Minggu, 04 Januari 2015

psikoneurotik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Diera globalisasi ini, banyak upaya yang dilakukan masyarakat modern dalam bidang pendidikan dan pengajaran untuk mengarah, mendidik dan membimbing generasi muda agar menjadi warga negara yang baik, namun upaya tersebut tak dapat membawa hasil yang diharapkan, banyak kejahatan dan penyimpangan yang tersebar disemua masyarakat merupakan bukti konkret atas kegagalan dan kelemahan pola-pola pendidikan modern dalam membentuk warga negara yang baik. Belakangan ini, muncul beragam psikoterapi bagi individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian dan gangguan kejiwaan, termasuk psikoterapi gangguan kejiwaan melalui pendekatan agama (keimanan). Para psikolog berpendapat bahwa dalam keimanan kepada Tuhan terdapat kekuatan luar biasa yang memberi manusia kekuatan spiritual. Dimana kekuatan tersebut dapat membantu manusia dalam menopang beban kehidupan dan menjauhkannya dari kegelisahan yang dihadapi manusia di era modern ini, dimana manusia dihadapkan dengan era ‘materialistik” yang menggiring manusia kepada persaingan ketat untuk berburu “materi”, disamping itu, manusia membutuhkan “nutrisi” spiritual. Kondisi inilah yang menyebabkan timbulnya banyak tekanan dan ketegangan pada manusia kekinian serta mengantarkannya pada kegelisahan yang memberikan peluang terjangkitnya gagguan kejiwaan (pshiconeurotic) . B. Pokok pembahasan A. Makna kesehatan jiwa perspektif Al-qur’an dan Hadits B. Psikoterapi Menurut Al-Qur’an C. Dzikir sebagai Terapi gangguan kejiwaan BAB II PEMBAHASAN A. Makna kesehatan jiwa dalam perspektif Al-qur’an dan hadits Kelalaian para ahli ilmu jiwa modern terhadap spiritualitas manusia dalam berbagai riset dan studi yang menyangkut persoalan pribadi dan kesehatan jiwa serta faktor yang menjadi batas antara pribadi normal dan abnormal. Menunjukan suatu kelengahan mereka yang terlalu telanjang dalam memahami manusai. Kelalaian tersebut juga menunjukan kurangnya pengetahuan yang memadai dalam memberikan pengertian pada kesehatan jiwa manusia. Padahal kita tidak dapat memahami manusia secara sempurna, jika perhatian kita berkutat pada sisi bioligis dan sosial budaya, tanpa pernah berusaha memahami aspek spiritualnya. a) Keseimbangan kepribadian Manusia mudah terjebak dalam konflik kejiwaan yang dilatar belakangi oleh pertentangan antara tuntunan jasmani dan spiritual. Namun, kami juga menyebutkan bahwa manusia mampu menciptakan kepribadian yang seimbang yang memenuhi masing-masing tuntutan jasmani dan spiritualnya tanpa berlebihan. Hal tersebut dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa islam suatu keyakinan tidak mengakui kependetaan [rubbaniyah] yang melarang memenuhi kebutuhan jasmaniahnya. Islam juga tidak mengakui paham yang serba boleh atau kebebasan yang sebebas-bebasnya, yang membolehkan memenuhi motivasi jasmani secara bebas tanpa kontrol dan nilai moral. Islam menganjurkan rekonsiliasi antara masing-masing kebutuhan jasmani dan spiritual, menepuh jalan tengah yang dapat merealisasikan keseimbangan antara material dan spiritual. b) Kepribadian yang normal dan kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa yang dimaksud dalam hal ini adalah jiwa yang dalam al-qur’an sebagai al-nafs al-muthmainnah [jiwa yang tenang]. Manusia normal adalah seseorang yang memiliki an-nafs al-muthmainnah tersebut. Jiwa ini menitik beratka pada aspek kesehatan dan kekuatan badan, memenuhi kebutuhan dasar dengan cara yang halal, memenuhi kebutuhan spiritual dengan berpegang teguh pada akidah tauhid, mendekatkan diri pada allah SWT dan menjalankan ibadah dan melakukan amalan sholeh dan menjauhkan diri dari keburukan dan segala hal yang dapat menyebabkan Allah SWT murka. Manusia normal adalah seseorang yang selalu menmpuh jalan yang lurus dalam setiap langkahnya, setiap perkataan dan perbuatannya sesuai, dengan di jalan Allah yang sepenuhnya tertuang dalam Al-qur’an dan dikejawantahkan oleh Rosulullah. Pribadi normal dapat dilihat pada kepribadian rosulullah SAW yang telah menyeimbangkan kedua sisi material dan spiritual. Rosulullah adalah manusia biasa. Beliau memenuhi kebutuhan jasmaniahnya pada batas yang disyariatkan.beliau juga memenuhi kebutuhan spiritualnya dengan penuh keikhlasan. 1. Metode islam dalam merealisasikan kesehatan jiwa /mental 1) Metode penguatan dimensi Rohani • Iman kepada Allah SWT. • Tauhid dan penghambaan diri • Taqwa • Ibadah 2) Metode pengontrolan dimensi jasmani • Mengontrol motivasi • Mengontrol emosi 3) Metode pembelajaran beberapa hal penting untuk kesehatan jiwa • Rasa aman • Bersandar pada diri sendiri • Percaya diri • Rasa tanggung jawab • Berani menyampaikan pendapat • Qana’ah dan ridha menyampaikan Qadha dan Qadar • Sabar • Menjalankan aktivitas dengan tekun dan semangat • Memerhatikan kesehatan fisik dan tubuh 2. Indikator kesehatan jiwa dalam perspektif islam Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik beberapa indikator mental yang sehat perspektif Al-Qur’an dan Hadits sebagai berikut: • Hubungan individu dengan Tuhan. • Hubungan individu dengan diri sendiri • Hubungan individu dengan orang lain. secara umum hubungan individu dengan orang lain sangat baik karena ia mencintai dan menyayangi mereka. dengan kata lain ia dalam berhubungan dengan sesama sangat baik, suka menolong, dll • Hubungan individu dengan alam semesta. Sesesorang hendaknya mengetahui hakikat keberadaanya dialam semesta ini sebagai makhluk yang dimuliakan Allah atas makhluk lainnya. B. Psikoterapi Menurut Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, tak hanya menyeru pada keyakinan tauhid, dan mengajari nilai-nilai baru, pola berpikir dan kehidupan yang baru, Al-Qur’an juga membimbing kearah perillaku yang lurus yang mengandung kemaslahatan bagi manusia dan kebaikan bagi masyarakat. Selain itu juga menunjukan pada jalan yang benar dalam rangka membina dan menumbuhkan jiwa secara benar, yang dapat mengantarkan kedalam kesempurnaan insani, sehingga mewujudkan kebahagiaan manusia dalam kehidupan baik di dunia maupun akhirat. Al-Qur’an mengandung daya spiritual yang mencengangkan dan memiliki dampak luar biasa terhadap jiwa manusia. Al-Qur’an dapat menggerakkan afeksi manusia, membakar emosi dan perasaannya, membersihkan rohnya, membangunkan kesadaran dan pikirannya, serta memperjelas pandangannya. Pada kenyatannya, setelah manusia terbuka menerima pengaruh Al-Qur’an, ia pun menjadi insan yang baru, seolah-olah ia diciptakan sebagai manusia yang baru. Meskipun banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat modern dalam bidang pendidikan dan pengajaran untuk mengarahkan, mendidik, dan membimbing generasi muda agar menjadi warga negara yang baik, nmun upaya tersebut tak membuahkan hasil yang diharapkan, maraknya kejahatan dan penyimpangan yang tersebar di semua masyarakat merupakan bukti nyata atas kegagalan dan kelemahan pendidikan modern dalam membentuk warga negara yang baik. Dalam suatu studi kasus, terungkap bahwa para pasien gangguan kejiwaan dari kelompok kontrol yang individu-individunya tak mendapat psikoterapi apapun menunjukan pebaikan yang sama dengan pasien yang mendapat terapi psikologis. Penellitian mengungkapkan pula bahwa beberapa pasien yang mendapat terapi kondisinya malah bertambah buruk, penelitian-penelitian serupa juga menerangkan bahwa rata-rata kesembuhan sebagai hasil dari psikoterapi belum bisa mencapai tingkat yang relevan. Selain itu, tidaklah penting melakukan terapi atas berbagai penyakit kejiwaan setelah terjadi, namun, mencegah justru lebih baik, atau minimal dapat meminimalisirnya. Setelah dalam beberapa penelitian yanng dilakukan oleh para psikiatri, muncul kecenderugan pada para psikolog maupun psikiatri tentang serusn pentingnya agama dalam kesehatan jiwa, serta dalam menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan, kecenderungan tersebut memandang bahwa dalam keimanan kepada Allah terdapat kekuatan luar biasa yang memberi manusia kekuatan spiritual. Dimana kekuatan tersebut dapat membantu manusia dalam memikul beban kehidupan dan menjauhkannya dari kegelisahan yang dihadapi banyak manusia yang hidup pada zaman modern, yang memiliki pandangan “materialistik, sehingga menggiring manusia pada persaingan ketat mengejar materi. Namun dalam waktu yang bersamaan manusia membutuhan “nutrisi” spiritual. Dalam kondisi inilah yang dapat menimbulkan banyaknya tekanan dan ketegangan pada manusia modern yang mengantarkannya pada kegelisahan yang dapat memberikan peluang bagi gangguan kejiwaan (pshiconeurotic). 1.Penyembuhan Al-Qur’an dalam psikoterapi Untuk merubah kepribadian seseorang dan perilakunya, harus diawali dengan mengadakan perubahan pada pikiran dan sikapnya, karena perilaku sangat dipengaruhi oleh pikiran dan sikapnya. Maka dari itu psikoterapi bertujuan mengubah pikiran orang-orang yang menderita gangguan kejiwaan tentang diri mereka, orang lain, kehidupan dan masalah yang sebelumnya memicu kegelisahan pada diri mereka. Ketika pikiran pasien itu berubah sebagai hasil terapi, ia akan lebih mampu menghadapi dan mengatasi problemnya, bahkan ia akan memandang kecil masalah yang menghampirinya serta tak lagi menjadikannya gelisah. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk mengubah pikiran, sikap, dan perilaku manusia dan memberi petunjuk pada umat manusia. Al-Qur’an juga diturunkan untuk membantu manusia dengan pikiran yang baru tentang sifat dan misi manusia dalam kehiduan dan dengan nilai-nilai dan akhlak yang baru serta teladan yang luhur dalam kehidupan. C. Dzikir sebagai Terapi gangguan kejiwaan Setiap penyakit pasti ada obatnya. Hanya kematian yang tidak mungkin ditemukan obatnya. Begitupula dengan HIV Aids, sebenarnya ada obatnya, namun saat ini belu ditemukan saja, seperti halnya zaman dahulu, banyak sekali pennyakit yang belum ditemukan obatnya. Sakit fisik bisa berdampak pada psikis, begitupula sebaliknya, maka dari itu usaha kita menyembuhkannya harus diikuti dengan dzikir dan do’a. nammun dzikir dan doa yang kita gunakan haruslah sesuai dengan dalil (nash), baik dari Al-Qur’an maupun hadits nabi SAW. Kita tak dapat sembarangan menyampaikan dzikir, beitu juga dengan do’a. dizaman Rosulullah SAW, ada seorang badui yang menemui rasulullah SAW,dan bertanya: “Ya rosulullah, sesungguhnya aku memiliki seorang saudara yang sedang dalam keadaan sakit,” rosulullah bertanya:” sakit apa?” badui itu menjawab:” stress ringan” rosulullah:”bawalah saudaramu kesini” lalu sibaduipun membawa saudaranya menghadap Rosulullah SAW. Keudian diletakkan kedua tangan beliau diatas tangannya seraya memohon disembuhkan dari sakitnya dengan perantara (washilah) dzikir dan do’a. Dzikir dan doa mempunyai manfaat yang luar biasa dalam pembentukan mental dan spiritual seseorang dalam menjalankan misinya sebagai khalifah di muka bumi ini, karena pada hakekatnya, Allah tidak memerlukan pemberitahuan dari hamba-Nya, allah tidak rugi bila hambanya tidak berdoa dan berdzikir kepadanya ketika mengalami kesulitan hidup. dan allah tidak lantas kecewa bila hambannya tidak mau memohon pertolongan atas semua penderitaan hidupnya. Semua manfaat dzikir dan doa akan kembali pada hambanya, diantaranya: 1. Manusia membutuhkan sandaran dan tempat mengadu. Ketika manusia merasa dirinya putus asa, merasa tidak ada lagi yang sanggup menolongnya, maka ia akan mencari tempat mengadu, tempat sandaran, tempat yang mampu memberikannya kekuatan untuk bangkit dari keputus asaan. Untuk bangun dari keterpurukan. Bila seseorang tak mendapatkan tempat mengadu, maka ia akan semakin terpuruk, stress, depresi bahkan sakit jiwa merupakan kasus-kasus yang muncul akibat keputus asaan dan tidak mendapat tempat mengadu yang semestinya. 2. Doa tidak sekedar memohon ketika mengalami musibah ataupun kesulitan hidup. Doa dan dzikir juga dimaksudkan sebagai sarana untuk memohon kepada Allah untuk meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat melakukan segala tugas yang dipikulnya dengan baik dan benar. 3. Secara fitroh, seseorang ingin senantiasa sukses dan berhasil didalam hidupnya, ia ingin apa yang ia Rencanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Manusia membutuhkan penangkal marabahaya yang akan menghancurkan segala impian dan harapannya. Disini, Doa dan dzikir mutlak perlu sebagai sarana untuk memohon perlindungan dari marabahaya tersebut. Fadhilah doa dan dzikir 1. Allah akan ingat kepada hamba yang ingat kepada-Nya.(QS.Al-Baqarah:152) 2. Berdoa adalah anjuran Allah. (QS.Al-mu’minun:60) 3. Doa merupakan ibadah. (HR.Tirmidzi dan Ahmad dari nu’aim bin Basyir) 4. Berdzikir kepada Allah termasuk merupakan amalan yang paling utama disisi Allah. Bahkan lebih utama daripada menginfaqkan emas dan perak atau jihad dijalan Allah. Karena dzikir merupakan media komunikasi antara hamba dengan tuhannya yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dengan berdzikir seorang hamba merasa sangat dekat dengn Allah dan merasa selalu dalam lindungannya. 5. Doa dan dzikir merupakan sunnah para nabi dan rosul, dan merupakan amalan utama para wali Allah dan orang-orang saleh. Orang yang enggan berdoa dan malas berdzikir, berarti telah menempuh jalan orang-orang yang sombong dan dimurkai Allah.(QS.Al-Anbiya’:60) 6. Dzikir merupakan obat yang paling mujarab. Allah berfirman: الذىن امنو وتطمئن قلوبهم بذكرالله. الا بذكرالله تطمئن القوب “orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Rasulullah SAW menyatakan bahwa Dzikrullah adalah obat hati, pada saat seorang muslim menyinambungkan dzikrullah, ia akan merasa dekat kepada Allah SWT, serta merasa berada dalam perlindungan dan penjagaanNya, hal tersebu akan membangkitkan rasa percaya diri, aman, tentram dan bahagia. Ibn Qayim Al-jauziyah dalam kitabnya, Al-Wabilus Shayyib menjelaskan”dzikir dalam konteks sebagai obat hati dapat menghadirkan ketenangan dan ketentraman, menghilangkan depresi, keresahan, kegundahan dan kesedihan. Orang yang berdzikir akan merasakan kehadiran Allah dalam hatinya, ia menyadari bahwa Allah senantiasa bersamanya, mengawasinya, melindunginya dan menaunginya dengan rahmat-Nya. Dengan demikian, ia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak patut, ia tidak khawatir dengan munculnya bala dan bencana., karena Allah melindunginya stiap saat. Ia tidak akan sedih dan berduka bila menemui kegagalan, karena ia yakin Allah akan memberi gantinya dengan yang lebih baik. Orang yang menjadikan dzikir sebagai nafasnya, akan memiliki rasa optimisme yang besar dalam menatap masa depan dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam meyikapi berbagai persoalan hidup. Karena pada hakekatnya ia memiliki “teman” yang dapat diandalkan dalam segala keadaan, yakni Allah SWT. Berdzikir kepada Allah SWT dapat membangkitkan semangat hidup manusia, menguatkan keinginan untuk menggapai ampunan dan keridhoan Allah SWT, meciptakan kelapangan dada, dan kebahagiaan jiwa. Diriwaytkan oleh Abu musa al-Asy’ari RA, bahwa Rosulullah SAW pernah berkata seperti yang diriwayatkan oleh syaikhan (nawawi, jilid 2,hadits no. 28/1435). Hakekatnya, semua ibadah adalah dzikir atau menunjang dzikir. Ketika shalat seseorang bertakbir kepada Allah SWT, membaca Al-Qur’an, bertasbih kepada Allah sambil rukuk dan sujud, memuji dan menyanjung Allah, serta berhalawat kepada nabi Muhammad SAW, kemudian diakhiri dengan istighfar, tasbih, takbir dan tahmid, dan kemudian berdoa kepada Allah, semua itu adalah dzikir. Begitupula dalam ibadah yang lain, seperti puasa dan haji. Seseorang yang ingin mendapatkan kemudahan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, tidaklah cukup dengan berdzikir setelah shalat saja, namun juga dianjurkan untuk banyak berdzikir diluar shalat. Hal ini dilakukan dengan memperbanyak tasbih, takbir, memohon dan berdoa mendekatkan diri kepada Allah SwT melalui berbagai ibadah, membaca al-Qur’an, wirid, dan doa akan meningkatkan keimanan dalam qolbu, serta menambah perasaan damai serta tentram dalam jiwa. Dengan dzikir segala sesuatu dapat terpenuhi, dengan dzikir pula segala sesuatu dapat terwujud, dengan dzikir seseorang jadi dekat denga Allah, mengantarkan seseorang pada ma’rifatullah , dan siapa yang menganal Allah ia akan mengenal hikmah. Untuk dapat mencapai hal itu harus melalui jalan spiritual yang ditempuh dengan dzikir, karena dzikir ibarat pohon yang akarnya teguh dan cabangnya menjulang kelangit. Agar dzikir dan do’a kita kemungkinan diijabahi oleh Allah, maka kita harus berusaha memenuhi beberapa persyaratannya, yaitu: 1. Suci dari dosa dan najis 2. Mengawali do’a dan dzikir dengan Basmalah dan diikuti dengan shalawat kepada rasulullah disertai kekhusyu’an 3. Sebaiknya dzikir dan doa dilakukan setelah shalat, baik shalat sunnan maupun shalat wajib 4. Sikap mental kita penuh dengan keyakinan akan diijabah oleh Allah. 5. Menghadap kiblat dan pada waktu yang mustajab 6. Konsisten, antara ucapan dan tindakan. Konsekuensi logis dari berdzikir pada Allah yaitu menjauhkan diri dari sifat lalai kepada Allah, karena lalai kepada Allah yang akan membuat seseorang berbuat maksit, yang akan menimbulkan keresahan, yang dalam ilmu psikologi disebut mengalami gangguan kejiwaan (psichoneurotik) sedangkan dengan berdzikir akan meninggalkan maksiat. Salah satu manfaat berdzikir adalah untuk menarik energi positif atau energi dzikir yang bertebaran diudara agar energi dzikir dapat masuk tersirkulasi keseluruh bagian tubuh pelaku dzikir. Manfaat utama energi dzikir pada tubuh adalah untuk mejaga keseimbangan suhu tubuh, agar tercipta suatu suasana kejiwaan yang tenang, damai dan terkendali. Hal yang demikian akan berpengaruh pada kualitas ruh kita. Dzikir mempunyai posisi tersendiri dalam islam, seistimewa yang diingat. Dzikir menjadi media bagi terapi jiwa, berawal dari kenyataan masyarakat modern, khususnya masyarakat barat yang dapat digolongkan sebagai the post industrial society yang justru mendapat kenyataan yang bertolak belakang dari apa yang diharapkan. Mereka yang mencapai titik puncak kepuasan materi, malah dihinggapi rasa cemas sehingga tanpa disadari integritas kemanusiaannya tereduksi, dan terperangkap pada jaringan sistem rasonalitas teknologi yang sangat tidak manusiawi. Akibatnya mereka tak mempunyai pegangan hidup yang mapan. Lebih parah dari itu muncul dekadensi moral dan perbuatan brutal serta tindakan yang sangat menyimpang. Dalam kenyataannya, filsafat rasionalitas tak mapu memenuhi kebutuhan pokok mnausia dalam aspek ilai transedental. Manusia mengalami kehampaan spiritual, yang menunculkan gangguan kejiwaan. Islam sebagai agama yanng membawa rahmat bagi alam semesta, menawarkan konsep dikembangkannya nilai-nilai ilahiyah dalam batin seseorang. Dengan shalat dan dzikir misalnya yang dapat menjadi malja’ (tempat berlindung) ditengah-tengah badai kehidupan modern. Dan disinilah misi islam sebagai penyejuk hati manusia. Islam dengan prinsip tauhidnya mengutamakan integritas diri, Allah adalah satu, manusia diciptakan harus terpadu dan menyatu, baik dalam pikiran maupun perilaku sehari-hari. Pusat hidup dan poros penyatuan dan integritas itu disebut dzikir. BAB III IMPLIKASI Setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali kematian, jika saat ini HIV bellum ditemukan obatnya, bukan berarti tidak ada obatnya, hanya saja belum ditemukan. Begitupula dengan gangguan kejiwaan (psikoneurotik) yang dalam makalah ini penullis mebcoba menawarkan dzikir sebagai solusi bagi terapi psikoneurotik. Dzikir merupakan salah satu bentuk ibadah makhluk kepada Allah, salah satu manfaatnya adalah untuk menarik energy positif(energy dzikir) yang bertebaran diudara agar energy dzikir dapat masuk tersrkulasi keseluruh bagian tubuh pelaku dzikir, dzikir mempunyai manfaat yang sangat besar bagi tubuh, salah satu manfaat utama energi dzikir pada tubuh adalah untuk menjaga keseimbangan suhu tubuh. Agar tercipta suasana kejiwaan yang tenang damai dan terkendali. Namun, agar dzikir dan doa dapat diijabah (dikabulkan) kita harus memperhatikan tatakrama sebelum dan saat berdzikir seperti yang penulis kutip dari buku karya prof.Amin Syukur yang dalam pembahasan makalah ini sudah dibahaskan dalam BAB II halaman 10-11. DAFTAR PUSTAKA Amin Syukur M, Zikir Menyembuhkan Kankerku: pengalaman Kesembuhan Seorang Penderita Kanker Ganas yang divonis memiliki kesempatan Hidup Hanya Tiga Bulan ,cet, III. Bandung: Hikmah,2008 M/ 1429 H Kartono kartini, Patologi Sosial 3 : Gangguan kejiwaan,cet,III. Jakarta:PT,Raja Grafindo Persada.2002 Khalilurrahman M Al-mahfahani, Keutamaan Do’a & Dzikir untuk Hidup Bahagia dan Sejahtera. Jakarta:PT Wahyu Media, TT Utsman Muh, Najati, Psikologi dalam perspektif Al-Qur’an: terapi qur’ani dalam penyembuhan Gangguan kejiwaan,terjemahan M zaka Al-Farisi,Cet.I.Bandung: Pustaka Setia,2005 Tadjul Arifin, Shohibul Wafa, Miftahussudur:Kunci Pembuka Hati, terjemahan Anding Mujahidin.jakarta:PT.Laksana Utama,TT Luthfi bin Yahya,Muhammad, Secercah Tinta: Jalinan Seorang Hamba Dengan Sang Pencipta, Cet,II. Pekalongan:Menara Publisher,2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar