Selasa, 25 November 2014
kesehatan mental
Pengukuran-pengukuran kepribadin
Melakukan pengukuran kpribadian seseorang, padda dasarnya bertujuan mengetahui corak kepribadiannya scara tepat dan terinci. Dengan demikian, pemahaman kita terhadap orang tersebut menjadi lebih sempurna.
Ada beberapa macam untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Diantaranya:
1) Observasi direk
Observasi direk berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai sasaran khusus, sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek. Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya iindikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak merencanakan untuk memilih waktu.
Ada beberapa metode observasi direk yaitu: (a) type sampling. Dalam time sampling methode, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu tertentu. Periode tersebut mmungkin hanya beberapa menit, mungkin hanya beberapa detik, atau bisa jaadi beberapa jam tergantung pada tingkahlaku atau indikator ciri-ciri yang hendak diselidiki. Distribusi waktunya pun beragam, bisa dalam kurun waktu sehari, namun ada juga yang membutuhkan waktu berhari-hari, atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada subjek yang diselidiki (b) inciden sampling. Dalam hal ini. Sampling dipilih dari berbagai tingkah laku, sedangkan dalam time sampling dipilih dari berbagai situasi. Observasi yang digunakan mungkin yang dituis dari ibu-iibu tantang anaknya, khuhs pada waktu menangis, mogok makan, dsb. Dalam pencatatan tersebut, hal-hal yang menjadi perhatian adalah tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikutnya setelah respoon (c)metode buku harian kontrol. Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tigkah laku yang khusus yang hendak diselidiki oleh yang bersangkutan.
2) Wawancara (interview)
menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka dan berbicara dari hati kehati dengan orang yang dinilai.
Dalam hal ini, tes interview diklasifikasikan lagi menjadi dua: stress interview dan Exhaustive interview
3) Tes proyektif
Cara lain untuk mangukur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes proyektif. Orang yang dinilai akan memproyeksikan pribadinya melalui gambar atau hal-hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif ini pada dasarnya memberikan peluang pada testee (orang yang dites) unutuk bebas dalam memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan: tidak ada benar atau salah, semua makna diartikan benar semua, diasmsikan sesuai dengan kepribadian atau minatnya, karena dalam tes proyektif tujuan sesungguhnya (hndak mengungkap apa) yang disamarkan.
Jika kepada subjektif diberikan tugas yang menuntut penggunaan imajinasi, kita dapat menganalisis hasil fantasinya untuk mengetahui cara ia merasa berfikir. Jika melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya, memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif.
Tes proyektif ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
a) Tes Rorschach.
Tes yang dikembangkan oleh seorang dokter psikiatrik Swiss, Herman Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas 10 kartu, yang masingmasing menampilkan bercak tinta yang agak kompleks. Sebagian tinta itu berwarna: sebagian lagi hitam-putih, kemudian kartu-kartu tersebut diberikan kepada mereka yang dalam fase percobaan dalam urutan yang sama, dan kemudian mereka diminta untuk menceritakan yang tergambar dalam kartu tersebut dibalik tinta yang terlihat oleh mereka, dan sipeneliti mencatat semua uraian subjek tes kemudian membicaran jawaban itu dengan para subjek itu, untuk mengetahui bagian mana dari noda-noda tinta yang mereka pergunakanpada setiap jawaban, dan bagaimanamereka memandangnya. Meskipun noda-nooda tersebut secara objektif sama bagi semua peserta, namun jawwabannya berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang dalam ppercobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Maka dari itu, percobaan rooschach disebut percobaan proyektif . analisis dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai susunan kepribadiannya.
Meskipun banyak yang mengecam percobaan ini, namun banyak pula yang membelanya. Beberapa ahli antropologi misalnya, menganggap bahwa nilainya dalam penelitian kebudayaan dan kepribadian diragukan, dan hanya menghabiskan banyak waktu yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk usaha lapangan lain yang lebih berguna. Namun penelitian ini sangat berpengaruh dalam keribadian dan kebudayaan. Salah satunya ahli antropologi.
b) Tes apersepsi Tematik (thematic Apperception Test/TAT)
Tes apperception teatic (TAT) dikembangkan di Hardvard university oleh Henry murray pada tahun 1930-an, TAT mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-lukisan, sebagian lagi terlihat menggunakan ilustrasi buku atau majalah-majalah. Dalam tes ini, para peserta dimintai unntuk membuat cerita mengenai latar belkang dari kejadian yang menghasilkan adegan dari setiap gambar, tentanng pemikiran dan perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar itu, dan bagaimana episode itu akan berakhir. Sedangkan untuk tes yang menggunakan kartu, tes tersebut sebagian diberikan pada kaum pria, dan sebagian pada kaum wanita, sebagian diberikan pada anak-anak dan sebagian lainnya diperlihatkan pada semua peserta.
Ada gambar yang dimaksud untuk memancing cerita-cerita mengenai hubungan seorang pria dengan seorang yang berwajah ibu, yang menjadi tokoh ayah, atau dengan teman wanita, dengan pekerjaan dan ambisi, dan teman-teman lain. Dalam membuat cerita tersebut, sukar bai yang bersangkutan untuk mengungkapkan sedikit riwayatnya. Dia cenderung mengemukakan nilai-nilainya, sikapnya, serta aspirasinya. Dari cerita-cerita ini, dapat dianalisis utuk melihat tema yang timbul berulang-ulang, tema yang agak lain dari yang biasa, macam-macam konflik yang dipaparkan, begitu pula penyelesaiannya.
TAT pada dasarnya, ditunjukkan untuk mangungkapkan tema dasar yang terjadi dalam produk imajinatif subjek. Apersepsi adalah kesiapan untuk menghayati dalam cara tertentu berdasarkan pengalaman sebelumnya. Orang yang menginterpretasikan gambar Ambigous menurut apersepsinya dan menuraiikan cerita dalam tema yang disukainya yang mencerminkan fantasinya. Menurut Atkinson, jika masalah tertentu mengganggu subjek, hal itu mungkin jelas dalam sejumlah cerita atau dalam penyimpangan yang jelas dari tema lazim dalam satu atau dua cerita.
4) Inventori kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuosioner ini mirip wawancara terstruktur dan ia menanyakan pertanyyan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, sering kali dengan bantuan komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, invesntori kepribadian mungkin dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya:tingkat kecemasan) atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan.
Inventori kepribadian yang terkenal dan banyak digunakan untuk menilai kepribadian seseorang, antara lain:
a. Minnesota Multiphasic personality inventory (MMPI) dalam tes ini, ada sekitar 550 pertanyaan tentang sikap, reaksi, emosional, gejala fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjekcukup menjawab tiap pertanyaan dengan “benar / salah”. Atau “tidak dapat mengatakan”. Contoh: “saya tidak pernah melakukan hal yang berbahaya untuk merasakan tantangannya” / “saya jarang melamun”
Mmpi dikembangkan guna mendiagnosa gangguan kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan sifat kepribadian tertentu dan merumuskan berbagai pertanyaan untuk mengukurnya, namun memberikan ratusan pertanyaan tes untuk mengelompokan individu. Tiap kelompok berbeda dari normalnya menurut kriteria tertentu.misalnya kelopok kriteria yang terdiri atas pasien yang telah dirawat dengan gangguan paranoid / kelompok kontrol terdiri atas orang yang belum pernah didiagnosis menderita masalah psikiatrik namun mirip kelompok kriteria dalam hal usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan variable penting lain.
b. Rorced-Choise inventories (inventori pilihan-paks)
Rorced-Choise invintories atau inventori pilihan paksa termasuk klasifikasi tes yang valunter.
c. Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament scale)
Menurut teori ini kepribadian memiliki enam komponen, yang lebih banyak bertolak dari keragaman abnormal, yaitu : schizoid Autistik, mempeunyai tendensi tak konsisten, berpikir lebih mengarah pada khayalan. Schizoid paranoid, mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa dirinya penting, cycloid manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar. Cycloid Depress, emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme. Hysteroid,ketunaan watak terbatas dengan tendensi kriminal. Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar