Kamis, 08 Januari 2015
tugas tasawuf II: kritik teori al-Hallaj
TASAWUF
Al-Hllaj Wahdatul Adyan
Nama lengkapnya Abu Al-Mugis Al-Husain bin Mansur bin Muhammad al-Baidawi. Atau yang karab disapa dengan Al-Hallaj. pengalaman spiritualnya yang sangat dalam, dan syatahatnya yang diluar nalar, dan kekhawairan pemerintah saat itu, akhirnya dia harus menerima hukuman mati karena “kepentingan” politik pemerintah.
Teori Wahdatul Adyan
Dalam beberapa literatur dikatakan bahwa konsep wahdatul adyan muncul sebagai konsekuensi logis dari teori Nur muhammadiyah, dan dialog antar Al-Hallaj dengan Abdullah bin Tahir al-Azdi seperti yang dituliskan oleh Al-taftazani:
Suatu hari aku bertengkar dengan seorang yahudi di pasar baghdad. Dia pun kumaki “hai anjing”. Ketka itu Husain bin mansnur Al-hallaj lewat dan memandangku dengan wajah geram. Dan tegurnya “jangan kau maki anjingmu! Dan dia pun langsung pergi. Setelah pertengkaran itu, kupun mencari Al-Hallaj, namun ketika kutemui, dia memalingkan wajahnya, akupun meminta maaf kepadanya, kemudian katanya: wahai sahabatku, semua agama adalah milik allah, setiap golongan menganut suatu agama tanpa adanya pilihan, bahkan dipilihkan bagi mereka, karena itu, barang siapa menyalahkan apa yang dianut golongan itu, sama dengan dia telah menghukumi golongan tersebut menganut atas upayanya sendiri, yang begini adalah pendapat aliran Qadariyah, dan aliran Qadariyah adalah kaum majusi (penganut agama Zoroaster). Ketahuilah1 agama-agama: yahudi, islam, dll adalah sebutan, serta nama yang berabeka ragam. Akan tetapitujuan semuanya tidak berbeda
Menurut saya, karena tasawuf al-hallaj bercorak falsafi, membuat sebagian orang sulit memahami teori-teorinya, dan rentan penafsiran yang kurang relefan, selain itu, dalam beberapa literatur teori-teori tasawuf Al-Hallaj ada teori yang tidak ada dalam kitab Al-Hallaj yang kemiudian dikembangkan oleh Al-jilli, dalam teori wahdatul Adyan misalnya, ketika saya mendapat tugas Makalah tentang teori nur Muhammad dan wahdatul adyan, saya sempat kebingungan mencari literatur yang dapat meyakinkan saya tentang teori tersebut, ketika saya mecoba diskusi dengan bapak Ahmad Tsauri tentang teori wahdatul adyan yang “masygul” itu, beberapa hari kemudian setelah saya presentasi makalah tentang teori nur muhammad dan wahdatul adyan, beliau sempat menerangkan bahwa kuat dugaan bahwa teori tentang wahdatul Adyan merupakan teori sisipan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, karena bagaimana mungkin Al-Hallaj mengangkat teori tersebut, sedangkan Al-Hallaj menolak penyatuan manusia dengan Tuhannya. Dalam hal ini sangat tidak mugkin Al-Hallaj mengakui tentang penyatuan agama-agama atau yang kerap disebut wahdatul adyan. dalam diskusi tersebut beliau menjelaskan bahwasannya, teori tentang wahdatul adyan tidaklah terdapat dalam kitab Al-hallaj, bahkan dalam tulisan Al-jilli yang menuliskan konsp insane kamilnya Al-HAllaj pun tidak terdapat teori tentng wahdatul adyan.
Sisi positif dari pembelajaran teori al-Hallaj ini ketika mempelajari teori ini kita juga mempelajari tasawuf Al-jilli, karena Al-jilli yang kemudian melanjutkan atau menjabarkan tasawuf Al-Hallaj. selain itu, kita jadi punya referensi tasawuf bercorak falsafi, tidak sebatas tasawuf sunni saja seperti dalam pesantren-pesantren. Jadi wawasan kita tentang tasawuf semakin bertambah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar