Minggu, 29 Maret 2015

aku dan hariku

Dibawah Matahari akhir bulan maret yang mulai merunduk-runduk menampakan senyum malu-malunya, ragaku terkapar lemas dibawah peluh ahad kelabu itu, aku mengernyitkan alisku, mencoba menggenggam boneka biru gantungan flashdisk ku, mobil inova merah terus melaju kenjang membawa ragaku yang lemah tak berdaya, deretan mobil-mobil dan trek-trek tronton menghiasi pemandangan perjalanan pulangku hari ini, setelah ditempa olah fisik dua hari satu malam, hari ini aku tubuhku seperti boneka, kaki dan tangan tak laig dapat digerakkan, bahkan untuk memegang segelas airpun seluuruh tubuhku gemetaran. Setelah berhasil menjelajahi bukit-bukit barang dari truk-tru yang berjajar di jalanan, akhirnya ekspedisiku bermuara pada klinik BCI, tempat dimana kawanku amalia sering “membuang” penyakitnya disini, tujuanku simpel, meregeneerasi energiku yang sempat tercecer bersamaan berlalunya sang waktu, memulihkan kembali sendi-sendiku yang kaku, dan meregangkan kembali badanku yang seperti diremas-remas oleh tangan-tangan gaib. Namun, apa mau dikata, nasipku tak semujur jokobi yang wajhnya saat ini mondar-mandir dilayarkaca gara-gara mirip jokowi, dan membuatnya mengkodifikasi lagi namanya menjadi jokobi atau jokodin, hahrapanku ketika sampai diklinik “minimal” akan ada sambutan senyuman hangat dan ada orang yang bersedia meneraphyku yang sudah mulai tak bertenaga, aku justru disuguhi dengan pemandangan yang kurang enak, ada sosok yang membuatku sedikit mesti jaga sikap saat ada diklinik, dengan dress warna ungu dipadu padankan dengan krudung coklat, duduk diantara beberapa peserta, mbak zah panggilannya, tak ada yang ku harapkan dari beberapa peserta yang ada, karna tak kutemui sosok bu Tri diantara para peserta, “duh pukulan.... malanng nian nasip hamba-Mu ini?” Dengan sedikit basa-basi, sekedar untuk meringankan rasa sakit yang amat sangat dalam tubuhku, aku minta mba zah memberikan sentuhan pada beberapa titik angin dipunggungku, (aku bukan tipikal orang yang mengandalkan obat-obatan ketika imunitas tubuh mulai berkongsi pada penyakit, termasuk ketika masuk angin, aku biasanya lebih suka menekan pada beberapa titik dibagian pundakku) , namun apa mau dikata, angin dalam tubuhku tak mau keluar, beberapa tekanan yang diberikan mba zah padaku seolah-olah tak memberikan reaksi apapun. Justru yang aku rasakan perut yang semakin mual dan kepala yang semakin pusing, aku memekik, dan muntah untuk yang kesekian kalinnya, lucunya, aku selalu muntah, padahal tak ada makanan yang masuk dalam perutku, saat aku muai masuk angin, tak ada sesuap nasipun yang masuk keperutku, aku sengaja mengosongkan tabunganku yang tak berbunga itu, agar “minimal” mengurangi kadar muntahku dan meminimalisir cape karna harus bolak-balik kamar mandi. Kepala yang semakin pening dengan dukungan perut yang terasa amat sangat mual membuatku tak berminat tersenyum saat bertemu dengan laki-laki lucu dengan gaya tertawanya yang khas, “mas dian” aku memanggilnya, dengan postur tubuh proporsional, didukung tinggi badan yang mencapai sekitar 170Cm dan kulit putih membuat laki-laki ini cukup menarik saat kamu pertama kali bertemu dengannya, dengan potongan rambut satu centimeter, akan menipummu jika kau tak mengenalnya dan minimal pernah nonton tivi dengannya, karna saat itulah kau akan tau sifat aslinya. Tapi untuk kali ini, aku tak berminat untuk mendengarkan kata-katanya yang cukup menghibur dan mengocok perut saat aku dongkol dengan abangnya atau orang sekitar, “ aku lagi gak pengen becanda mas, aku gak enak badan” ucapku sammbil merebahkan badanku yang rasanya amat sangat berat pada kursi hijau yang tak jauh dari tempat mas dian duduk nonton tivi. Mas dian menimpali dengan kekhasannya, yang berhasil membuatku sedikit tersenyum disaat perut mulai berkonfrontasi dengan peningnya kepalaku. Sesaat setelah aku menyimpan kembali senyumku yang mekar karna kekonyolan mas dian, pak tabib muncul dengan teh pegagan ditangannya dan menyodorkan pada mba zah untk menyeduhnya, yang berujung pada kehisterisan mas dian ketika melihat air yang direbus untuk teh pegagan tersebut membludak dan kompor pun mulai meraung-raung kaget, belum reda kegaduhan di dapur, pak tabi datang menegur mas dian agar tidak berisik dan mengecilkan volume tivi yang sejak tadi ditongkrongi mas dian yang ternyata volumenya mencapai 20 (bukan karna mas dian itu tuna rungu yang membuatnya nonton tivi dengan volume sebesar itu, namun, hari itu diruang depan banyak peserta PPH dengan pertanyaan-pertanyaannya mengenai materi PPh yang terdengar cukup keras diruang tengah tempat dimana mas dian sedang asik nonton tivi, yang membuat volume tivi tidak terdengar jelas) untuk kali ini aku ada dipihak mas dian, meski beberapa waktu yang lalu aku sempat mengadukan kenakalannya pada ayahnya. Usai pak tabib puas marah-marah ke mas dian, mas dian memilih untuk keluar dan aku memilih pindah ke kamar praktek untuk istirahat sebentar. Terlalu naif jika tidur disaat para peserta sedang asik mengikuti materi lifting dan bekam estetika, akupun membaurkan diri dengan peserta, meskipun kepalaku terasa amat sangat pening disertai badan yang serasa patah-patah. Aku duduk dipintu kamar terapi karna terjebak macet oleh ulah pak tabib yang duduk dikursi yang ada didepan pintu kamar, pemandangan yang biasa saat aku duduk dibawah pak tabib duduk dikursi tepat didiepan wajahku punggungnya, atau kadang aku harus rela menahan nafas atau mnghirup aroma keringatnya saat beliau duduk dikursi di samping tempatku duduk lesehan. Apa mau dikata, menegurnya tak ada guna, apalagi saat ada harimnya (mba zah). Ketika aku merdeka dari keterpenjaraanku di pintu kamar terapi, aku ikut mba beti dan mba khoir praktek latihan lifting, dengan sesekali menahan rasa sakit dipunggung yang mulai menganga karna tak tersentuh oleh oijatan, dan kepala yang semakin berat karna angin yang tak mau kompromi dengna imunitas tubuhku, aku mengikuti permintaan mba khoir untuk mendampinginya praktek lifting dan jadi fotografernya. Setelah mba beti dan mba khoir selesai praktek lifting, aku merebahkan badanku disamping mba ek yang kebetulan juga seorang peserta PPh, tak lama kemudian bu susi menghampiriku, dan cukup terkejut ketika beliau dapati aku yang terlihat tak ceria denga wajah cukup pucat dan terlihat lelah, beliau mencoba mendekatiku dan menyandrakan badannya di lututku yang aku angakat ketika tiduran disamping mba eka, bu susi, tak lama kemudian muncul bu salma dengan niqab khasnya setelah aku kembali muntah-muntah saat menghirup aroma menyengat dari ruang prakter setelah digunakan ooleh mas sahlan dan kawan-kawan beberapa saat yang lalu, melihat aku yang lesu dengan wajah yang pucat, bu salma memberi isyarat agar aku bergegas kearahnya, akupum tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut, aku langsung duduk beberapa jengkal dari bu salma sembari menunjukan pundakku yang terasa sangat berat, setelah bersalaman dan cipika-cipiki, beliau memberikan beberapa tekanan pada beberapa titik angin dibadanku, setelah itu beliau memijit kedua lenganku sampai panggulku. Bagaikan seorang musafir yang menemukan oase lengkap dengan bilik sebagai palarian untuk melepas lelah, mungkin seperti itu pula yang aku rasakan saat in, sesaat setelah dirileksasi oleh bu salma. Sembari menunggu pak tabbib datang membawa esanan obat bu susi, aku duduk dikursi bawah kipas yang asik berputar menhembuskan nafasnya bagi insan yang bertahta di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar