Minggu, 17 April 2016
konsep psikologi tranpersonal Spiritual
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Saya tidak sependapat mengenai Transpersonal cenderung sekuler, karena sejarah Transpersonal sendiri berangkat dari bagaimana manusia dapat menyentuh sisi terdalamnya yang meliputi aspek spiritual hingga mengalami transendensi, sementara secara ideologis, istilah sekuler didefinisikan sebagai “pembebasan manusia pertama dari agama, dan kemudian dari kungkungan metafisika yang mengatur akal dan bahasanya.” (Cornelis Van Paursen). Ia adalah “defatalization of history, yaitu pembebasan manusia dari faham fatalistik yang pernah mendominasi sejarah lampau mereka, dengan mengubah pandangan dan orientasi mereka dari hal-hal yang metafisik menuju dunia dan zaman kekinian.” (Harvey Cox, The Secular City).
Noesjirwan (2000) mendefinisikan Psikologi Transpersonal diartikan sebagai suatu studi terhadap potensi tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan-keadaan kesadaran yang mempersatukan antara spiritual dan transenden. Dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan konsep Psikologi Transpersonal yang berkaitan dengan dimensi spiritual.
B. Rumusan masalah
1. Pengertian Spiritual dan dimensi-dimensi spiritual
2. Spiritualisme dan kebutuhan psikologi manusia
3. Teori perkembangan spiritual Fowler
4. Pengalaman Spiritual dalam dimensi waktu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pngertian spiritualitas
Kata spiritualitas berasal dari bahasa inggris yaitu Sprituality. Kata dasarnya spirit yang berarti roh, jiwa dan semangat. (Richolson dan shadily,1997). Menurut Alian B Purwakania Hasan(2006) Spiritualitas memiliki ruang lingkup dan makna pribadi yang luas, hanya saja spiritualitas dapat dimengerti dengan membahas kata kunci yang sering muncul ketika orang-orang menggambarkan arti spiritualitas bagi mereka. Dengan mengutip hasil penelitian Martsolf dan Mickley, Aliah B Purwakamia Hasan menyebutkan beberapa kata kunci yang bisa dipertimbangkan, yaitu: meaning (makna) values (nilai-nilai), transcendence (transendensi), conecting (bersambung), becoming (menjadi),
Esensi spiritualitas adalah keterhubungan, yaitu keterhubungan diri dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta. Roy F. Baumeister dan Kathleen D. Vohs (2002) dalam artikelnya The Pursuit of meaningfulness in life, menyebutkan bahwa keterhubungan (koneksi) merupakan esensi dari makna. Demikianlah penemuan makna hidup dan spiritualitas merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Makna bukanlah suatu realitas fisik, sehingga hubungan antara dua hal oleh makna tidak berkurang oleh adanya hukum-hukum fisik. Itulah sebabnya seseorang yang secara fisik tidak berjumpa lagi dengan orang-orang yang dicintainya (misalnya meninggal) tetapi dapat merasakan makna dari hubungan dengan orang-orang yang dicintai itu.
Spiritualitas dalam psikologi transpersonal sebenarnya merupakan kelanjutan atau lebih tepatnya pengembangan dari psikologi humanistik. Ada dua unsur yang menjadi perhatian psikologi transpersonal, yaitu potensi-potensi luhur (the Higest potensial) dan fenomena kesadaran (state of consciusnes) manusia. Dengan kata lain, psikologi transpersonal memberikan perhatian pada dimensi spiritual dan pengalaman-pengalaman rohaniah manusia.
Dimensi-dimensi Spiritual
Meskipun para peneliti tentang spiritual yang sehat mencatat bahwa spiritual harus dipahami dalam tujuh dimensi, yaitu: Makna (menaing), Konsep tentang ketuhanan ( conception of divinity) Misteri (Mistery) Pengalaman (experience), Perbuatan atau permainan (play), Integrasi (integration), Hubungan (Relation)
1. Meaning atau makna merupakan dimensi terpenting dalam dunia spiritualitas, meskipun makna tdak mungkin digambarkan dalam cara-cara yang umum, namun ia dapat dipahami sebagai sesuatu yang dialami individu yang membuat kehidupannya lebih bernilai atau berharga. Manusia mengisi hidupnya bukan untuk satu tujuan hidup yang sia-sia. Pasti ada yanng menjadi sasaran dan ada energi yang mengerakkan dirinya secara dinamis untuk dapat mencapai sasaran tersebut. Sasaran merupakan wujud kriteria yang ingin dicapai seseorang. Ia dapat bermakna, namun juga dapat berpeluang tanpa makna. Jika ia bermakna, maka secara psikologis ia memberikan kepuasan bagi seseorang. Seperti tiga konsep dasar yang diuraikan Vicktor Frankl:”life is has a meaning under all circumstances to active the will to meaning, people have freedom under all circumstance to active the will to meaning and to find”
2. Conception of divinity yaitu konsep tentang ketuhanan. Bagaimana konseptualitasseseorang dengan Tuhan mungkin bermacam-macam. Fox mengategorikan konsep individu tentang Tuhan atas Atheistik, teistik, pantheistik atau panetheistik. Secara teistikal individu berhubungan dengan kekuatan atau wujudtransenden yang utama. Secara ateistik seseorang mennyangkal atau menolak konsepsi tentang ketuhanan. Dalam hubungan pantheistik individu berhubungan dengan sesuatu kekuatan absolut yang bersemayam dalam semua keberadaan termasuk dalam individu itu snediri.
3. Relationship, yaitu dimensi hubungan. Salah satu tujuan dari semua mitologi , termasuk sistem agama adalah untuk menemukan hubungan. hubungan ini mencakup bagaimana individu berhubungan dengan konsepnya tentang ketuhanan dan dengan orang lain. Burns kemudian menggambarkan gagasan tentang hubungan dalam spiritualitas dengan mendifinisikannya sebagai suatu perjuangan untuk penyatuan dengan realitas diri interkoneksi antar diri, orang lain dengan Dzat yang Maha Kuasa.
4. Mistery, merupakan salah satu dimensi spiritual yang penting. Banyak upaya untuk menggambarkan spiritualitas menyinggung masalah misteri atau ambiguitas dari spiritual. Banks dalam mendifinisikan dimensi mistery mencatat bahwa spiritualitas merupakan dimensi yang secara tipikal dirasakan sebagai sesuatu yang tidak bisa difahami dan tidak bisa dilukiskan. Ketika seseorang berbicara tentang kekutan transenden, pengalaman fenomenologis tentang makna, atau kesadaran tentang alam yang tidak bisa dilukiskan seperti interkoneksi antar individual, mereka sampay pada batas-batas yang tak terkatakan dan misteriusmisteri dan toleransi baginya merupakan bagian dari semua trdisi spiritual.
5. Experience, selain konsep tentang tak terbatas, kesadaran tentang makna dan dimensi misteri, terdapat kebutuhan untuk menjeaskan bagaimana semua ini dimanifestasikan dalam pengalaman individual. Campbell menekankan pentingnya pengalaman spiritual, dimana orang menceritakan tentang pencarian makna hidup : apa yang sesungguhya mereka cari adalah pengalaman hidup. campbell menyatakan bahwa makna diperoleh dari pengalaman.moberg menyatakan bahwa spiritualitas sering dikaitkan dengan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan dan dapat menggaris bawahi sejumlah pengalaman estatik manusia seperti orgasme seksual dan asthetik getaran nada. Belakangan ini banyak yang menginterpretasikan pengalaman sama dengan peaks-eksperience yang disebutkan oleh Abraham Maslow, ia menyatakan bahwa elemen spiritual dari peaks=eksperience dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berkembeng didunia sekuler dan kerinduan akan makna (yearningfor meaning), meskipun cambell mennyatakan bahwa fungsi dari semua mitologi adalah untuk membantu individu untuk memperoleh pengalaman dari keberadaannya, namun ini tidak tepat dipahami sebagai peaks eksperience, tetapi juga ordinery experience (pengalaman luar biasa) yang dialami sehari-hari dan berhungan dengan tingkahlaku mereka.
6. Dimensional Integration, keenam dimensi spiritualitas sebenarnya tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sheldrake menekankan bahwa spiritualitas adalahsuatu integrasi dari semua aspek pengalaman dan kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dimensi spiritual sesungguhnya merupakan gabungan dari semua dimensi: a. sense of meaning, b. Concept of divine, absolute or force greater than one’s self, c. Relationship with Divinity and other neings, d. Toleranse or negative capability for mistery, e. Peak dan ordinary eksperience engaged to enhance spirituality (may included ritual or spiritual discipines), f. Spirituality as systemic force thats acts to integrate all the dimencions of one’s life.
Berbeda dengan Ingersoll, Burkhard menyebutkan empat dimensi spiritualitas, yaitu: berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau tidak pasti dalam kehidupan, menentukan arti atau makna hidup, menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri, mempunyai perasaan keterkaitan dengan diri sendiri dan Tuhan YME.
B. Spiritualisme dan kebutuhan psikologi manusia
Gerakan kaum sufi yang tergabung dalam kelompok tareekat, banyak membantu terwujudnya cita-cita pembebasan dari kungkungan penjajahan. Tidak hanya dilakukan oleh tokoh tarekat di Indonesia, tetapi juga dilakukan di negara lain. Imam sutrisno menyebutkan bahwa kaum sufi yag merupakan kaum elite dan kaum terdepan merupakan roda penggerak utama Islam pada masanya.
Kenyataan bahwa orang Barat mengikuti gerakan agama semu (psedo-Religion) seperti gerakan bahai dan subud ataupun berbagai cabang Budhisme, Hinduisme dan agama baru minor lainnya, atau versi agama-agama lama yang dihidupkan lagi, menunjukan kehausan dan minat spiritualitas di Barat. Hal ini karena berbagai versi agama Kristen yang lebih berdasarkan pikiran atau emosi daripada berdasarkan “hali”, telah gaal memberikan santapan rohani yang sesungguhnya selama beberapa abad. Gerakan yang lebih berpengaruh dari berbagai gerakan ini adalah gerakan kaum theosofi dan Mason. Menjelang awal abad ke-20 kita dapati pertalian yang amat besar pada spiritualisme di Eropa ataupun Amerika Utara.
Masyarakat merasa bebas dan lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis, meletakkan hidup manusia dalam konteks kenyataan sejarah dan penisbian nilai-nilai. Mereka menyimpan problem hidup yang sulit dicerikan solusinya. Rasionalisme, sekularisme dan sebagainya ternyata tidak mampu menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnnya, tetapi sebaliknya, menimbulkan kegelisahan hidup. Masyarakat barat yang dikatakan modern atau the post industrial society telah kehilangan visi ilahi. Kehilangan visi keilahian ini bisa menimbulkan timbulya gejala psikologis, yaitu adanya kehampaan spiritual.
Apabila mereka menempatkan diri pada proporsinnya, dan ingin menghilangkan problematika psikologis dan etik, mereka harus kembali kepada agama melalui tasawuf. Intisari tasawuf adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara manusia dengan Tuhannya, sbagai perwujudan ihsan, yang diartikan sebagai “ibadah kepada Allah SWT. Seakan-akan melihat-Nya, apabila tidak mampu demikian, harus disadari bahwa Dia melihat diri kita”. Ihsan menunjukkan arti penghayatan seseorang terhadap agamanya. Tasawuf mempunyai potensi besar karena mampu menawarkan pembebasan spiritual, mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, dan mengenal Tuhan nya. Tasawuf dapat memberi jawaban-jawaban terhadap kebutuhan spiritual akibat pendewaan mereka terhadap selain Tuhan, seperti materi dan sebagainya.
Memang diakui baahwa manusia dalam kehidupan manusia dalam kehidupannya selalu berkompetensi dengan nafsu yang selalu ingin menguasainya. Agar posisi seseorang dapat terbalik, yaitu hawa nafsunya dikuasai oleh akal yang telah mendapatkan bimbingan wahyu, dalam dunia tasawuf diajarkan berbagai terapi, seperti riyadhah (latihan) dan mujahaddah (bersungguh-sungguh) dalam melawan hawa nafsu. Dengan jalan ini seseorang diharapkan mendapatkan jalan yang diridhai Allah SWT.
Dalam menempuh jenjang kesempurnaan rohani, dikenal tahapan takhalli, tahalli dan tajalli. Dalam takhalli terdapat ciri moralitas Islam, yang menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela, baik secara vertikal maupun horisontal, misalnya tamak, takabur, hasad dan sebagainya. Tahalli merupakan pengungkapan secara progresif nilai moral yang terdapat dalam Islam, misalnya zuhud, yang oleh sebagian ulama sufi dianggap sebagai awal kehidupan tasawuf.
Zuhud sebagai sikap sederhana dalam kehidupan berdasarkan motif agama bisa menanggulangi sifat-sifat tercela. Imam Hambal menyebutkan tiga tahap zuhud, pertama zuhud dalam arti meninggalkan yang haram, ini adalah zuhudnya orang awam. Kedua zuhud dalam arti meninggalkan hal-hal yang berlebih-lebihan dalam perkara yang halal. Ini zuhudnya orang khawas (istimewa). Ketiga zuhud dalam arti meninggalkan apa saja yang memalingkan diri dari Allah SWT. Ini adalah zuhudnya orang arif (orang yang mengenal Tuhan).
Dengan demikian, jelas bahwa kesulitan dalam mencari jawaban pada permasalahan yang dianggap meruncing ini diperlukan kajian yang bersifat komprehensif, historis, sosiologis dan kehidupan spiritualitas neo-sufisme pada zaman modern ini.
Spiritualitas adalah hubungan dengan yang Mahakuasa dan Maha Pencipta. Menurut Burkhardi spiritualitas meliputi aspek-aspek menemukan arti dan tujuan hidup. Penelitian tentang pengalaman puncak telah mengidentifikasikan frekuensi, faktor pemicu, faktor psikososial yang berkaitan dengannya, dan konsekuensi dari pengalaman puncak. Membahas unsur spiritual yang sangat luas. Pengalaman masyarakat (kasyf) yang biasa dialami pada permulaan kenabian adalah puncak perjalanan spiritual kewalian.
Pengalaman spiritual, yaitu hal yag dialami seseorang dalam benak pikirannya yang terjadi dibawah alam sadarnya atau jauh dari kenyataan sebenarnya. Hal itu sebagai pertanda bahwa ia telah berhalusinasi dengan sempurna sehingga sang pencipta membuat dirinya melakukan pertemuan spiritualnya dengan tiga nabi besar yang mewakili tradisi Ibrahimiyah.
C. Teori perkembangan spiritual Fowler
Konsep tentang spiritualitas dan kepercayaan yang digunakan Fowler merujuk pada apa yang dikemukakan oleh Wilfred Cabtwell Smith, bahwa kepercayaan eksistensial merupakan kualitas pribadi, yaitu suatu orientasi kepribadian seseorang yang menanggapi nilai dan kekuasaan transenden,orientasi terhadap dirinya, sesamanya dan alam semesta yang dilihat dan dipahami lewat tradisi bentuk-bentuk kumulatif. Kepercayaan itu sendiri menurut Smith (dalam Fowler, 1981) menyatakan bersifat universal yang dimiliki oleh semua umat manusia, artinya kepercayaan bagi manusia merupakan suatu kodrat, alamiah yang dimiliki manusia.
Dalam teorinya, Fowler mengusulkan tahap perkembangan spiritual dan keyakinan yang dibangun atas dasar teori-teori perkembangan dari Erikson, Piaget, Kohlberg, Pery, Gillingan dan Levinson. Fowler berpendapat bahwa spiritualitas dan kepercayaan dapat berkembang hanya dalam lingkup perkembangan intelektual dan emosional yang dicapai seseorang. Ketujuh tahap perkembangan itu adalah: primal faitj, injuctive –projective faith, Mhytical0literal faiith, Synthetic-convencional faith, imdividuative-refectivefaith, conjuctive faith, universaling faith.
D. Pengalaman Spiritual dalam dimensi waktu
Alhujairi membagi waktu sufi menjadi dua, yaitu kondisi sorna (faqd), dan kondisi wajd (ektase). Yang pertama ditempat wishal dan yang kedua ditempat terpisah (firaq). Kedua waktu ini merupakan keharusan (maqhuran) karena dalam wishal, perjumpaanya itu disebabkan oleh Al-haqq.
Al-Ansari, sebagaimana dikutip oleh Gerhard Bowering menjelaskan bahwa waqt sebagai momen yang berupa tiga jenis. Ia dapat menyerupai kilatan cahaya (barq) atau waktu yang lama (payanda) dan menguasai (galib), momen yang muncul seperti cahaya berasal dari meditasi (fikrah), ia meyucikan dan menjadikan seseorang dan memaksa agar melupakan dunia yang akan datang. Momen yang menguasai berasal dalam audisi dan visi (sama’ wa nazar), ia menghapuskan semua jejak kesadaran manusia sehingga hanya Tuhan yang tersisa. Waktu sufi menurut Al-jabiri didasarkan pada dua hal.
Pertama, keterputusan dari masa lalu dan masa depan karena ia tenggelam di dalam kondisi spiritual (hal) yang mencakup semua alur masa, dan mengambil semua putaran keabadian dalam satu kejapan yang dirasakan sangat panjang, tanpa adanya permulaan dan akhir. Waktu sufi ini menafikan zaman natural (kosmologi) dan sekaligus psikologi.
Kedua, meninggalkan ikhtiar yang artinya menerima satu bentuk dari jabariyah. Bersamanya seorang murid atau sufi meninggalkan setiap usaha serta menjadikan perbuatan, gerakan dan diamnya dari Allah.
Lebih lanjut lagi, Al-jabiri mengatakan bahwa kaum sufi disandarkan pada ketunduk pasrahan kepada jabariyah universal dan ketenggelaman universal dalam kondisi spiritual (hal). Al-Harawi mengklasifikasikan waktu sufi dalam tiga makna dan tiga tingkatan berikut:
1. Ketika terjadi wajd (ekstase) yang sebenarnya, yaitu ketika melihat cahaya anugerah yang disebabkan oleh pengharapannya (raja’) yang bersih dari segala kotoran, dan karena kobaran rindu yang disebabkan oleh percikan api cinta.
2. Nama untuk jalan yang dilalui, yaitu salik antara tamakkun dan talawwun. Tamakkun adalah tunduk patuh pada hukum-hukum pengabdian melalui persaksian didalam hal, dan hal itu menuntun pada fana’ didalam keesaan. Adapun talawwun adalah tunduk patuh pada hukum-hukum ibadah dengan ilmu, yang menuntun pada janji indah mendapatkan kenikmatan surga. Seorang sufi yang bisa menuju tamakkun (kedudukan), ia akan menapaki hal dan berpaling pada ilmu. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemilik maqam waqt ini adalah pemilik hal.
3. Al-waqt Al-haqq (waktu adalah Allah) bagi kaum sufi diartikan sebagai ketenggelaman dalam benntuk waqt didalam wujud Tuhan. Arti wkatu didalam wujud Tuhan digunakan dengan menggunakan kata istighraq, yang mengandung arti bahwa seorang salik yang tenggelam dalam waktu Tuhan. Sebagaimana setetes air yang dijatuhkan kedalam lautan, lenyap inti tetesan itu di dalam lautan wujud.
Setiap orang yang ma’rifat memiliki mi’rajnya, naiknya roh melewati satu langit menuju langit lain, dan setiap langit ada maqam tersendiri. Ketika seorang arif telah menduduki ghawts, quthb, atau khalil, dia didekatkan kepada dzat Allah. Disanalah ia diajak bicara, berdialog, diberi ilmu dan diperintahkan. Darisini keberadaan waktu sufi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Kondisi yang menguasai manusia apakah itu kebahagiaan, kesedihan, kesibukan dengan dunia atau akhirat. Jika kondisi itu menghampiri seseorang, ia akan larut didalamnya dan menghabiskan waktu untuknya. Ini bisa berupa pengalaman psikologis ataupun spiritual. Hal ini diungkapkan dengan ma anta fihi atau al-ghalib ‘ala al-insan.
2. Kondisi ekstase (wajd) baik berupa khauf, raja maupun mahabbah. Kondisi wajd dapat diilustrasikan sebagai berikut. Pertama kata wajd berasal dari kata wajada berarti “menemukan”, “menjumpai”, yang hampir searti dengan kata recovery dalam bidang ilmu pengetahuan atau eureka Archimedes. Ketika ketakutan, kekhawatiran telah menghilang dan yang diharapkan segera datang, serta bibit rindu cinta yang menggelora bersambut, ketika ia menemukan yang dicintai dan dijumpainya, saat itu juga penghalang telah tersingkap (mukasyafah) dan ia dapat menyaksikannya (musyahadah). Inilah yang membuatnya berada dalam situasi kebingungan wajd didalam mukasyafah dan musyahadah, yang disebabkan oleh kekhawatiran, pengharapan dan cinta yang sejati. Ini diungkapkan dengan amma huquq al-awqat bianfusiha, fahiya muraqabat Al-Haqq aw musyahadatuh (adapun kewajiban-kewajiban waktu itu sendiri adalah muraqabat al-Haqq atau musyahadah)
3. Faqd min ikhtiyar (tidak memiliki hak berikhtiyar) artinya bahwa seorang sufi menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan ia sibuk hanya dengan Allah sehingga sufi berada didalam kekuasaan waktu sufi yang merupakan anugerah atau pemberian Allah.
4. Qurb (kedekatan) atau kebersamaan (hadhrah jam’i) sebagaimana yang disabdakan nabi Saw. Ketika mi’raj,”aku memiliki waktu khusu bersama Allah yang tidak bisa memasuki malaikat yang mendekat dan tidak juga nabi yang diutus.” Begitu dekatnya hingga diibaratkan dua ujung busur panah bahkan lebih dekat lagi. Disana beliau diajak bicara, dialog dan diperintahkan oleh Allah SWT. (humma kulima, hudisa, umira).
5. Jam’i, artinya tenggelamnya bentuk waktu di dalam wujud Tuhan. Digunakannya kata istighraq berarti seorang salik ketika menyaksikan, tenggelamlah waktunya yang hadir didalam pemaknaan zaman mutlak. Tenggelamnya zaman pada bentuk waktu yang merupakan bagian dari bagian-bagian yang dilimpahkan didalamnya, bagaikan setetes air yang dijatuhkan kedalam lautan, maka lenyaplah inti tetesan itu didalam lautan wujud. Dari arti ini kemudian disebutkan al-waqt Al-Haqq (waktu sufi adalah waktu Al-Haqq).
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Konsep psikologi transpersonal tentang spiritualitas merpakan esensi spiritualitas adalah keterhubungan, yaitu keterhubungan diri dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta. Roy F. Baumeister dan Kathleen D. Vohs (2002) dalam artikelnya The Pursuit of meaningfulness in life, menyebutkan bahwa keterhubungan (koneksi) merupakan esensi dari makna. Dalam pembahasan makalah ini, penulis mencoba memaparkan sedikit tentang bagaimana peran spiritualitas dalam kebutuhan psikologi manuisa, dan bagaimana korelasi antara psikologi transpersonal dan spairitualitas baik perspektif psikologi maupun perspektif tasawuf.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar