyektif.
Konsep Dasar
Peneliti dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Sosiologi fenomenologis pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh pandangan Edmund Husserl dan Alfred Schultz. Pengaruh lainnya berasal dari Weber yang memberi tekanan pada verstehn, yaitu pengertian interpretatif terhadap pemahaman manusia. Fenomoenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti oleh mereka.
Inkuiri fenomenologis memulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk mengungkap pengertian sesuatu yang sedang diteliti. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaiaman suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari. Para fenomenolog percaya bahwa pada makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk menginterpretasikan pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa pengertian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.
Konstruk penelitian
Ada berbagai cabang penelitian kualitatif, namun semua berpendapat sama tentang tujuan pengertian subyek penelitian, yaitu melihatnya dari “sudut pandang mereka”. Jika ditelaah secara teliti, frase “dari segi pandang mereka” menjadi persoalan. Persoalannya adalah “dari segi pandang mereka” bukanlah merupakan ekspresi yang digunakan oleh subyek itu sendiri dan belum tentu mewakili cara mereka berpikir. “Dari segi pandangan mereka” adalah cara peneliti menggunakannya sebagai pendekatan dalam pekerjaannya. Jadi, “dari segi pandangan mereka” merupakan konstruk penelitian. Melihat subyek dari segi ini hasilnya barangkali akan memaksa subyek tersebut mengalami dunia yang asing baginya.
Sebenarnya upaya mengganggu dunia subyek oleh peneliti bagaimanapun perlu dalam penelitian. Jika tidak, peneliti akan membuat tafsiran dan harus mempunyai kerangka konsep untuk menafsirkannya. Peneliti kualitatif percaya bahwa mendekati orang dengan tujuan mencoba memahami pandangan mereka dapat menghalangi pengalaman subyek. Bagi peneliti kualitatif terdapat perbedaan dalam (1) Derajat mengatasi masalah metodologis/konseptual ini dan (2) cara mengatasinya. Sebagian peneliti mencoba melakukan “deskripsi fenomenologis murni”. Di pihak lain, peneliti lainnya kurang memperdulikan dan berusaha membentuk abstraksi dengan jalan menafsirkan data berdasarkan “segi pandangan mereka”. Apapun posisi seorang peneliti, yang jelas ia harus menyadari persoalan teoretis dan isu metodologis ini.
Orientasi Fenomenologis
Peneliti kualitatif cenderung berorientasi fenomenologis, namun sebagian besar diantaranya tidak radikal, tetapi idealis pandangannya. Mereka memberi tekanan pada segi subjektif, tetapi mereka tidak perlu menolak kenyataan adanya “di tempat sana”, artinya mereka tidak perlu mendesak atau bertentangan dengan pandangan orang yang mampu menolak tindakan itu. Sebagai gambaran diberikan contoh, misalnya guru mungkin percaya bahwa ia mampu menembus dinding bata, tetapi untuk mencapainya memerlukan pemikiran. Hakikatnya, batu itu keras ditembus, namun guru itu tidak perlu merasakan bahwa ia tidak mampu berjalan menembus dinding itu. Peneliti kulaitatif menekankan berpikir subyektif karena, sebagai yang mereka lihat, dunia di dominasi oleh subyek yang kurang keras dbandingkan dengan batu. Manusia kurang lebih sama dengan ‘mesin kecil’ yang dapat melakukan sesuatu. Kita hidup dalam imajinasi kita, lebih banyak berlatar simbolik daripada konkret.
Interaksi Simbolik
Bersamaan dengan perspektif fenomenologis, pendekatan ini berasumsi bahwa pengalaman manusia ditengahi oleh penafsiran. Objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak mempunyai pengertiannya sendiri, sebaliknya pengertian itu diberikan untuk mereka. Misalnya seorang teknolog pendidikan mungkin menentukan proyektor 16 mm sebagai alat yang akan digunakan ole guru untuk memperlihatkan film-film yang relevan dengan tujuan pendidikan; seorang guru barangkali menetapkan penggunaan proyektor tersebut sebagai alat rekreasi untuk siswa apabila ia kehabisan bahan pelajaran sewaktu mengajar atau apabila ia sudah letih. Pengertian yang diberikan orang pada pengalaman dan proses penafsirannya adalah esensial serta menentukan dan bukan bersifat kebetulan atau bersifat kurang penting terhadap pengalaman itu.
Sejalan dengan pendekatan yang dipergunakan, teknik-teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah pengamatan dan pengamatan terlibat. Teknik ini dipergunakan untuk memperoleh informasi , pengetahuan dan pengertian mengenai prinsip-prinsip umum kehidupan penganut tarekat Qadiriyah wan Naqsabandiyah, yang meliputi kegiatan kelompok (jamaah) dan kegiatan individu dan masyarakat sasaran penelitian.
Pengamatan dan pengamatan terlibat ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: pengamatan deskriptif, penngamatan terfokus dan pengamatan selektif. Dengan cara demikian, memungkinkan peneliti dapat mendeskripsikan, menjelaskan dan menafsirkan situasi sosial yakni mengenai: 1. pelaku (actor) dimana jika dikaitkan dalam konteks disertasi ini adalah masyarakat kajen yang mengikuti tarekat. 2. kegiatan-kegiatan (activities) dalam konteksnya adalah kegiatan masyarakat kajen pengikut tarekat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah yang berasala dari berbagai Stratifikasi seperti kalangan petani, dan kalangan pegawai. 3. Tempat (place) dalam konteks penelitian ini adalah kajen, pati. Jawa tengah.
Termasuk dalam teknik pengamatan dan pengamatan terlibat adalah wawancara-wawancara sebagai teknik pengumpulan data, untuk mendapatkan keterangan dari informan kunci berkenaan dengan suatu peristiwa, gejala, makna simbol-simbol yang ditampilkan dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat penganut tarekat.
E. Catatan & Lesson Learn
Penelitian yang dilakukam oleh ahmad syafi’i mufid ini membutuhkan waktu yang relatif singkat, dimulai sejak bulan Maret 1989- November 1989 ini menghasilkan penelitian yang cukup komprehensif. Bagaimana beliau meneliti corak kehidupan beragama dan keunikan tersendiri yang dimiliki oleh desa kajen dimana daerah tersebut dikawasan pesisir , namun berbeda dengan kawasan pesisir lainnya, sangat komprehensif.Begitu pula teknik pengumpulan data dan penelitian yang digunakan oleh penulis, dan sistematika penyusunan penelitian yang sistematis.
Namun, menurut kami ada beberapa hal yang menurut kami kurang memadai dalam lampiran penulisan ini, dimana penulis selain menggunakan pendekatan fenomenologi, juga menggunakan pendekatan filologi, dimana dalam lampiran buku ini juga terdapat transkirp Wifiq Tolk balak ciptaan KH.Ahmad Durri Nawawi,dan juga dilakukan penerjemahan teks yang berasal dari bahasa jawa menjadi bahasa indonesia.
F. Apa Hasil, Kontribusi dan Keterbatasan Diserti Ini?
Dari keseluruhan proses pengamatan dan pengamatan terlibat yang dilakukan penulis, menghasilkan kesimpulan besar: dimana kebudayaan jawa dan tarekat sebagai jalan menuju tingkat kesufian, ternyata dapat saling bersinergi, hal ini terlihat jelas dalam masyarakat desa kajen, pati. Dimana sebagian masyarakatnya pengikut tarekat namun mereka tetap menjaga kemurnian kebudayaan daerah setempat, dan tarekat dalam masyarakat tersebut mampu memikat barbagai lapisan masyarakat dikajen, hal ini nampak pada fenomena pengikut tarekat dikajen yang berasala dari petani tingkat bawah, petani menengah dan beberapa pegawai pun ada.
Dan dalam penelitian ini ternyata juga menjawab pengklasifikasian masyarakat jawa oleh clifart gard dimana dalam bukunya dia mengklasifikasikan masyarakat jawa menjadi tiga: priyai santri dan abangan. Dalam kajian hasil penelitian syafi’i mufid ini, beliau mendiskripsikan pula masyarakat jawa dengan sebutan “tanglukan”. Yang menarik dari masyarakat abangan di desa kajen ini, mereka juga mengikuti tarekat, dimana masyarakat abangan notabene sangat memusuhi islam, dan didalam masyarakat kajen mereka malah mengikuti Tarekat. dan dari sinilah duduk perkara kenapa syafi’i mufid ini melakukan penelitian tentang tarekat di daerah kajen, pati.
Kontribusi dari penelitian ini antaralain:
• Disebutkannya beberapa tokoh ulama dalam penelitian ini seperti (mbah mutamakin, ahmad durri nawawi, dll) membuat kita tahu sosok ulama besar dijawa.
• Memberikan informasi awal masuknya islam di jawa
• memperkenalkan keselarasan hubungan antara kebudayaan dan agama dalam hal ini tarekat dan tasawuf dimasyarakat kajen
• Selain itu, penelitian ini juga memperkuat bagaimana penelitian berbasis fenoenologi dengan pendekatan kualitatif sangat bermanfaat bagi penelitian berikutnya.
Kelemahan dari penelitian ini yaitu
Dalam penelitian ini, bapak syafi’i mufid memposisikan dirinya sebagai subyek dan masyarakat yang diteliti sebagai obyaek, maka dari itu dalam penelitian ini, bapak syafii mufid hanya memotret fenomena yang terjadi pada masyarakat saja, tidak ikut berpartisipasi dalam perubahan yang terjadi pada masyarakat. Maka dari itu, ketika penelitian ini di deskripsikan, masyarakat tersebut sudah tau hasil risetnya, berbeda dengan penelitian lain yang menggunakan pendekatan analisis misalnya, masyarakat yang diteliti dan penelitinya sama-sama menjadi subjek, jadi ada kemungkinan masyarakat yang diteliti baru menyadari atas fenomena yang terjadi setelah membaca hasil risetnya.
Kelemahan dalam penelitian ini menurut kami adalah tidak dituliskannya kapan transkrip wifiq tolak balak dan beberapa transkrip yang terdapat dalam lampiran penelitian ini dituliskan, dan tidak menampilkan tulisan asli transkrip wifiq tolak balak dari penulis aslinya (ahmad durri nawawi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar