Jumat, 11 Desember 2015

cinta dan cahaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang, anak-anak maupun orang dewasa, pada hakikatnya menginginkan untuk diterima sebagaimana adanya, dirinya, fisiknya juga pribadinya secara keseluruhan dalam keluarga, termasuk diantaranya dapat menerima kelemahan dan kekurangan mereka. Tuhan telah menciptakan makhluknya sedemikian rupa, sehingga sudah merupakan hukum alam bahwa siapapun membutuhkan dan selalu mendamkan cinta kasih dari orang lain dalam hidupnya. Cinta merupakan kegiatan paling penting sebagai pribadi. Cinta dan benci adalah tindakan primordial manuisa yang mendasari tindakan lain. Pribadi dapat diukur dari cintanya. Ajaran tentang cinta ini dipengaruhi oleh Plato dan Agustinus yang menampakkan sifat mistis dan religius. Pengetahuan penting yang melibatkan pribadi berpartisipasi dengan yang esensial atau hakiki. Lalu apakah itu cinta? Sesugguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus menjelaskan hal ikhwal kebahagiaan. Cinta dan Cahaya, dua pokok pembahasan yang akan menjadi pembahasan dalam makalah yang penulis susun. Keduanya merupan spektrum penting dalam pembahasan psikosufistik. 1.2 Rumusan Masalah a. Pengertian Cinta perspektif Psikologi dan Tasawuf b. Penggolongan cinta perspektif Psikologi dan Tasawuf c. Cahaya BAB II PEMBAHASAN 2.1 pengertian Cinta perspektif Psikologi dan Tasawuf Psikolog mencoba dan mempelajari cinta melalui kuosioner. Mereka telah mengembangkan skala untuk menggambarkan rasa suka dan cinta. Manusia menyatakan bahwa cinta, yang maksudnya cinta romantik , mengandung makna kedekatan, ketergantungan, mementingkan oranglain (seflessness), penerimaan, eksklusifitas daripada sekedar hubungan kawan. Mereka juga cenderung menilai cinta kurang stabil daripada suka. Dorothy tennov membedakan antara cinta dan “limerance” kata yang mewakili gairah romantik yang disertai dengan gairah keinginan yang sangat kuat untuk saling timbal balik. Dalam karyanya, ia menceritakan tingkah laku ekstrim yang dilakukan oleh beberapa orang yang in limirance, mereka adalah orang-orang yang membujuk orang lain untuk membuat cinta romantik menjadi “kegilaan sementara” . mereka secara obsesif memikirkan objek sasaran gairahnya dan obsesi tersebut membuat mereka menderita dan tak berdaya disebabkan oleh objek gairahnya. Erick Fromm menuliskan berbicara tentang cinta sebagai alat untuk mengatasi perpisahan manusia, sebagai pemenuhan kerinduan akan kesatuan. Akan kebutuhan biologis yang lebih spesifik yaitu keininan untuk menyatu antara pri dan wanita. Ide ini diungkapkan karena pada mulanya laki-laki dan wanita adalah satu, kemudian mereka dipisahkan, dan sejak itu sampai seterusnya setiap laki-laki terus mencari belahan jiwa yang hilang dari dirinya untuk bersatu kembali dengannnya. Fromm memandang bahwa manusia adalah makhluk yang lapar akan cinta dan masih mempercayai kebohongan tentang cinta. Kebanyakan orang melihat masalah cinta terletak pada pihak yang dicintai, bukan pada mencintai, yang melambangkan kapasitas seseorang untuk mencintai, maka dari itu mereka berusaha mengembangkan diri mereka untuk dicintai (lovable). Lovable adalah gabungan antara menjadi populer dan menarik secara seksual. Mereka lebih tertarik pada objek dari pada kemampuan. Kebingungan yang biasa terjadi adalah kekeliruan antara jatuh cinta dan dilanda cinta. Jatuh cinta berarti cinta akan berakhir. Banyak yang melihat cinta sebagai sensasi yang menyenangkan seperti suatu keberuntungan yang baru saja terjadi pada sesseorang. Jadi, tidak ada yang lebih mudah daripada mencintai, daripada memikirkan bahwa cinta membutuhkan pengetahuan kesetiaan dan usaha. Cinta atau mahabbah menurut Al-Ghazali yaitu kecenderungan hati kepada yang dicintainya karena ia merasa senang berada didekatnya, dan benci akan kebalikannya, nlurinya antipati terhadap selainnya, karena tidak sesuai dengannya. Dan manakala kesenangannya makin bertambah, itu berarti cintanya makin mendalam. Adakalanya seeseorang itu mencintai sesuatu karena dzatnya, melihat sesuatu itu menurutnya indah dan baik. Dan cinta yang demikian itu jenis cinta yang tidak dicemari oleh tujuan, karena sesungguhnya semua yang indah itu disukai. Demikian pula kecintaan terhadap Rasulullah dan para sahabatnya, sereta imam syafii dan semua pemimpin madzhab merupakan hal yang bisa terjadi. Tetapi kecintaan ini tidak bersifat indrawi alias tidak daapt dijangkau oleh panca indra. Bahkan manakala didengar terhimpunya pekerti yang baik yang bersifat diluar jangkauan indera dan nilai baik, maka hal itu menrut pandangan hati dinilai baik. 2.2 Penggolongan cinta perspektif Psikologi dan Sufism Menurut Rollo May , ada empat macam cinta dalam kebudayaan barat yang mengacu pada kebudayaan Yunani kuno, yaitu: 1. seks( nafsu, libido). Menurut may adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan melalui hubungan seksual atau cara melepaskan tekanan seksual lainnya. Walaupun hal ini menjadi sesuatu yang berkurang dalam masyarakat barat modern, seks tetap menjadi kekuatan untuk menghasilkan keturunan. Dorongan yang dapat mengabadikan suatu ras, sumber utama kenikmatan paling intens dari manusia sekaligus kecemasan yang paling meresap. 2. eros (dorongan cinta untuk mencipta atau keinginan menuju bentuk tertinggi kberadaan dan hubungan). Adalah hasrat psikologis yanng mencari untuk menghasilkan keturunan atau kreasi lewat persatuan dengan seseorang yang dicintai. 3. philia (cinta pada saudara) yaitu hubungan pertemanan yang intim diantara dua orang namun non seksual. Philia tidak dapat diburu-buru, membutuhkan waktu untuk tumbuh berkembang dan mengakar. Misalkan, rasa cinta yang pelan-pelan tumbuh antara saudara kandung atau antar teman lama 4. agape (memberi tanpa meminta, bentuk prototipe cinta Tuhan pada manusia). Agape adalah penghargaan untuk yang lain, kepedulian atas kesejahteraan orang lain yang melebihi keuntungan apapun yang dapat diperoleh seseorang dari orang tersebut, cinta yang tak terkecuali, seperti cintany Tuhan kepada manusia. Agape adalah bentuk cinta yang altruis, bentuk cinta spiritual yang membawa resiko seseorang bertindak seolah-olah ia adlah Tuhan. Cinta ini tidak memperdulikan perilaku atau karakteristik dari orang lain, dalam hal ini, agape menjadi tarasa berlebihan dan tidak bersyarat. Sebagian para ilmuwan sosial menganggap bahwa syair cinta karya sastrawan sufi abad ke-13M, Mahlevi adalah mahakarya, karena kata-kata tidak mampu mengandung makna rasa kekaguman yang luar biasa atas ketuhanan sebagai yang dimiliki dalam bahasa puisi. Selama berabad-abad puisi ditampilkan secara keliru dengan menyebutnya sebagai “puisi cinta”, untuk menyamarkan keunggulan, ketentraman, kesenangan dan pengalamanketenangan yang paling tinggi sebagai kekasih Tuhan. William jeams psikolog yang tertarik mendiskusikan cinta Tuhan sebagai fenomena psikologi, dalam bukunya, ia memaparkan secara tegas tentang apa yang ia sebut sebagai “literatur religius”, ada cinta surgawi yang terus menerus mengalir secara konstan, dan aku mengatakan pada diriku untuk mengapung atau berenang, pada cahaya ini, sinar yang manis, seperti sebutir debu yang berenang dalam sinar matahari, atau aliran cahayanya yang masuk kejendela. Ia juga memperjelas hal yang dibicarakan oleh para psikolog. sekalipun demikian. Agama yang tak terlihat tak semata-mata ideal untuk menciptakan efek pada dunia. Jika kita berbicara dengan nya, sebenarnya pekerjaan telah terselesaikan diatas kepribadian kita yang terbatas, kemudian kita sekarang berubah menjadi manusia baru, dan konsekuensi dalam cara bertinngkahlaku pun mengikuti didunia alami diatas perubahan regeneratif kita. Sufisme “jalan cinta” Adalah cintanya Tuhan yang dalam sejarah telah merangsang munculnya karya-karya seni besar seperti lukisan, patung, dan musik. Juga cintanya Tuhan yang disarikan menjadi panutan seluruh umat manusia, yaitu para nabi adalah cintanya Tuhan yang dalam sejarah telah merubah dan membentuk manusia sebagai makhluk yang mulia. Cinta adalah inti, esensi dari sufisme. Tujuannya adalah kesatuan antara pecinta dan Tuhan yang dicintainya, cinta dari tuhan untuk manusia dan cinta balasan dari manusia kepada Tuhan telah menjadi landasan dari agama. Hal ini secara terus menerus telah ditampilkan oleh para nabi, dan secara tegas diekspresikan dalam berbagai kitab suci, injil dan Al-Qur’an. Ikhtisar cinta adalah ketika jiwa telah meninggalkan cinta duniawi dan telah mneyatu dengan yang sanngat dicintai (Heavenly beloved) dengan demikian, keadaan tertinggi eksistensi telah tercapai. Prof Angha menggambarkan cinta adalah sama dengan tingkatan dalam hidup yang paling indah dan spiritual cinta adalah tenaga yang mampu mengikat partikel-partikel menjadi satu kesatuan, dan mampu membangun manifestasi eksistensi menjadi bentuk yang bermacam-macam, dan sangat baik untuk menghasilkan kreasi. Cinta adalah perekat eksistensi yang paling kuat. Ada tiga tingkatan cinta: 1. Cinta biasa. Tingkatan biasa aadalah tingkatan pada hidup sehari-hari, pada seksualitas, pertemanan, dn ketertarikan. Dn termasuk didalamnya adalah kesukaan kita, kasih sayang terhadap materi dalam kehidupan sehari-hari, dan juga tingkah laku biologis seperti bergabungnya kromosom-kromosom menjadi satu. Asal mula efek dan impperasi dari cinta biasa dan hasrat adalah suber magnetik dibawah tulang dada, yaitu jaringan saraf dibelakang tulang perut. Profesor Angha mendefinisikannya sebagai tenaga elektromagnetik yang menembus dan mengajak seluruh partikel tek terhingga menjadi satu, bagi cinta biasa kebencian adalah refleksi, seperti kejahatan dan kebaikan, keburukan dan kecantikan, penderitaan dan kepuasan. Sensasi dari cinta biasa ini sangat luas, sehingga medahului pengalaman cinta abadi dan pasti mendahului tingkah laku partikel yang dibatasi dalam tiga dimensi. Seseorang harus mencintai duniawi sebelu menjadi pecinta surgawi. 2. Cinta spiritual. Tingkatan spiritual adalah hal yang terdapat diantara guru spiritual dan murid, antara penguasa dan pengikutnya. Cinta spiritual terjadi ketika penyatuan sempurna terjadi antara dua sumber magnetik dari jaringan saraf tersebut dengan otak. 3. Ketuhanan. Tingkat tertinggi adalah ketuhanan, adalah kesucian nabi yang berhubungan dengan yang tak terbatas , baik eksistensi positif atau yang Maha Kuasa. Tiap manifestasi memiliki realitanya masing-masing. Tersembunyi, dan diselubungi oleh tabiir pada tingkatan tertinggi. Tingkat tertinggi cinta ketuhanan dari Nabi adalah hubungan dan penyatuan dari tiga sumber: sumber magnetik hati, jaringan saraf (solar plexus) dan otak secara bersama. Tujuan salik adalah membuang tabir agar dapat mengetahui dan menyadari Tuhannya, karena seseorang tidak akan dapat mencintai apa yang tidak ia ketahui. Salik harus menemukan penguasa cinta (Master of Love), ia harus melepaskan ketergantungannya pada proses mentalnnya karena pikiran tidak mengetahui bagaimana pekerjaan dan menakjubkan ini diselesaikan. 2.3 Cahaya Jika dianalogikan dengan lampu, psikologi menggambarkan bermacam-macam karakteristik lampu, psikoterapi membuat perubahan pada sapek fisik lampu, maka sufisme menghadirkan hubungan pada sumber dan kekuatan yang membuat lampu itu bersinar. Perbedaan singkat antara psikologi barat dan sufisme, dan psikoterapi dan sufisme. Dari gambaran tersebut dapat diketahui perbedaan singkat antara Psikoterapi dan sufisme. Jika psikolog sudah ada sejak seabad terakhir, sementara sufisme sama dengan usia umat manusia dan telah hadir sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, tujuan psikologi adalah menggambarkan, mempreediksi dan mengontrol tingkah laku manusia. Tujuan sufisme adalah pengetahuan diri, melalui pengetahuan diri ini kemudian akan dicapai pemahaman tentang sang pencipta. Psikologi adalah kuantitatif dan intinya impersonal, tertarik pada tingkahlaku “rata-rata” yang dapat diukur. Sufisme menerima hal-hal yang fisik, namun menitik beratkan pada yang metafisik. Hasil studi dari psikologi adalah ide-ide dan kumpulan gambaran informasi tentang tingkah laku manusia. Hasil studi sufisme adalah cahaya ketuhanan. Jika psikologi tertarik pada kesehatan mental, maka sufisme tertarik pada penyembuhan luka dengan cara mencapai penyatuan dengan yang dicintai. Psikoterapi menggunakan dialog sebagai metode utama dalam mengatasi masalah kehidupan seseorang, sufisme menggunakan “diri dalam”, yaitu melalui pengetahuan dan penyadaran hati yang dibimbing oleh penguasa spiritual. Menurut the pir, hasil perubahan psikoterapi biasanya kecil, mencakup penyesuaian diri dan penampilan. Sedangkan jalan sufisme lebih mendalam, berupa pengalaman transformasi yang bersifat menetap. Dalam psikologi dan psikoterapi fokus utama adalah manusia, dalam sufisme fokusnya adalah Tuhan. Psikologi barat memang menghasilkan informasi yag berguna dalam membatasi pernyataan mengenai gambaran fenomena fisik yang dapat diukur, meski tidak menghiraukan hal yang sangat esensi dari makna aslinya. Psikoterapi barat terfokus pada tingkat fisik, lebih khusus lagi tidak bertujuan untuk mencapai tingkat tertinggi kapabilitas dan potensi, dan juga tidak menghasilkan “penyembuhan jiwa” yang merupakan makna sebenarnya. Sebaliknya, sufisme adalah cara unutuk meyembuhkan jiwa dan untuk mencapai tingkat tertinggi kapabilitas dan potensi manusia yang dimiliki manusia sejak lahir. Dalam istilah ini sufisme adalah makns psikoterapi yang sesungguhnya. Sufisme menjawab pertanyaan kunci yang tidak dapat dijawab oleh psikologi, bagaimana cara mengembangkan manusia yang sempurna, dan bagaimana cara mengembangkan masyarakat yang sempurna. Hal ini menjawab pertanyaan manusia yang abadi dan juga fungsi kehidupan, dan menghasilkan jalan menuju ketenangan dan keselamatan yang dicari oleh kita semua. Pir menerangi jalan setapak menuju hubungan dengan sumber kekuatan yang akan membuat fungsi yang kita maksudkan untuk menghasilkan cahaya menjadi terpenuhi. Inti dari studi sufisme adalah bukan melalui kata maupun fikiran yang menutupi kebenaran. Dalam perjalanan menuju cahaya, “kata-kata kebenaran, hati yang murni, niat yang tulus, penghidupan yang jujur, keteguhan dalam melangkah dan kesetiaan sejati adalah penting. Hanya karena karunia Tuhan kebenaran tentang Ketuhanan diam-diam dibukakan kepada sang pencari tanpa menimbulkan pertanyaan atau keraguan. Bimbingan Pir adalah penting untuk mengatasi hambatan dalam pejalanan, karena orang yang melakukan perjalanan ini atas kemauan sendiri akan tenggelam dalam fatamorgana dari dirinya. Ketika cahaya ketuhanan menyelubungi kerajaan hati sang salik, maka hati akan diterangi oleh sinar bintang pelindung dan ia akan mengetahui ketujuah sinar hati satu persatu dunia transisi menjadi tunduk pada kesetiaan. Ia harus menghabiskan secangkir penghancuran dan harus memanifestasikan keindahan ketuhanan. Karena peleburan adalah menghilangnya kekeruhan dari hati dan menukarkan dengan memanifestasi Ketuhanan. Cahaya Ketuhanan akan menerangi jiwa salik. Tabir antara bumi dan surga telah dipindahkan, kebebasan telah dibenarkan dan diri yang terbatas akan menghancurkan batasan dan bersatu dengan eksistensi Tuhan yang tak terbatas. Dalam saat kesatuan itu, yang indah saling terjalin dengan yang indah, dan jibril sang kepercayaan, menjadi pembawa petunjuk dari nafas esensi yang mutlak, salik harus menjadi satu dengan kerajaan dari sinar-Nya. Ia akan menjadi sempurna dan rahasia yang disembunyikan akan dibukakan untuknya. Perbandingan antara sufisme dan psikoterapi: no Psikoterapi Sufisme 1 Ada sejak Kurang dari 100 tahun yang lalu 1400 tahun yang lalu 2 Tujuan Prediksi dan kontrol yerhadap perilaku manusia Pengetahuan diri, pengetahuan tentang pencipta 3 Metode Kuantitatif, impersonal Kualitatif, personal no Psikoterapi Sufisme 1. Definisi masalah Sakit mental Jiwa yang tidak sehat 2 Tujuan Kesehatan mental Menyembuhkan jiwa, penyatuan jiwa dengan yang dicintai 3 Metode utama Dialog Pengalaman 4 Hasil perubahan Sedikit, penampilan, adaptasi Dalam, permanen, transformasi 5 Fokus Manusia Tuhan BAB III PENUTUP Simpulan Cinta merupakan kegiatan paling penting sebagai pribadi. Cinta dan benci adalah tindakan primordial manusia yag mendasarsi tindakan lain. Pribadi dapat diukur dari cintanya. Beberapa psikolog mendeskripsikan cinta menurut perspektif masing-masing. Cinta dalam perspektif psikologi yang cenderung disandarkan pada hubungan seksual antara lawan jenis, amupun cinta pada keluarga dan teman. Sufisme pun tak kalah menarik dalam mendefinisikan cinta. Sufisme menegasikan cinta tak hany hubungan sesama makhlik saja, namun cinta dalamsufism juga ditujukan pada cinta seorang hamba pada Tuhannya, dan cinta balasan dari Tuhan pada hamba-Nya. Ketika cinta seorang hamba telah sampai pad acinta pada Tuhannya, maka akan menegasikan cahaya dalam diri salik (pelaku tasawuf). Ketika cahaya ketuhanan menyelubungi kerajaan hati sang salik, maka hati akan diterangi oleh sinar bintang pelindung dan ia akan mengetahui ketujuah sinar hati satu persatu dunia transisi menjadi tunduk pada kesetiaan. Ia harus menghabiskan secangkir penghancuran dan harus memanifestasikan keindahan ketuhanan. Karena peleburan adalah menghilangnya kekeruhan dari hati dan menukarkan dengan memanifestasi Ketuhanan. DAFTAR PUSTAKA Al-Ghazali,Abu Hamid. Ihya’ulumudin. Juz IV. Edit. Muhammad Tamir. Kairo: Muassasah al-Muhtar. 2004. Sobur. Alex, “ Psikologi Umum dalam lintasan sejarah”, Cet. Ke-5, CV.PUSTAKA SETIA, Bandung. 2013. Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000 Willcox,Lynn. “psichoSufi: terapi psikosufistik pemberdayaan diri”, Cetakan pertama, Pustaka Cendekia, Jakarta.2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar